Back

Strategis OCBC menilai rebound USD/TWD berpotensi memudar, seiring penguatan dolar dan sikap risk-off berlanjut di tengah kebuntuan AS-Iran

Strategis OCBC, Sim Moh Siong dan Christopher Wong, melaporkan pemulihan teknikal pada USD/TWD, yang mereka kaitkan dengan penguatan Dolar AS secara luas serta sikap menghindari risiko (risk aversion: pelaku pasar cenderung menjauhi aset berisiko saat ketidakpastian meningkat) akibat kebuntuan gencatan senjata AS-Iran.

Mereka menilai pergerakan ini sebagai *squeeze* jangka pendek (squeeze: penguatan cepat karena posisi pelaku pasar yang “terjebak”, misalnya banyak yang sudah memasang posisi jual lalu terpaksa menutupnya), sejalan dengan pola *falling wedge* (falling wedge: pola grafik dengan dua garis tren menurun yang menyempit, sering dianggap memberi sinyal potensi pembalikan naik dalam jangka dekat). USD/TWD terakhir di 31,57.

Level Kunci dan Pengaturan Teknikal

Mereka menetapkan resistensi di 31,60 (rata-rata pergerakan 100 hari/100-day moving average: rata-rata harga 100 hari untuk melihat tren) dan 31,75 (rata-rata pergerakan 21 dan 50 hari: acuan tren jangka pendek-menengah). Support berada di 31,40/45, 31,20 (terendah 2026), lalu 30,90 (rata-rata pergerakan 200 hari: acuan tren jangka panjang).

Mereka tetap lebih memilih menjual saat terjadi kenaikan (sell into rallies: memanfaatkan penguatan harga untuk mengambil posisi jual). Alasannya, ada arus dana asing masuk ke saham Taiwan, ditambah keterkaitan kembali dengan siklus teknologi, dengan korelasi bergulir 30 hari (30-day rolling correlation: ukuran keterkaitan yang dihitung bergerak dari waktu ke waktu) antara TWD dan TWSE berada di atas 0,90.

Mereka menambahkan, bila ketegangan geopolitik mereda dan Dolar AS melemah, Dolar Taiwan berpeluang menguat. Mereka juga menyoroti kuatnya momentum ekspor yang didorong AI (AI: kecerdasan buatan).

Posisi Pasar dan Pendorong Makro

Kenaikan terbaru USD/TWD dinilai sebagai *squeeze* jangka pendek, didorong Dolar AS yang lebih kuat dan kehati-hatian pasar terkait situasi AS-Iran. Pasar kini hanya memperkirakan peluang 40% pemangkasan suku bunga The Fed pada Juni, sehingga Dolar AS bertahan tinggi untuk sementara. Pemulihan teknikal ini sudah diperkirakan dan dinilai membuka peluang.

Meski menguat, mereka tetap memilih menjual pada reli ini. Area resistensi kunci untuk mencari peluang jual berada di sekitar rata-rata pergerakan 100 hari di 31,60 dan lebih tinggi di dekat 31,75. Narasi fundamental penguatan Dolar Taiwan dinilai masih kuat, sehingga pelaku pasar derivatif (derivatif: instrumen turunan seperti opsi/kontrak berjangka) dapat mempertimbangkan menjual opsi beli (call option: hak membeli pada harga tertentu) atau memasang posisi turun (bearish: bertaruh harga akan melemah) di area tersebut.

Dukungan terhadap TWD dinilai sangat kuat, terlihat dari tingginya korelasi antara mata uang dan Bursa Efek Taiwan. Komisi Pengawas Keuangan Taiwan (Financial Supervisory Commission) baru mengonfirmasi arus dana asing bersih (net foreign inflows: dana masuk asing setelah dikurangi dana keluar) melampaui US$15 miliar pada kuartal I 2026. Tren ini menunjukkan modal global mengejar kepemimpinan teknologi Taiwan.

Arus modal ini dinilai selaras dengan siklus ekspor yang terdorong AI. Data terbaru dari Kementerian Keuangan menunjukkan ekspor komponen elektronik Taiwan melonjak 22% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year: dibanding periode yang sama tahun lalu) pada Maret 2026. Momentum ini, yang dipicu permintaan AI global, pada akhirnya dapat mendorong TWD menguat.

