Back

Posisi neto non-komersial S&P 500 CFTC AS naik, mempersempit penurunan dari -115,8 ribu menjadi -110,1 ribu

Data CFTC (Commodity Futures Trading Commission/otoritas pengawas derivatif AS) menunjukkan posisi bersih NC (non-commercial/spekulan besar, yaitu pelaku yang bertransaksi untuk spekulasi, bukan lindung nilai) pada S&P 500 naik menjadi -110,1 ribu kontrak.

Pembacaan sebelumnya adalah -115,8 ribu kontrak.

Posisi Jual Spekulatif Mulai Dikurangi

Spekulan besar mulai mengurangi taruhan penurunan (posisi jual/short, yaitu strategi mendapat untung saat harga turun) terhadap S&P 500. Artinya, sentimen negatif (bearish, yaitu pandangan bahwa pasar akan turun) yang mendominasi mulai mereda. Ini belum menjadi sinyal pasar naik (bullish), tetapi menunjukkan keyakinan di sisi short melemah.

Perubahan posisi ini terjadi setelah data ekonomi terbaru untuk Maret 2026 menunjukkan inflasi inti (core inflation, yaitu inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) melambat ke laju tahunan 3,2%, sehingga mengurangi kekhawatiran bank sentral akan menaikkan suku bunga lebih agresif. Imbal hasil (yield, yaitu tingkat keuntungan) obligasi pemerintah AS (Treasury) juga turun dari puncak terbaru. Surat utang 10 tahun kini diperdagangkan di bawah 4,5%. Ini memberi ruang bagi valuasi saham (penilaian harga saham) yang sebelumnya tertekan pada kuartal pertama.

Di tengah musim laporan kinerja kuartalan (earnings season, periode perusahaan merilis laporan laba) Q1 2026, hasilnya lebih baik dari perkiraan awal, terutama dari perusahaan teknologi berkapitalisasi besar (large-cap, perusahaan dengan nilai pasar besar). Dari hampir 60% perusahaan S&P 500 yang sudah melapor, pertumbuhan laba gabungan (blended earnings growth, rata-rata gabungan dari laporan yang sudah keluar dan perkiraan untuk yang belum) tercatat positif 3,5%, melampaui ekspektasi. Kinerja perusahaan yang kuat memberi alasan fundamental (berdasarkan kinerja bisnis) bagi pelaku pasar untuk menutup posisi short.

Dari sisi derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), kondisi ini bisa menekan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi). Indeks VIX (ukuran “ketakutan” pasar berbasis opsi S&P 500) turun dari di atas 20 pada Maret menjadi sekitar 17,5, sehingga strategi membeli volatilitas (long-volatility, mendapat untung saat volatilitas naik) menjadi kurang menarik. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan menjual opsi jual (put, hak menjual) yang berada di luar uang (out-of-the-money, harga strike masih jauh dari harga pasar sehingga opsi belum bernilai intrinsik) saat pasar terkoreksi untuk memperoleh premi (premium, biaya yang dibayar pembeli opsi), dengan memanfaatkan potensi stabilitas ini.

Secara historis, dinamika serupa terjadi pada kuartal kedua 2023 ketika posisi short bersih spekulatif ditutup seiring meredanya kekhawatiran resesi, yang kemudian diikuti reli pasar yang kuat hingga musim panas. Karena itu, tren penurunan posisi short ini perlu dipantau dalam beberapa pekan ke depan.

Apa yang Perlu Dipantau Berikutnya

Pergerakan menuju posisi datar (flat, tanpa posisi bersih) atau beralih menjadi posisi bersih beli (net long, total posisi beli lebih besar dari posisi jual) akan menjadi sinyal yang jauh lebih kuat bahwa dasar pasar yang lebih tahan lama mungkin mulai terbentuk.

Data CFTC Australia menunjukkan posisi neto non-komersial AUD di 64,8 ribu, sedikit di bawah sebelumnya 65,1 ribu

Posisi net CFTC AUD NC (Australia) tercatat 64,8K pada laporan terbaru. Angka sebelumnya 65,1K.

Ini menunjukkan penurunan 0,3K dibanding periode sebelumnya. Data ini mengacu pada posisi bersih (selisih posisi beli dan jual) pelaku non-komersial di dolar Australia, yaitu spekulan besar seperti hedge fund, bukan pelaku lindung nilai (hedging) dari kebutuhan bisnis.

Sinyal Posisi Menunjukkan Jeda Momentum Bullish

Data terbaru menunjukkan spekulan besar sedikit mengurangi taruhan kenaikan (bullish) pada dolar Australia. Ini bukan pembalikan arah besar, tetapi menandakan keyakinan pasar sedang melemah setelah penguatan sebelumnya. Terlihat aksi ambil untung (profit-taking), sementara pasar menunggu pemicu baru.

