Back

EIA AS melaporkan persediaan minyak mentah naik 1,925 juta barel, melampaui perkiraan penurunan 1,2 juta barel pada April

Data EIA (Badan Informasi Energi AS) untuk 17 April menunjukkan persediaan minyak mentah naik 1,925 juta barel. Angka ini di atas perkiraan pasar yang memperkirakan penurunan 1,2 juta barel.

Hasil yang dilaporkan 3,125 juta barel lebih tinggi dibanding perubahan yang diperkirakan. Angka ini mengacu pada pembaruan mingguan terbaru persediaan minyak mentah AS.

Kejutan Persediaan Mengubah Bias Jangka Pendek

Kenaikan persediaan minyak mentah yang tidak diperkirakan—naik 1,925 juta barel saat pasar memperkirakan penurunan—mengindikasikan pasokan berlebih dalam jangka pendek (artinya suplai lebih banyak daripada kebutuhan saat ini). Data seperti ini biasanya menekan harga karena pasar menilai minyak terlalu “longgar” di sisi pasokan per 22 April 2026. Karena itu, kami mempertimbangkan menambah posisi bearish (posisi yang diuntungkan jika harga turun) lewat opsi put WTI atau put debit spread untuk memanfaatkan potensi pelemahan.

– **WTI (West Texas Intermediate)**: patokan harga minyak mentah AS.
– **Opsi put**: kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk menjual aset pada harga tertentu; biasanya dipakai untuk mengambil untung saat harga turun atau sebagai lindung nilai.
– **Put debit spread**: strategi opsi dengan membeli put dan menjual put lain pada harga kesepakatan berbeda untuk menekan biaya, namun potensi untungnya dibatasi.

Namun, laporan EIA yang sama juga menunjukkan persediaan bensin turun 2,5 juta barel, jauh di atas perkiraan. Ini mengarah pada permintaan konsumen yang menguat menjelang puncak musim berkendara musim panas. Sinyal permintaan ini bisa membatasi penurunan harga minyak mentah.

Risiko geopolitik kembali muncul, dengan laporan 20 April yang menyoroti meningkatnya ketegangan maritim di sekitar Selat Hormuz. Jika terjadi gangguan di jalur sempit yang sangat penting ini (chokepoint: titik lintasan sempit yang menjadi “bottleneck” perdagangan), pasokan bisa cepat berkurang. Selat Hormuz menangani hampir 20% pengiriman cairan minyak bumi global. Kondisi ini dapat menutupi dampak data persediaan. Karena itu, kami memasukkan **premi risiko** yang lebih tinggi (tambahan “biaya” dalam harga karena ketidakpastian), sehingga kami menilai tidak tepat mengambil posisi short (bertaruh harga turun) yang terlalu agresif.

Melihat ke belakang, pola serupa terlihat pada musim semi 2025: beberapa minggu berturut-turut persediaan minyak mentah naik, lalu harga justru melonjak tajam ketika permintaan musim panas lebih kuat dari perkiraan. Pelajaran ini menegaskan perlunya hati-hati, karena fokus pasar bisa cepat bergeser dari kenaikan pasokan ke kenyataan permintaan. Reli pada akhir Mei 2025 membuat banyak pihak yang memasang posisi short tidak siap.

Strategis Scotiabank mengatakan USD/JPY masih bergerak dalam kisaran; yen tertinggal dari mata uang G10 lainnya, dengan RSI datar mengindikasikan momentum lemah

USD/JPY bergerak datar, sementara yen tertinggal dibanding mata uang G10 lain dalam kondisi pasar yang sepi. Pergerakan harga tetap berkonsolidasi di kisaran 157,50–160,50, dan RSI (Relative Strength Index/Indeks Kekuatan Relatif, indikator untuk mengukur kuat-lemahnya laju harga) juga datar, menandakan dorongan pergerakan harga terbatas.

Data terbaru menunjukkan neraca perdagangan Maret melemah, sebagian karena impor energi lebih tinggi. Fokus beralih ke rilis CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) Maret pada Jumat, menjelang rapat kebijakan Bank of Japan (BoJ/Bank Sentral Jepang) pekan depan.

Market Context And Publication Note

Kami mencermati USD/JPY bergerak mendatar, pola yang mirip dengan periode sejenis pada 2025. Tidak adanya dorongan yang jelas mengindikasikan strategi menjual opsi untuk mengambil premi (premi opsi: biaya yang diterima penjual opsi) bisa dipertimbangkan dalam jangka dekat. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan pasar atas besar-kecilnya gejolak harga ke depan yang tercermin pada harga opsi) untuk opsi tenor satu bulan turun ke sekitar 8,1%, sehingga strategi yang diuntungkan oleh pasar stabil menjadi lebih menarik.