Mereka melihat pola serupa sepanjang paruh kedua 2025, ketika TWD menguat setiap kali kekhawatiran geopolitik mereda. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi opsi (opsi: kontrak yang memberi hak membeli/menjual pada harga tertentu) untuk bersiap pada potensi penguatan TWD dalam beberapa bulan ke depan, agar bisa memanfaatkan saat sentimen menghindari risiko mereda dan penguatan Dolar AS memudar.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Ekonom DBS Samuel Tse Kaitkan Penguatan Kemiringan Kurva Imbal Hasil Yuan (CNY) dengan Gencatan Senjata AS-Iran dan Pertumbuhan PDB China Kuartal I yang Tangguh

Suku bunga Yuan China (CNY) naik lebih curam selama sepekan terakhir, terkait gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta awal tahun yang lebih kuat dari sisi makro (gambaran ekonomi umum). Ekonomi China tumbuh 5% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I, ditopang permintaan eksternal dan pemulihan aktivitas industri.

Purchasing Managers’ Index (PMI/Indeks Manajer Pembelian—indikator cepat untuk melihat ekspansi atau kontraksi sektor manufaktur; angka di atas 50 berarti ekspansi) diperkirakan 50,3 pada April, seiring penguatan indikator berfrekuensi tinggi (data yang terbit harian/mingguan). Pemanfaatan cement clinker (klinker semen—bahan setengah jadi untuk membuat semen) dan electric furnace utilisation (tingkat pemakaian tungku listrik di pabrik baja) masing-masing naik 2,4 poin persentase (ppt) dan 1,0 ppt, sementara tingkat operasi meningkat di pabrik baja besar.

Energy Shock Concentrated In Select Sectors

Dampak guncangan minyak sejauh ini terutama terkonsentrasi di industri terkait energi. Tingkat operasi pabrik aspal berbasis minyak (petroleum asphalt) turun, sementara PTA load rates (tingkat pemakaian kapasitas PTA/Purified Terephthalic Acid—bahan baku utama polyester/serat dan botol plastik) turun dari 89,4% pada Maret menjadi 75,7% pada April (bulan berjalan).

Permintaan obligasi di pasar dalam negeri (onshore—diperdagangkan di China daratan) tetap kuat. Nilai transaksi Northbound Bond Connect (jalur perdagangan yang memungkinkan investor luar negeri membeli obligasi daratan) mencetak rekor CNY1,22 triliun pada Maret, dengan rata-rata volume harian di level tinggi CNY55,6 miliar.

Arus dana di pasar luar negeri (offshore—di luar China daratan) juga berlanjut. Data EPFR (penyedia data arus dana fund) menunjukkan reksa dana obligasi China mencatat arus masuk USD1,6 miliar pada pekan pertama April.

Secara keseluruhan, momentum pertumbuhan dinilai stabil namun tidak merata, sehingga mendukung kebijakan yang terukur. People’s Bank of China (PBoC/Bank Sentral China) diperkirakan mempertahankan sikap akomodatif (mendukung pertumbuhan) melalui operasi likuiditas (penyediaan dana di pasar uang), tanpa pemangkasan suku bunga besar.

Policy Stance And Market Positioning

Secara historis, kurva imbal hasil CNY (yield curve—grafik yang menunjukkan perbedaan imbal hasil obligasi dari tenor pendek hingga panjang) pernah menjadi lebih curam pada periode yang sama di 2025 setelah rilis pertumbuhan kuartal I sebesar 5%. Penguatan ini ditopang aktivitas industri yang tahan banting dan persepsi meredanya ketegangan geopolitik. Periode itu menjadi sinyal adanya kekuatan ekonomi yang mendasari.

Saat ini, situasinya lebih beragam karena pertumbuhan kuartal I 2026 China sedikit lebih lemah di 4,8%, sedikit di bawah target resmi. Namun PMI manufaktur resmi untuk April bertahan di 50,4 (zona ekspansi), menandakan inti sektor industri tetap stabil. Ini menunjukkan daya tahan berlanjut meski laju ekonomi melambat dibanding puncak tahun lalu.

PBoC kembali menegaskan ekspektasi kebijakan yang terukur, seperti pada 2025. Mereka menahan suku bunga pinjaman utama (key lending rates—patokan bunga kredit) bulan ini sambil memastikan likuiditas memadai melalui operasi pasar. Langkah ini menjaga bagian depan kurva suku bunga (front end—tenor pendek) tetap stabil dan mencegah pengetatan pendanaan mendadak (funding squeeze—sulit/mahalnya pinjaman jangka pendek).