Jeda ini masuk akal jika melihat sikap RBA (Reserve Bank of Australia/bank sentral Australia) hingga 2025, saat mereka mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi. Kini, laporan inflasi kuartal I 2026 menunjukkan inflasi tahunan melambat ke 3,2%, sehingga pasar mulai memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun. Potensi perubahan kebijakan ini menahan kenaikan dolar Australia untuk sementara.

Perlambatan harga komoditas—pendorong utama dolar Australia—juga perlu diperhatikan. Bijih besi, misalnya, turun lebih dari 15% dari puncaknya pada akhir 2025, dan kini diperdagangkan sekitar US$115 per ton akibat data industri China yang melemah. Tekanan dari luar negeri ini menjadi hambatan besar bagi penguatan dolar Australia lebih lanjut.

Sementara itu, dolar AS tetap kuat. Laporan Non-Farm Payroll (NFP/data ketenagakerjaan AS di luar sektor pertanian) beberapa pekan lalu menunjukkan penambahan 240.000 pekerjaan. Kekuatan ekonomi AS ini membuat The Fed (bank sentral AS) belum punya alasan kuat untuk segera memangkas suku bunga. Ini mengurangi keunggulan selisih suku bunga (interest rate advantage) yang sempat mendukung dolar Australia tahun lalu.

Implikasi Trading dan Katalis Kunci di Depan

Bagi trader, kondisi yang belum jelas ini mengarah pada volatilitas (naik-turun harga) yang lebih tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Pertimbangkan penggunaan opsi (options/kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu) untuk membatasi risiko, misalnya membeli put (opsi jual) untuk melindungi posisi long AUD (posisi beli AUD).

Bagi yang mengincar pergerakan besar namun belum yakin arah, strategi long straddle (membeli opsi call dan put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama) bisa dipakai jika memperkirakan harga akan bergerak tajam.

Data penting berikutnya adalah rilis ketenagakerjaan Australia dan risalah rapat RBA (meeting minutes/catatan rinci pertimbangan bank sentral). Keduanya akan memberi sinyal lebih jelas soal kondisi ekonomi domestik dan arah pikir bank sentral. Tetap waspada sampai laporan tersebut menjelaskan apakah pembelian spekulatif akan kembali atau jeda ini menjadi awal koreksi yang lebih besar.

Stefan Koopman dari Rabobank memperkirakan MPC Bank of England akan mempertahankan suku bunga acuan di 3,75%, tetap waspada pada April

Rabobank mengatakan pihaknya memperkirakan Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) Bank of England akan mempertahankan Bank Rate (suku bunga acuan) di 3,75% pada pertemuan April, dengan sikap kebijakan yang tetap hati-hati. Pandangan ini dikaitkan dengan pasar yang kembali stabil dalam beberapa pekan terakhir.

Rabobank menilai permintaan domestik melemah dan kebijakan saat ini sudah ketat dibandingkan 2022. Bank itu juga menyebut kondisi sekarang lebih kecil kemungkinannya memicu dampak putaran kedua (second-round effects), yakni ketika kenaikan harga awal memicu kenaikan upah dan harga lanjutan sehingga inflasi makin sulit turun.

Harga Energi Dan Inflasi Jangka Pendek

Rabobank mencatat harga energi lebih rendah dari perkiraan, meski Selat Hormuz masih ditutup. Jika kondisi ini berlanjut, hal tersebut bisa mendorong revisi turun kecil pada proyeksi inflasi jangka pendek (near-term inflation forecast), yaitu perkiraan inflasi untuk beberapa bulan/kuartal ke depan.

Rabobank mengatakan dorongan inflasi (inflation impulse), yakni tambahan tekanan kenaikan harga dari faktor tertentu, yang lebih kecil akan menurunkan risiko inflasi mengakar (entrenched inflation), yaitu inflasi yang sulit turun karena sudah tertanam dalam perilaku harga dan upah. Namun, prospeknya tetap tidak pasti. Rabobank masih memperkirakan ada satu kali kenaikan suku bunga lagi, tetapi tidak melihat akan ada siklus kenaikan suku bunga baru (rate-hiking cycle), yakni rangkaian kenaikan berulang dalam beberapa pertemuan.

Strategi Menghadapi Gejolak Suku Bunga

Di sisi lain, ekonomi domestik menunjukkan tanda-tanda jelas sedang tertekan. Data terbaru kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan PDB (GDP) hanya 0,1%, sehingga nyaris masuk resesi (recession), yaitu periode ketika aktivitas ekonomi menyusut. Kinerja yang lemah ini memberi tekanan pada MPC untuk melonggarkan kebijakan ketat guna mendorong permintaan.