Meski permintaan obligasi onshore tetap kuat, arus masuk offshore tidak sebesar lonjakan pada Maret 2025. Data kuartal I 2026 menunjukkan arus masuk asing lebih moderat, dengan investor luar negeri memegang CNY3,9 triliun obligasi onshore pada akhir Maret. Ini mengindikasikan investor global lebih selektif, sehingga tekanan penurunan pada imbal hasil jangka panjang (long-term yields) bisa berkurang.

Dengan preferensi bank sentral pada stabilitas, volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan volatilitas dari harga opsi) pada yuan kemungkinan tetap rendah di sekitar 3,8% untuk opsi 3 bulan. Menjual straddle atau strangle USD/CNY berjangka pendek (strategi opsi: straddle menjual opsi call dan put di harga yang sama; strangle menjual call dan put di harga berbeda) untuk mengantongi premi (premium—biaya/imbalan dari transaksi opsi) bisa menarik dalam kondisi ini. Pengelolaan nilai tukar yang ketat membatasi risiko pergerakan besar yang tidak terduga.

Kombinasi PBoC yang stabil dan pertumbuhan jangka panjang yang melambat mendukung kurva yang makin curam secara bertahap. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi payer pada swap suku bunga CNY bertenor panjang (interest rate swap—kontrak tukar arus bunga; payer berarti membayar bunga tetap dan menerima bunga mengambang) sambil menerima pada tenor lebih pendek (receiving—menerima bunga tetap). Posisi ini diuntungkan jika suku bunga jangka panjang naik relatif terhadap suku bunga jangka pendek, mencerminkan kondisi ekonomi yang tidak merata.

USD/CHF, setelah tertolak di SMA 100 hari, naik 0,35% secara mingguan ke 0,7841, dengan target 0,7800

USD/CHF turun pada Jumat, tetapi menutup pekan dengan kenaikan lebih dari 0,35%, diperdagangkan di 0,7841. Pergerakan ini terjadi karena keyakinan meningkat bahwa pembicaraan AS-Iran bisa berlanjut kembali pada akhir pekan.

Gambaran teknikal mengarah ke fase konsolidasi di kisaran 0,7800-0,7900. Relative Strength Index (RSI)—indikator momentum untuk mengukur kekuatan tren dan potensi jenuh beli/jenuh jual—bersifat bearish dan cenderung turun, yang menandakan potensi pelemahan lanjutan.

Level Teknikal Kunci

Pasangan ini sempat menyentuh tertinggi sembilan hari di 0,7877, namun laju kenaikan kemudian melambat. Harga ditutup dekat SMA 50 hari di 0,7840—rata-rata pergerakan sederhana 50 hari yang sering dipakai untuk membaca arah tren—dan tidak mampu menembus area resistance SMA 100 hari di 0,7863 (SMA 100 hari kerap menjadi hambatan dinamis saat harga mencoba naik).

Jika pasangan melemah, 0,7800 menjadi support pertama (support adalah area yang biasanya menahan penurunan). Di bawah itu, perhatian beralih ke terendah 17 April di 0,7775, lalu level log harian 10 Maret di 0,7748 (level berbasis skala logaritmik yang membantu membaca pergerakan persentase), dan terendah 27 Februari di 0,7672.

Jika SMA 100 hari berhasil direbut kembali, resistance terlihat di 0,7900. Penembusan di atas 0,7900 akan membuka peluang menuju SMA 200 hari di 0,7936 (patokan tren jangka panjang), disusul 0,8000.

Pertimbangan Strategi Opsi

Pendorong utama adalah perbedaan arah kebijakan The Fed dan Swiss National Bank. Inflasi AS masih sulit turun, dengan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) Maret 2026 naik 3,1% secara tahunan, sehingga The Fed memberi sinyal suku bunga “lebih tinggi lebih lama” (artinya suku bunga dipertahankan tinggi lebih lama). Prospek ini terus menopang dolar AS.

Sebaliknya, Swiss National Bank termasuk yang lebih awal memangkas suku bunga bulan lalu, merespons inflasi domestik yang turun ke 1,0%. Perbedaan kebijakan ini memberi dorongan kuat bagi USD/CHF sepanjang awal 2026. Kami menilai selisih suku bunga ini tetap menjadi tema utama dalam beberapa pekan ke depan.

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan dari aset acuan seperti valas), hal ini mengindikasikan posisi long (bertaruh harga naik) masih menarik. Membeli call option (opsi beli, hak membeli di harga tertentu) dengan strike di sekitar 0,9200 bisa memanfaatkan potensi kenaikan lanjutan jika tren berlanjut. Level ini dinilai sebagai resistance psikologis dan teknikal.

Namun, risikonya perlu diperhatikan karena pasangan ini sudah naik besar tahun ini. Membeli protective put (opsi jual sebagai perlindungan) dengan strike dekat 0,9050 dapat menjadi lindung nilai (hedging) jika terjadi pembalikan mendadak akibat perubahan sinyal bank sentral atau meredanya ketegangan geopolitik global. Strategi ini membatasi risiko turun sambil tetap memberi peluang jika harga lanjut naik.

Dalam kondisi saat ini, kami memperkirakan implied volatility (volatilitas tersirat, ekspektasi pasar atas besarnya pergerakan harga yang tercermin pada premi opsi) dapat meningkat menjelang pertemuan bank sentral berikutnya. Ini bisa membuat strategi opsi yang diuntungkan oleh pergerakan besar, seperti long straddle (membeli call dan put sekaligus pada strike dan jatuh tempo yang sama), menarik bagi yang memperkirakan harga keluar tegas dari kisaran terbaru. Kuncinya adalah memantau pernyataan bank sentral dengan saksama.

MUFGLloyd Chan catat USD/IDR cetak level tertinggi baru, didorong kepercayaan domestik dan ketidakpastian fiskal, melampaui penguatan dolar

USD/IDR mencetak rekor tertinggi baru di sekitar 17.300, di atas perkiraan sebelumnya yang memperkirakan stabil di kisaran 17.000. Kenaikan ini terutama dikaitkan dengan guncangan kepercayaan di dalam negeri dan meningkatnya ketidakpastian fiskal (risiko terkait kebijakan anggaran negara, defisit, dan pembiayaan), bukan karena penguatan dolar AS secara luas.

Risiko kenaikan dalam jangka pendek melebar karena sentimen tetap rapuh. Pasar disebut memasukkan premi risiko yang lebih tinggi (tambahan “biaya” yang diminta investor untuk menanggung risiko Indonesia), sementara harga minyak masih tinggi dan kondisi fiskal serta energi dinilai tidak mendukung.

Pada saat yang sama, ukuran valuasi menunjukkan rupiah dinilai murah terhadap dolar AS, dan indikator teknikal menempatkan USD/IDR di wilayah jenuh beli (overbought: harga naik terlalu cepat sehingga berisiko terkoreksi). Reaksi kebijakan Bank Indonesia (BI) dapat membatasi pelemahan lebih lanjut, mengingat fokusnya pada stabilitas rupiah.

Lebar CDS (credit default swap) Indonesia—indikator biaya asuransi gagal bayar utang negara—tidak menunjukkan lonjakan besar yang biasanya terkait dengan hilangnya “jangkar” makro (acuan kepercayaan pasar seperti disiplin fiskal dan kebijakan yang konsisten). Artikel ini menyebutkan dibuat dengan bantuan alat AI dan ditinjau editor.

Kenaikan tajam ini mendorong volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin dari harga opsi) tenor satu bulan pada opsi USD/IDR jauh di atas rata-rata 12 bulan, kini sekitar 9,5%. Ini menunjukkan pasar memperkirakan pergerakan besar dalam beberapa pekan ke depan. Trader dapat mempertimbangkan strategi yang dapat mengambil manfaat dari volatilitas tinggi ini atau dari potensi penurunannya nanti.

Kami melihat episode serupa, namun lebih ringan, pada pertengahan 2025 ketika kekhawatiran fiskal mendorong pasangan ini menuju 16.800. Intervensi tegas BI saat itu memicu pembalikan tajam, mengingatkan bahwa melawan bank sentral bisa menjadi posisi yang berisiko. Meski situasi saat ini terasa lebih serius, preseden tersebut menunjukkan koreksi cepat masih mungkin terjadi.

Perak naik tipis usai rebound dari US$73,95, seiring pembicaraan Washington–Teheran kembali bergulir yang mengangkat saham dan logam

Perak (XAG/USD) naik lebih dari 0,50% pada Jumat setelah memantul dari level terendah harian $73,95. Laporan kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan antara Washington dan Teheran sejalan dengan penguatan saham AS dan logam mulia, dengan XAG/USD di $75,83 saat penulisan.

Pergerakan harga mengindikasikan konsolidasi di dekat Simple Moving Average (SMA)—rata-rata pergerakan sederhana yang menghitung rata-rata harga dalam periode tertentu—20 hari dan 100 hari, keduanya di $75,64. Sejak titik terendah 23 Maret di sekitar $61,02, perak membentuk “higher lows” (serangkaian titik terendah yang makin tinggi, sinyal tekanan beli meningkat), sementara kenaikan terbaru sempat mencapai sekitar $83,05 sebelum turun lagi mendekati $75,00.