Dengan benturan antara inflasi yang “lengket” (sticky inflation), yakni inflasi yang bertahan tinggi, dan pertumbuhan yang mandek, memperdagangkan gejolak suku bunga (interest rate volatility) bisa menjadi langkah yang masuk akal. Opsi (options), yaitu instrumen turunan yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli/menjual pada harga tertentu, pada kontrak berjangka SONIA (SONIA futures) dapat dipertimbangkan. SONIA adalah suku bunga pasar uang overnight di Inggris, dan SONIA futures adalah kontrak berjangka yang nilainya mengikuti ekspektasi suku bunga tersebut. Strategi straddle, yakni membeli opsi call dan put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama, dapat digunakan untuk mendapatkan keuntungan bila suku bunga bergerak besar ke salah satu arah. Pasar saat ini memperhitungkan dua kali penurunan suku bunga penuh hingga akhir tahun, dan setiap penyimpangan dari jalur itu kemungkinan memicu penyesuaian harga yang tajam (repricing), yaitu perubahan cepat pada harga aset karena ekspektasi baru.

Bagi yang punya pandangan arah (directional view), latar pertumbuhan yang lemah mendukung posisi mengarah ke suku bunga lebih rendah. Posisi dapat dibangun lewat swap suku bunga (interest rate swaps), yaitu perjanjian untuk menukar pembayaran bunga tetap dan mengambang, atau mengambil posisi beli (long) pada SONIA futures untuk diuntungkan saat Bank of England menurunkan suku bunga. Namun data inflasi terbaru berarti perlu hati-hati soal waktu, karena penurunan pertama bisa terjadi lebih lambat dari perkiraan pasar saat ini.

Perbedaan utama dari tahun lalu adalah pasar energi, karena pembukaan kembali Selat Hormuz membantu menstabilkan harga. Jika pada awal 2025 hal ini menjadi ketidakpastian besar yang mendorong proyeksi inflasi, kini justru menjadi faktor yang membantu penurunan inflasi (disinflation), yaitu laju inflasi yang melambat. Ini mendukung pandangan jangka panjang bahwa bank sentral perlu menurunkan suku bunga untuk menopang ekonomi.

Menjelang akhir pekan, indeks dolar AS melemah di sekitar 98,50, turun seiring pelaku pasar menantikan pertemuan bank sentral

Indeks Dolar AS (DXY) kehilangan tenaga di dekat 98,50 dan bergerak turun dari level tertinggi terbaru. Turunnya imbal hasil (yield) obligasi AS dan aksi ambil untung menjelang akhir pekan menekan dolar AS, meski harga minyak pekan ini sempat di atas US$90 dan tensi di Timur Tengah masih ada.

Pasar bersiap menghadapi rapat bank sentral pekan depan. The Fed (bank sentral AS), ECB (bank sentral zona euro), BoJ (bank sentral Jepang), dan BoE (bank sentral Inggris) diperkirakan menahan suku bunga. Fokus bergeser ke panduan arah inflasi (petunjuk kebijakan ke depan terkait inflasi).

Pergerakan Utama Valas dan Fokus Bank Sentral

EUR/USD diperdagangkan di sekitar 1,1710, naik tipis seiring dolar AS melemah, sementara kehati-hatian jelang ECB membatasi kenaikan. GBP/USD bergerak menuju 1,3530 karena dolar AS lebih lemah, sementara harga energi yang lebih tinggi menambah risiko inflasi Inggris.

USD/JPY turun dari sekitar 159,40 namun masih tinggi karena perbedaan imbal hasil (selisih yield obligasi) antara AS dan Jepang, sementara risiko intervensi tetap ada. AUD/USD naik menuju 0,7150 karena dolar AS melemah dan sentimen risiko stabil.

WTI turun ke sekitar US$94,40 per barel, namun tetap mencatat kenaikan mingguan kuat di tengah kekhawatiran pasokan dari Selat Hormuz. Emas naik menuju US$4.720 per ons karena dolar AS melemah dan ketidakpastian geopolitik, namun kenaikannya dibatasi jika imbal hasil AS menguat.

Agenda berlangsung 27 April–1 Mei, termasuk pidato pejabat ECB dan BoE, keputusan BoJ, keputusan The Fed, serta data seperti Core PCE AS (inflasi inti belanja konsumsi pribadi, indikator inflasi favorit The Fed), PDB AS kuartal I, ISM Manufacturing PMI AS (survei aktivitas pabrik), dan CPI Australia (inflasi konsumen). WTI adalah patokan harga minyak mentah AS; pergerakannya dipengaruhi penawaran-permintaan, kebijakan OPEC (kartel negara pengekspor minyak), nilai tukar dolar AS, serta laporan persediaan API dan EIA (data stok minyak versi asosiasi industri dan lembaga pemerintah AS), yang selisihnya berada dalam 1% sekitar 75% dari waktu.

Risiko Utama Menjelang Pekan Depan

Dengan DXY tampak melemah di sekitar 98,50, ini lebih terlihat sebagai jeda sementara menjelang pekan padat keputusan bank sentral. Penurunan ini tampak seperti aksi ambil untung setelah reli, apalagi data ekonomi AS terbaru—seperti laporan tenaga kerja Maret yang menambah lebih dari 290.000 pekerjaan—masih menunjukkan ekonomi yang tangguh. Pelaku pasar sebaiknya melihat penurunan ini sebagai peluang bersiap menghadapi volatilitas (naik-turun harga yang cepat), bukan sinyal pasti pembalikan tren.