Indikator momentum (alat untuk mengukur kekuatan arah pergerakan harga) mengarah pada risiko penurunan, dengan Relative Strength Index/RSI (indikator yang mengukur apakah harga sudah terlalu naik atau terlalu turun) disebut bearish (cenderung melemah). Untuk melanjutkan penurunan, harga perlu menembus $75,00, lalu terendah 13 April di $72,61, kemudian terendah 7 April di $69,82.

Jika harga naik, perak perlu kembali menembus SMA 100 hari dan kemudian SMA 50 hari di $78,57. Di atas area itu, level berikutnya adalah $80,00.

Dengan latar bullish (optimistis/berpotensi naik) ini, terdapat peluang melalui pembelian call options (opsi beli, yaitu kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli pada harga tertentu) untuk memanfaatkan potensi kenaikan. Trader dapat mempertimbangkan call options Juni atau Juli 2026 dengan strike price (harga kesepakatan dalam kontrak opsi) sekitar $88, sedikit di atas kisaran harga saat ini. Strategi ini memberi eksposur dengan “leverage” (pengganda potensi untung/rugi) menuju level psikologis $90 dan lebih tinggi.

Untuk mengelola risiko, pantau puncak lama 2025 di $83 yang kini berperan sebagai support (level penopang, area harga yang sering menahan penurunan). Jika terjadi penembusan tegas di bawah level ini, itu menandakan perubahan tren, sehingga protective put options (opsi jual untuk perlindungan) dengan strike $82 dapat menjadi hedge (lindung nilai, strategi untuk mengurangi risiko). Ini membantu melindungi modal jika kenaikan yang diharapkan tidak terjadi dan pasar berbalik arah.

Ahli strategi OCBC menyebut kenaikan suku bunga acuannya oleh BSP sebesar 25 bps ke 4,5% menopang peso, meski risiko inflasi masih berlanjut

Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menaikkan suku bunga kebijakan (policy rate, acuan suku bunga bank sentral) sebesar 25 basis poin (bp; 1 bp = 0,01 poin persentase) menjadi 4,5% dalam rapat MPC (Monetary Policy Committee/komite kebijakan moneter) pada 23 April. BSP menyatakan kenaikan lanjutan masih mungkin terjadi karena proyeksi inflasi (perkiraan laju kenaikan harga) direvisi lebih tinggi dan mulai muncul dampak putaran kedua (second-round effects; kenaikan harga yang memicu kenaikan biaya dan upah lalu mendorong inflasi lebih lanjut).

Dewan BSP menyoroti meningkatnya risiko ekspektasi inflasi menjadi “lepas jangkar” (de-anchored; perkiraan inflasi publik tidak lagi selaras dengan target bank sentral sehingga lebih sulit dikendalikan). BSP menyebut kenaikan harga minyak dan pupuk mendorong naiknya biaya bahan bakar dan pangan domestik, sementara inflasi inti (core inflation; inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti pangan dan energi) terus merangkak naik.

Gubernur Remolona mengatakan, setelah rangkaian kenaikan suku bunga dimulai, kenaikan berikutnya kemungkinan terjadi, dan opsi kenaikan 50 bp juga sempat dibahas. Kenaikan 25 bp disebut terukur, dengan Dewan menilai kebijakan masih mendukung pemulihan ekonomi dalam jangka menengah.

Peso berpeluang mendapat sedikit dukungan karena langkah ini mengurangi risiko kebijakan moneter tertinggal dari inflasi. Namun, mata uang tetap rentan terhadap guncangan energi impor serta ketidakpastian terkait dinamika gencatan senjata AS–Iran.

Level teknikal yang disebut adalah resistance (batas atas/area hambatan kenaikan) di 60,83 dan support (batas bawah/area penahan penurunan) di 60,15 (21 DMA; rata-rata pergerakan 21 hari) dan 60, termasuk retracement Fibonacci 23,6% (ukuran koreksi harga berbasis rasio Fibonacci) dari level terendah hingga tertinggi 2026. Artikel tersebut menyebut dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

Kami menilai kenaikan suku bunga BSP ke 4,5% sebagai langkah yang diperlukan untuk menahan inflasi yang mencapai 5,1% pada Maret. Kebijakan ini membantu mengurangi risiko bank sentral “tertinggal” dari laju inflasi. Untuk sementara, langkah ini memberi dukungan relatif bagi peso.