Rapat The Fed menjadi agenda utama, dan strategi berbasis derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) sebaiknya berpusat pada hasil rapat ini. Sepanjang 2025, inflasi jasa yang bertahan membuat nada The Fed cenderung hawkish (condong mengetatkan kebijakan/menahan suku bunga tinggi), dengan Core PCE rata-rata mendekati 2,8% pada paruh kedua tahun itu. Dengan latar ini, trader opsi bisa mempertimbangkan straddle atau strangle pada pasangan utama seperti EUR/USD untuk memanfaatkan pergerakan tajam ke dua arah setelah konferensi pers. (Straddle: beli opsi call dan put di harga strike yang sama; strangle: beli call dan put dengan strike berbeda, biasanya lebih murah namun butuh pergerakan lebih besar.)

Untuk USD/JPY, posisi di sekitar 159,40 membuat pasar waspada terhadap intervensi (aksi pemerintah/bank sentral membeli/menjual mata uang untuk menahan kurs) dari otoritas Jepang. Mengacu pada 2024 dan 2025, Kementerian Keuangan Jepang pernah masuk pasar agresif di atas level 155, sehingga risiko penurunan mendadak sangat tinggi. Trader yang lebih hati-hati bisa memanfaatkan koreksi ini untuk mengurangi posisi beli, atau membeli opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan strike di bawah harga saat ini) yang murah sebagai lindung nilai (hedging) terhadap aksi mendadak.

Kenaikan EUR/USD dan GBP/USD menuju 1,1710 dan 1,3530 tampaknya lebih dipicu pelemahan dolar daripada penguatan fundamental Eropa. Perbedaan kinerja ekonomi yang terlihat pada 2025—AS lebih kuat dibanding zona euro—masih membayangi dan kemungkinan membatasi ruang naik kedua mata uang ini. Rapat ECB dan BoE diperkirakan menahan suku bunga, sehingga panduan soal inflasi akan menentukan arah.

Di komoditas, harga minyak yang tinggi di atas US$94 per barel tetap menjadi sumber kekhawatiran, dipicu tensi geopolitik di sekitar Selat Hormuz. OPEC+ (OPEC dan sekutunya) sebelumnya memperpanjang pemangkasan produksi sepanjang 2025 untuk menopang harga, dan disiplin pasokan ini tetap penting. Sementara itu, kenaikan emas menuju US$4.720 diuntungkan oleh dolar yang lebih lemah, namun kenaikannya bisa tertahan bila imbal hasil AS menguat setelah rapat The Fed.

Banyaknya rilis data pekan depan, termasuk PDB AS kuartal I, Core PCE, dan PMI dari China (survei aktivitas bisnis), berarti keputusan bank sentral tidak berdiri sendiri. Jika inflasi AS pada Kamis lebih panas dari perkiraan, dolar bisa dengan cepat menutup pelemahan terbaru dan mengubah ekspektasi pasar. Karena itu, pelaku pasar perlu tetap fleksibel, karena ketenangan saat ini kemungkinan tidak bertahan lama melewati Selasa depan.

Optimisme atas dimulainya kembali pembicaraan Iran–AS mengangkat emas di atas $4.700, XAU/USD diperdagangkan di sekitar $4.726 naik 0,47%

Harga emas naik di atas US$4.700 pada Jumat dan diperdagangkan di US$4.726, menguat 0,47%. Kenaikan ini menyusul laporan bahwa kontak Iran–AS kembali dilakukan untuk kemungkinan putaran kedua perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan berada di Islamabad pada Jumat. Gedung Putih mengatakan Steve Wytkoff dan Jared Kushner akan berangkat ke Pakistan pada Sabtu pagi untuk pembicaraan terkait Iran.

Pasar Merespons Pembicaraan Iran

Setelah berita tersebut, minyak mentah WTI (patokan harga minyak AS) turun sekitar 3,50%. Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun—bunga obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun—turun 1,5 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) ke 4,31%, sementara Indeks Dolar AS (DXY; ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) melemah 0,22% ke 98,57.

Meski naik hari ini, emas masih berpeluang mencatat penurunan mingguan 2,30%. Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan turun ke 49,8 pada April dari 53,3 pada Maret, terendah sejak 1978.

Ekspektasi inflasi satu tahun naik ke 4,7% dan ekspektasi inflasi lima tahun meningkat ke 3,5%. Kurva suku bunga forward tersirat (perkiraan arah suku bunga ke depan yang dibaca dari harga instrumen pasar) dari Prime Terminal mengindikasikan The Fed menahan suku bunga hingga 2026, dengan pemangkasan pertama pada Juli 2027.

Emas bergerak di kisaran US$4.700–US$4.730, dengan resistensi (area hambatan kenaikan) di SMA 100 hari (simple moving average; rata-rata pergerakan sederhana) US$4.729. Level support (area penahan penurunan) berada di US$4.657, US$4.600, dan US$4.554, dengan level lanjutan di US$4.750, US$4.800, serta SMA 50 hari di US$4.869.

Risiko Utama dan Pendekatan Trading

Emas terjepit antara harapan kesepakatan damai di Timur Tengah dan kekhawatiran ekonomi domestik yang belum mereda. Peluang tercapainya kesepakatan AS–Iran menekan harga, terlihat dari penurunan minyak baru-baru ini. Namun, sentimen konsumen yang melemah dan ekspektasi inflasi yang tetap tinggi menjadi penopang kuat bagi pasar.

Dukungan lain berasal dari bank sentral, yang melanjutkan pembelian besar hingga 2025, sejalan dengan tren 2022 dan 2023. World Gold Council melaporkan lebih dari 1.000 ton ditambahkan ke cadangan resmi tahun lalu, mengisyaratkan pergeseran strategi dari dolar. Permintaan yang konsisten ini membantu menahan tekanan jual tajam akibat berita diplomatik.

Karena hasil pembicaraan Iran berpotensi “dua arah” (bisa menghasilkan hasil positif atau gagal total), pergerakan harga tajam ke salah satu arah sangat mungkin terjadi. Strategi yang diuntungkan saat volatilitas (tingkat naik-turun harga) meningkat, seperti long straddle atau strangle menggunakan opsi, dinilai lebih aman. Long straddle berarti membeli opsi call dan put di strike yang sama, sedangkan strangle membeli call dan put di strike berbeda; keduanya bertujuan meraih untung saat harga bergerak besar, tanpa harus menebak arah.

Level support US$4.700 dipantau ketat; penembusan tegas di bawahnya bisa memicu pergerakan cepat menuju swing low (titik terendah ayunan harga sebelumnya) di US$4.554. Bagi yang sudah memegang posisi long (posisi beli yang untung jika harga naik), membeli opsi put (hak menjual pada harga tertentu) dengan strike sekitar US$4.650 bisa menjadi asuransi murah jika ada terobosan diplomatik mendadak. Sebaliknya, bila tanda-tanda pembicaraan melemah, opsi call (hak membeli pada harga tertentu) dengan target resistensi US$4.800 bisa menarik untuk jangka pendek.

Harapan Baru untuk Pembicaraan AS–Iran Tekan Dolar AS, Dolar Selandia Baru Menguat terhadapnya

NZD/USD naik seiring Dolar AS melemah pada Jumat, dengan pasangan ini diperdagangkan di dekat 0,5880, naik sekitar 0,46% pada hari itu. Pasangan ini berpeluang mencatat kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.

Laporan menyebut pejabat AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan berangkat ke Islamabad untuk pembicaraan terkait Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga dilaporkan menuju Islamabad.

Pelemahan Dolar Dorong Kiwi

Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) turun dari level tertinggi sepekan di sekitar 98,94 ke sekitar 98,56, melemah kira-kira 0,27%. Pergerakan ini terjadi setelah permintaan terhadap aset safe haven (aset “pelindung” saat pasar bergejolak, seperti Dolar AS dan obligasi pemerintah) menurun.

Belum ada tanda yang terkonfirmasi soal perundingan langsung, dengan Pakistan berperan sebagai perantara. Blokade angkatan laut AS yang masih berlangsung disebut menjadi penghalang negosiasi.

Ketegangan berlanjut di Selat Hormuz, yang masih berada di bawah blokade ganda sehingga mengganggu pasokan minyak. Harga minyak mempertahankan risk premium (tambahan harga karena risiko), sehingga menambah kekhawatiran inflasi (kenaikan harga umum).

Di Selandia Baru, pasar memperkirakan RBNZ (Reserve Bank of New Zealand, bank sentral Selandia Baru) akan kembali menaikkan suku bunga pada rapat Mei karena inflasi masih tinggi dan risiko terkait minyak. Di AS, pasar sudah sepenuhnya memperhitungkan jeda kenaikan suku bunga pada rapat The Fed (bank sentral AS) pekan depan, dengan suku bunga diperkirakan ditahan lebih lama.

Risiko Pasar Penting ke Depan

Trader memantau perubahan situasi AS-Iran yang bisa menggerakkan Dolar AS dan NZD/USD.

Dengan mulai terbukanya jalur diplomatik antara AS dan China terkait Laut China Selatan, sentimen risiko terlihat membaik. Ini menekan Dolar AS dan membantu mendorong NZD/USD mendekati 0,6150. Kondisi ini mirip dengan situasi tahun lalu ketika muncul harapan meredanya ketegangan AS-Iran.

Reserve Bank of New Zealand memberi alasan kuat untuk mendukung dolar Kiwi. Dengan inflasi domestik yang masih bertahan di 3,5%, jauh di atas sasaran, RBNZ menahan Official Cash Rate (OCR, suku bunga acuan) di 5,75% dan memberi sinyal akan bertahan di level tersebut untuk beberapa waktu. Ini berbeda dengan bank sentral lain yang sudah mendekati fase pemangkasan suku bunga.