Namun, bank sentral yang cenderung ketat (hawkish; lebih fokus menekan inflasi meski berisiko menahan pertumbuhan) menghadapi tekanan eksternal yang berat. Dengan kontrak berjangka (futures; perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk masa depan) minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$105 per barel akibat ketidakpastian gencatan senjata AS–Iran, ketergantungan Filipina pada impor untuk lebih dari 90% kebutuhan minyaknya memberi tekanan besar pada mata uang. Ini membuat penguatan peso mudah rapuh.

Dalam situasi tarik-menarik ini, kami mempertimbangkan opsi (options; instrumen derivatif yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual) untuk mengelola risiko dalam beberapa pekan ke depan. Membeli opsi call USD/PHP (hak membeli dolar AS terhadap peso di harga tertentu) memberi peluang untung jika peso melemah lebih jauh menuju level resistance 60,83. Strategi ini membatasi kerugian jika kesepakatan gencatan senjata mendadak menguatkan peso.

Kami mencermati level 60,83 pada USD/PHP sebagai resistance penting dan target potensial untuk posisi long (posisi beli/diuntungkan jika USD menguat). Sebaliknya, penurunan di bawah support 60,15 bisa menjadi sinyal kebijakan BSP mulai efektif. Penembusan salah satu level ini kemungkinan akan memandu penempatan posisi derivatif jangka pendek kami.

TD Securities memperkirakan bank sentral Kanada akan mempertahankan suku bunga overnight di 2,25% hingga akhir 2026, sambil secara hati-hati menyeimbangkan berbagai risiko

Ahli strategi TD Securities memperkirakan Bank of Canada akan mempertahankan Suku Bunga Overnight (bunga acuan harian) di 2,25% hingga rapat April dan kemungkinan besar sepanjang sisa 2026. Mereka memperkirakan pesannya akan lebih seimbang, namun tetap berhati-hati.

Mereka menilai kenaikan harga energi akan mendorong Bank menaikkan proyeksi inflasi dalam Laporan Kebijakan Moneter April. Mereka memperkirakan perubahan proyeksi inflasi inti (ukuran inflasi yang menyaring komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan makanan) dan PDB (Produk Domestik Bruto, ukuran total aktivitas ekonomi) lebih kecil, dengan Bank cenderung mengabaikan lonjakan inflasi jangka pendek.

Mereka memperkirakan Bank akan menyebut risiko pertumbuhan ekonomi sebagai dua arah, terkait kenaikan harga minyak dan penutupan Selat Hormuz (jalur pelayaran utama minyak). Mereka juga memperkirakan Bank menyoroti risiko dari renegosiasi USMCA yang masih berjalan (perjanjian dagang AS-Kanada-Meksiko).

Mereka menilai kejutan penurunan pada CPI terbaru (Indeks Harga Konsumen, ukuran utama inflasi) mendukung keputusan menahan suku bunga. Harga pasar menunjukkan suku bunga Desember di 2,61%, dan mereka memperkirakan pergerakan kembali ke level sebelum perang akan berlangsung bertahap.

Bank of Canada kemungkinan mempertahankan suku bunga di 2,25% sepanjang 2026, meski berbeda dari harga pasar. Mereka menilai ekspektasi pasar untuk suku bunga 2,61% pada Desember terlalu tinggi, lebih dipengaruhi pergerakan pasar AS daripada perubahan nyata arah kebijakan Kanada. Ini memberi peluang untuk mengambil posisi yang berlawanan dengan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Bank sentral dinilai bisa bersikap sabar, terutama setelah data inflasi Maret 2026 sebesar 2,1%, jauh di bawah perkiraan konsensus 2,4% (rata-rata proyeksi analis). Meski kenaikan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz akan sementara menaikkan inflasi umum (headline inflation, inflasi total termasuk energi dan makanan), Bank of Canada diperkirakan tidak bereaksi berlebihan terhadap lonjakan ini. Ini memperkuat pandangan bahwa syarat untuk menaikkan suku bunga masih sangat ketat.

Kenaikan terbaru WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) ke sekitar US$95/barel menjadi risiko dua arah yang mendukung sikap hati-hati Bank. Harga lebih tinggi menguntungkan sektor energi Kanada, tetapi juga membebani konsumen global—mirip “pajak” lewat biaya energi—yang dapat menekan permintaan untuk ekspor Kanada selain energi. Karena itu, Bank of Canada diperkirakan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga hanya karena guncangan harga minyak.