Sebaliknya, The Fed terlihat berada di jalur berbeda. Inflasi AS mendingin ke 2,8%, meningkatkan keyakinan pasar bahwa langkah berikutnya dari The Fed adalah pemangkasan suku bunga pada paruh akhir tahun ini. CME FedWatch Tool (alat yang memperkirakan peluang arah suku bunga The Fed berdasarkan harga kontrak berjangka) saat ini menunjukkan probabilitas lebih dari 90% untuk pemangkasan pada rapat September, yang menjadi tekanan bagi Dolar AS.

Bagi pelaku derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset dasar seperti mata uang), perbedaan arah kebijakan ini membuat strategi membeli call option NZD/USD bisa dipertimbangkan. Call option (opsi beli, hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan strike price (harga patokan eksekusi) sekitar 0,6200 dan jatuh tempo dalam enam hingga delapan pekan bisa menjadi pilihan. Posisi ini diuntungkan jika harga terus naik, sementara kerugian dibatasi sebesar premi (biaya) yang dibayar.

Alternatifnya, bisa mempertimbangkan risk reversal (strategi/ukuran yang membandingkan harga call dan put untuk melihat “kemiringan” permintaan pasar). Karena pasar masih waspada jika pembicaraan geopolitik gagal, implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada put NZD/USD bisa lebih tinggi. Strateginya dapat disusun dengan menjual put (opsi jual, hak untuk menjual pada harga tertentu) untuk membiayai pembelian call, sehingga memosisikan peluang kenaikan dengan biaya yang lebih rendah.

Kepala ekonom Commerzbank mengatakan penurunan indeks Ifo menunjukkan harga energi menekan pertumbuhan ekonomi Jerman

Commerzbank melaporkan prospek pertumbuhan Jerman ditekan oleh lonjakan harga energi, tekanan perdagangan luar negeri, dan minimnya reformasi. Bank menilai penutupan Selat Hormuz yang lebih lama akan meningkatkan peluang resesi (ekonomi menyusut).

Indeks Ifo Business Climate turun ke 84,4 dari 86,3, yang dikaitkan bank dengan melemahnya kondisi bisnis. Commerzbank memperkirakan pertumbuhan 2026 sekitar 0,6%, atau 0,3% setelah disesuaikan dengan jumlah hari kerja yang tahun itu lebih banyak dari biasanya (penyesuaian ini membuat angka pertumbuhan lebih sebanding antar-tahun).

Risiko Pertumbuhan dari Penutupan Selat Hormuz

Bank menyebut, meski Selat Hormuz dibuka kembali pada akhir Mei setelah total penutupan tiga bulan, pertumbuhan tahun ini tetap 0,4 poin persentase lebih rendah. Setiap tambahan hari tanpa pengiriman minyak melalui selat tersebut meningkatkan risiko resesi.

Commerzbank menyatakan stimulus fiskal senilai 0,8% dari PDB (Produk Domestik Bruto, total nilai barang dan jasa yang dihasilkan ekonomi) sebagian besar terimbangi oleh guncangan energi, kenaikan tarif (bea masuk impor), dan tidak adanya reformasi menyeluruh. Bank menegaskan kembali proyeksi 2026 di 0,6% serta angka 0,3% setelah penyesuaian hari kerja.

Penurunan tajam Indeks Ifo ke 84,4 menunjukkan dampak lonjakan harga energi terhadap ekonomi Jerman. Dengan proyeksi pertumbuhan melemah dan bergantung pada asumsi Selat Hormuz dibuka akhir Mei, setiap keterlambatan berpotensi memperburuk kondisi dan menambah tekanan pada aset Jerman.

Dalam situasi yang mendekati stagnasi (hampir tidak tumbuh), pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi bearish (bertaruh harga turun) pada saham Jerman. Membeli opsi put (kontrak yang memberi hak menjual pada harga tertentu, biasanya untung saat harga turun) pada indeks DAX bisa menjadi cara untuk memanfaatkan penurunan ekspektasi laba perusahaan. Data terbaru mendukung kehati-hatian: produksi industri Jerman pekan lalu turun 1,5% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/bulanan), kontraksi terdalam sejak gangguan pasokan energi pada 2025.

Implikasi Perdagangan di Berbagai Pasar

Perlambatan juga menjadi beban bagi euro, yang sulit bertahan di atas 1,05 terhadap dolar. Potensi pelemahan berlanjut seiring kenaikan tarif oleh Presiden Trump menambah hambatan bagi ekonomi. Melakukan short pada futures EUR/USD (kontrak berjangka untuk bertaruh nilai tukar turun) atau membeli opsi put euro dapat menjadi lindung nilai (hedging, cara mengurangi risiko kerugian).

Ketidakpastian terkait Selat Hormuz menjaga volatilitas (tingkat naik-turun harga) tetap tinggi, dengan indeks VSTOXX diperdagangkan dekat level tertinggi tahun ini. Kondisi ini membuat membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu, bisa untung saat indeks naik) pada VSTOXX menarik karena diuntungkan saat “ketakutan” pasar meningkat. Semakin lama blokade berlangsung, risiko resesi meningkat dan volatilitas berpotensi naik lagi.

Di pasar obligasi, prospek ekonomi yang lemah membuat pasar menunda perkiraan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa. Ini mendukung obligasi pemerintah Jerman, dengan imbal hasil (yield, tingkat pengembalian) Bund 10 tahun turun 20 basis poin bulan ini saat investor mencari aset aman (flight to safety, perpindahan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman). Pada krisis utang pemerintah 2011, pola serupa terjadi ketika surat utang Jerman menjadi “safe haven” (aset yang dicari saat risiko tinggi).

Isu utama tetap harga minyak, dengan Brent bertahan di atas US$125 per barel hampir delapan pekan. Variabel kunci bagi pelaku pasar adalah waktu pembukaan kembali selat, yang dapat memicu penurunan harga tajam. Sementara itu, volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) yang tinggi pada opsi minyak membuat strategi yang diuntungkan dari pergerakan besar, seperti long straddle (membeli opsi call dan put sekaligus pada harga kesepakatan sama untuk mencari untung dari pergerakan besar ke salah satu arah), layak dipertimbangkan.

Ekonom Standard Chartered menyebut penerimaan tarif, meski turun setelah putusan IEEPA, masih jauh di atas level sebelum Hari Pembebasan

Standard Chartered, ekonom Dan Pan dan Steve Englander meninjau bagaimana putusan Mahkamah Agung AS yang menolak tarif IEEPA memengaruhi penerimaan tarif AS. Mereka melaporkan pendapatan tarif turun setelah putusan, tetapi tetap jauh di atas level sebelum Hari Liberasi.

Mereka memperkirakan pendapatan tarif sekitar USD 25 miliar pada masing-masing bulan Maret dan April, dua bulan pertama setelah putusan. Penerimaan saat ini sekitar 3,4x level sebelum Hari Liberasi, dibandingkan lebih dari 4x level 2024 pada laju akhir 2025 saat tarif masih sepenuhnya berlaku.

Dampak pada Pendapatan Tarif

Pada laju saat ini, mereka memperkirakan kehilangan pendapatan akibat putusan IEEPA sebesar USD 60 miliar per tahun (annualised, yaitu dihitung seolah-olah laju saat ini berlangsung selama 12 bulan). Mereka juga menyebut tarif IEEPA menyumbang lebih dari setengah pendapatan tarif AS.

Mereka mencatat penurunan lanjutan masih mungkin terjadi seiring berakhirnya masa berlaku upaya pemulihan (remedies, yaitu langkah hukum/kebijakan untuk membatalkan atau mengubah kebijakan tarif) dan percepatan pengembalian dana (reimbursements, yaitu uang yang dikembalikan kepada pihak yang sudah membayar tarif). Tarif menyeluruh 10% berdasarkan Section 122 (kewenangan darurat untuk mengenakan tarif sementara secara luas) yang diberlakukan setelah putusan membantu menutup kekurangan, tetapi dibatasi 150 hari dan dijadwalkan berakhir pada 24 Juli 2026.

Tanggal Penting untuk Dipantau

Tanggal paling krusial adalah 24 Juli 2026, saat tarif sementara 10% Section 122 dijadwalkan berakhir. Tarif ini menjadi penyangga sementara. Jika dihentikan tanpa pengganti, bisa memicu “jurang fiskal” (fiscal cliff, yaitu penurunan mendadak pendapatan negara) dan berpotensi melemahkan dolar AS. Kami memantau pembahasan legislasi untuk solusi jangka panjang, karena sentimen pasar akan sangat peka terhadap arus berita ini.

Kecemasan pasar mulai terlihat, dengan CBOE Volatility Index (VIX, ukuran volatilitas atau naik-turunnya pasar saham AS yang sering disebut “indeks ketakutan”) naik ke 19,5 pekan ini dari rata-rata 16 bulan lalu. Ini mengingatkan pada sengketa dagang akhir 2010-an, ketika pasar valuta asing (currency markets, pasar pertukaran mata uang) bergejolak mengikuti pengumuman tarif. Stabilitas pasar akhir 2025 sebelumnya didukung arus pendapatan yang kuat dan dapat diprediksi, yang kini menjadi tanda tanya.

Perubahan ini menciptakan peluang pada sektor saham tertentu. Strategi opsi (options, instrumen derivatif yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) dapat menguntungkan industri yang banyak bergantung impor seperti ritel dan elektronik konsumen karena biaya berpotensi turun. Sebaliknya, lebih aman melakukan lindung nilai (hedge, strategi mengurangi risiko) terhadap potensi pelemahan produsen domestik di sektor seperti baja dan manufaktur yang sebelumnya diuntungkan perlindungan tarif.