Ketidakpastian juga datang dari renegosiasi USMCA yang masih berlangsung, dengan komentar terbaru dari Washington yang memperlambat kemajuan dan membebani prospek dunia usaha. Situasi ini berbeda dari akhir 2025, ketika pasar sempat memperkirakan penurunan suku bunga karena kekhawatiran resesi ringan. Stabilitas saat ini membantu, tetapi risiko eksternal ini membuat Bank cenderung tetap menunggu.

Data CFTC AS menunjukkan posisi bersih non-komersial minyak turun dari 206,5 ribu menjadi 192,3 ribu

Data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) menunjukkan posisi bersih (net positions) minyak untuk trader non-komersial (pelaku spekulatif seperti hedge fund, bukan pelaku yang membeli/menjual untuk kebutuhan fisik) turun ke 192,3 ribu kontrak.

Angka ini turun dari 206,5 ribu kontrak pada laporan sebelumnya.

Pergeseran Posisi Spekulatif

Spekulan besar dan hedge fund mulai mengurangi taruhan bullish (taruhan harga naik) pada minyak, terlihat dari posisi net long (selisih kontrak beli dibanding kontrak jual) yang dipangkas menjadi 192,3 ribu kontrak. Ini mengindikasikan “uang pintar” (pelaku besar yang dianggap lebih informatif) makin ragu harga akan terus naik dalam waktu dekat. Perubahan sentimen ini menjadi peringatan adanya potensi koreksi harga (penurunan sementara setelah kenaikan).

Perubahan ini sejalan dengan data ekonomi terbaru. Indeks PMI manufaktur China untuk Maret turun tak terduga ke 49,8. PMI (Purchasing Managers’ Index) adalah survei aktivitas pabrik; angka di bawah 50 menandakan kontraksi (aktivitas menyusut). Ini memunculkan kekhawatiran melemahnya permintaan energi dari salah satu konsumen terbesar dunia. Secara historis, perlambatan di China sering membatasi reli (kenaikan tajam) minyak mentah.

Dari sisi pasokan, laporan terbaru EIA (Energy Information Administration, lembaga energi AS) menunjukkan kenaikan mengejutkan persediaan minyak mentah AS di atas 3 juta barel, berlawanan dengan perkiraan penurunan. Ini menandakan pasokan pasar mungkin lebih longgar (tersedia lebih banyak) daripada perkiraan sebelumnya. Kombinasi sinyal permintaan melemah dan stok naik membuat posisi dana yang lebih berhati-hati menjadi masuk akal.

Melihat volatilitas (naik-turun harga yang tajam) pada 2025, pergeseran seperti ini kerap mendahului pasar yang “choppy” (bergerak tidak rapi, mudah berbalik arah) dan range-bound (bergerak di kisaran tertentu). Karena itu, trader dapat mempertimbangkan menjual call spread out-of-the-money untuk mengumpulkan premi. Call spread adalah strategi opsi dengan menjual opsi beli (call) dan membeli call lain pada harga strike berbeda untuk membatasi risiko; out-of-the-money berarti strike berada di atas harga saat ini, sehingga opsi belum bernilai jika langsung dieksekusi. Strategi ini bertaruh harga akan kesulitan menembus puncak terbaru. Ini lebih defensif dibanding membuka posisi short langsung (bertaruh harga turun tanpa perlindungan opsi).

Ide Transaksi Berbasis Opsi

Bagi yang memperkirakan penurunan lebih tajam, membeli opsi put dapat menjadi cara dengan risiko terukur untuk mengambil posisi saat harga turun. Put adalah opsi yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu; risiko biasanya terbatas pada premi yang dibayar. Penembusan di bawah moving average 50 hari (rata-rata pergerakan harga 50 hari sebagai indikator tren) bisa menjadi sinyal teknikal penting yang berpotensi mempercepat tekanan jual.

Posisi neto non-komersial EUR zona euro naik ke 41,3 ribu dari 26 ribu dalam laporan CFTC

Data CFTC (Commodity Futures Trading Commission, regulator pasar derivatif AS) untuk zona euro menunjukkan posisi bersih (net positions: selisih posisi beli dan posisi jual) EUR oleh pelaku non-komersial (non-commercial: spekulan seperti hedge fund, bukan perusahaan yang melakukan lindung nilai/hedging) berada di 41,3 ribu kontrak. Angka ini naik dari 26 ribu pada laporan sebelumnya.