Batas waktu yang jelas di Juli membuat volatilitas perdagangan sendiri bisa dimanfaatkan. Opsi pada pasangan mata uang utama seperti EUR/USD atau ETF indeks saham (ETF, reksa dana yang diperdagangkan di bursa dan biasanya mengikuti indeks) dapat digunakan untuk bersiap menghadapi pergerakan besar mendekati tanggal tersebut. Strategi long straddle atau strangle (membeli opsi beli dan opsi jual untuk menangkap pergerakan besar tanpa harus menebak arah) dapat membantu menangkap ayunan harga.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak AS turun dari 410 menjadi 407, menandai berkurangnya aktivitas pengeboran

Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak (menara pengeboran minyak) di AS turun menjadi 407. Sebelumnya 410.

Jumlah tersebut turun 3 rig dibanding laporan sebelumnya. Pembaruan ini terkait rig pengeboran minyak di Amerika Serikat.

Penurunan tipis jumlah rig minyak AS ke 407 menegaskan tren sikap hati-hati produsen yang kami pantau. Ini mengindikasikan produksi ke depan bisa lebih ketat (pasokan berkurang), sehingga berpotensi menahan penurunan harga minyak. Kami melihat ini sebagai respons langsung terhadap harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, acuan harga minyak AS) yang melemah ke kisaran pertengahan US$70 per barel pada awal April 2026, setelah rilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I yang lebih lemah dari perkiraan.

Penurunan ini melanjutkan pola yang terlihat sepanjang tahun lalu. Pada 2025, jumlah rig konsisten di atas 450, sehingga level 407 saat ini menunjukkan perlambatan pengeboran yang besar dibanding setahun sebelumnya. Ini menandakan perusahaan lebih mengutamakan disiplin belanja modal (menahan pengeluaran-investasi) ketimbang ekspansi agresif, tema yang mendominasi industri setelah 2022.

Bagi pelaku pasar yang memakai kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk pengiriman di masa depan), pengetatan pasokan bertahap ini membuat kontrak jatuh tempo lebih panjang tampak lebih menarik. Pertimbangkan membangun posisi pada kontrak akhir 2026 atau awal 2027, karena pasar belum sepenuhnya memasukkan dampak dari pengeboran yang tetap rendah. Struktur pasar saat ini, atau contango (harga kontrak berjangka lebih mahal daripada harga saat ini), membuat ini berpotensi menjadi strategi calendar spread (memperdagangkan selisih harga antara dua kontrak dengan bulan jatuh tempo berbeda) yang menguntungkan.

Di pasar opsi (options, hak untuk membeli/menjual tanpa kewajiban), tren yang bergerak lambat ini berarti volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga) bisa tetap rendah untuk sementara. Ini membuka peluang membeli call spread (strategi opsi dengan membeli opsi beli dan menjual opsi beli lain pada harga patokan lebih tinggi untuk membatasi biaya dan risiko) pada minyak mentah untuk bulan-bulan musim panas, misalnya kontrak pengiriman Juli, dengan target pemulihan moderat menuju US$80. Strategi ini membatasi risiko (defined-risk) sambil memposisikan diri untuk kenaikan bertahap yang didorong penguatan faktor dasar (fundamental) lewat pasokan yang makin ketat.

Derek Halpenny dari MUFG mengatakan blokade AS di Selat Hormuz dapat memicu inflasi global seiring kenaikan harga minyak dan biaya input

Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz berlanjut, tanpa kemajuan menuju putaran baru perundingan damai. Presiden Trump memerintahkan Angkatan Laut AS menembaki kapal apa pun yang memasang ranjau (alat peledak yang diletakkan di laut untuk merusak kapal), dan militer AS melaporkan mencegat dua kapal tanker minyak raksasa yang mencoba menghindari blokade.

Fokus kebijakan tetap pada Selat Hormuz dan upaya menekan Iran agar mengubah sikap. Penutupan ini dikaitkan dengan kenaikan biaya minyak dan biaya produksi (biaya bahan baku/operasional), dengan risiko harga minyak mentah naik dan gejolak pasar keuangan (pergerakan harga aset yang tajam) makin besar.

Skenario Inflasi dan Asumsi Harga Minyak

Skenario yang memakai rata-rata harga minyak mentah USD 115 per barel pada kuartal II (Q2) memproyeksikan inflasi tahunan sekitar 3,6% pada Q2, naik menjadi 3,8% pada Q3 dan Q4 tahun ini. Skenario itu juga menyebut harga BBM olahan (produk jadi dari kilang seperti bensin/solar) dan pupuk dapat mendorong inflasi melampaui perkiraan tersebut.

Situasi ini dinilai berdampak pada inflasi global, termasuk di Eropa. Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) diperkirakan bergerak lebih cepat daripada Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS), dengan implikasi bagi kinerja dolar AS bila ketahanan pasar saham berlanjut.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code