Terlihat kenaikan tajam sentimen bullish (optimistis harga naik) terhadap euro, dengan posisi spekulatif net long (posisi bersih beli) melonjak ke 41,3 ribu kontrak dari 26 ribu. Ini sinyal kuat bahwa pelaku besar menempatkan posisi untuk euro menguat dalam beberapa pekan ke depan. Ini adalah kenaikan mingguan terbesar posisi net long dalam lebih dari enam bulan.

Perubahan ini kemungkinan mencerminkan perbedaan arah kebijakan bank sentral (divergence: kebijakan yang bergerak tidak sejalan) yang makin jelas. Data inflasi zona euro terbaru sedikit di atas perkiraan, 2,7%, sehingga pasar menilai Bank Sentral Eropa (ECB) bisa menunda pemangkasan suku bunga (rate cuts: penurunan suku bunga acuan) hingga lebih akhir tahun ini. Sementara itu, laporan tenaga kerja AS terbaru menunjukkan perlambatan ringan, sehingga peluang pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (bank sentral AS) pada musim panas masih terbuka.

Jika menengok ke belakang, kita ingat sentimen pasar pada akhir 2025 ketika perbedaan data ekonomi serupa mulai terlihat. Periode tersebut diikuti reli (kenaikan berkelanjutan) nilai tukar EUR/USD dari 1,05 ke 1,09 pada kuartal berikutnya. Penumpukan posisi spekulatif long saat ini menunjukkan pasar mungkin bersiap mengulang pola tersebut.

Bagi trader, ini mengarah pada pembukaan posisi long euro melalui derivatif (instrumen turunan seperti futures dan opsi). Membeli opsi call EUR/USD (hak membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo Juni dan Juli 2026 memberi cara berisiko terbatas (kerugian maksimum biasanya sebesar premi) untuk memanfaatkan potensi kenaikan menuju level 1,10. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan gejolak harga yang “tertanam” dalam harga opsi) yang rendah saat ini membuat premi opsi relatif murah.

Data CFTC menunjukkan posisi neto yen non-komersial Jepang turun ke -94,5 ribu, dari -83,2 ribu sebelumnya

Data CFTC Jepang menunjukkan posisi bersih (net position) non-komersial pada JPY semakin masuk ke wilayah negatif.

Posisi bersih turun menjadi ¥-94,5 ribu dari ¥-83,2 ribu pada laporan sebelumnya.

Posisi Spekulatif Semakin Bearish

Posisi bersih spekulatif yang “short” (bertaruh yen melemah) terhadap yen Jepang makin dalam dan menjadi yang paling negatif dalam beberapa bulan. Ini menunjukkan keyakinan kuat pelaku pasar bahwa yen berpotensi terus melemah. Pergerakan saat ini jelas mendukung USD/JPY yang lebih tinggi (artinya dolar AS menguat terhadap yen).

Pendorong utama sentimen ini adalah selisih suku bunga (interest rate differential) yang lebar antara AS dan Jepang. Data inflasi AS terbaru, dengan inflasi inti (core CPI: inflasi yang biasanya tidak memasukkan harga makanan dan energi karena lebih mudah bergejolak) sekitar 3,2%, mengisyaratkan The Fed kemungkinan mempertahankan kebijakan ketat (restrictive stance: suku bunga tinggi untuk menahan inflasi). Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) baru memberi sinyal perubahan yang sangat bertahap dari kebijakan super longgar (ultra-loose policy: suku bunga sangat rendah dan dukungan likuiditas besar). Perbedaan kebijakan ini terus mendorong carry trade (strategi meminjam mata uang berbunga rendah seperti yen untuk membeli aset/mata uang berbunga lebih tinggi).

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), ini berarti bias tetap bullish pada USD/JPY. Salah satu cara adalah membeli opsi call USD/JPY (hak untuk membeli pada harga tertentu) atau memakai bull call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain di level lebih tinggi untuk menekan biaya). Strategi ini memberi risiko terukur (defined-risk: kerugian maksimum terbatas pada premi/biaya) untuk memanfaatkan potensi pelemahan yen.

Namun, tingkat posisi short ini mulai ekstrem, mirip kondisi awal 2024. Saat itu, posisi short spekulatif mencapai level tertinggi dalam 17 tahun sebelum otoritas Jepang melakukan intervensi (masuk ke pasar valuta asing untuk menahan pergerakan) ketika USD/JPY menembus 160. Dengan pasangan ini kembali mendekati area serupa, risiko intervensi meningkat.

Karena posisi pasar sudah “padat” (crowded trade: terlalu banyak pelaku mengambil posisi yang sama), pembalikan arah mendadak bisa sangat tajam.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code