Dengan konsolidasi ini, strategi seperti short iron condor dinilai sesuai untuk mengambil premi. (Iron condor: strategi opsi yang menggabungkan jual spread call dan jual spread put agar untung jika harga tetap di rentang tertentu; “short” berarti menjual struktur tersebut untuk menerima premi.) Trader dapat mempertimbangkan menjual call spread (call spread: menjual opsi call dan membeli call lain pada level lebih tinggi untuk membatasi risiko) dengan strike di atas 165,50 dan sekaligus menjual put spread (put spread: menjual opsi put dan membeli put lain pada level lebih rendah untuk membatasi risiko) di bawah 161,00. Posisi ini diuntungkan oleh berjalannya waktu (time decay: nilai opsi cenderung turun saat mendekati jatuh tempo) dan USD/JPY tetap berada dalam rentang tersebut menjelang keputusan BoJ.

Risiko utama bagi pasar yang sepi ini adalah rapat kebijakan BoJ, yang bisa memicu pergerakan besar keluar dari rentang. Data inflasi Core CPI nasional terbaru Jepang tercatat 2,6% (Core CPI: inflasi inti, biasanya mengecualikan komponen yang sangat bergejolak seperti makanan segar/energi), dan sinyal dari BoJ bahwa pengetatan kebijakan (policy tightening: kenaikan suku bunga atau pengurangan stimulus) akan segera dilakukan dapat membuat USD/JPY turun tajam. Trader yang mengantisipasi pergerakan besar dapat membeli long strangle (long strangle: membeli opsi call dan put sekaligus pada strike berbeda untuk meraih untung bila harga bergerak besar ke salah satu arah).

Risk Management And Historical Volatility

Melihat kembali kondisi 2025, periode sepi sering diikuti pergerakan tajam yang tidak terduga. Intervensi langsung valuta asing oleh Kementerian Keuangan pada musim semi 2024 juga memicu penguatan yen secara cepat. Karena itu, posisi yang “short volatility” (short volatilitas: strategi yang diuntungkan jika gejolak harga rendah, misalnya menjual opsi) harus dikelola sangat ketat, karena risiko aksi resmi tetap ada.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Saham Charter Communications anjlok 70% dari puncak 2021, kini mendekati US$240, dengan level terendah yang patut dicermati

Charter Communications adalah penyedia layanan TV kabel dan internet broadband (internet berkecepatan tinggi) besar di Amerika Serikat. Harga sahamnya turun dari di atas $800 pada Agustus 2021 menjadi sekitar $240, atau sekitar 70% di bawah puncak tersebut.

Pola *inverse head and shoulders* (pola pembalikan arah naik: “kepala dan bahu terbalik”) terbentuk pada grafik harian setelah penurunan panjang. *Neckline* (garis “leher” yang menjadi batas kunci pola) sudah ditembus ke atas, yang menjadi konfirmasi awal pola tersebut.

Setelah *neckline* ditembus, pasar sering memantau *pullback* (koreksi turun sementara) kembali ke area *neckline* sebagai area *retest* (uji ulang). Karena *neckline* berbentuk garis tren menurun, level uji ulang bergantung pada kapan koreksi itu terjadi.

Jika uji ulang bertahan, area yang sebelumnya menjadi *resistance* (hambatan kenaikan) bisa berubah menjadi *support* (penopang harga). Pantulan dari area itu biasanya dipakai sebagai konfirmasi lanjutan bahwa pola tersebut masih berjalan.

Ada pola *head and shoulders* (pola pembalikan arah turun: “kepala dan bahu”) lain yang hampir selesai di *pivot low* (titik balik terendah) sebelumnya sekitar April 2024. Saat itu sempat disebutkan *measured move* 70% (perkiraan target berdasarkan tinggi pola), tetapi kenaikan hanya mencapai sekitar 30% sebelum jatuh setelah laporan kinerja (*earnings*) pada April 2025.

Kami memantau pola pembentukan dasar harga (*bottoming pattern*) yang klasik pada Charter Communications setelah penurunan tajam selama beberapa tahun. Saham membentuk *inverse head and shoulders*, dan tembusnya *neckline* mengisyaratkan tren turun panjang bisa selesai. Namun sinyal teknikal ini berhadapan dengan tekanan fundamental yang masih kuat, karena laporan menunjukkan perusahaan kembali kehilangan 61.000 pelanggan broadband pada kuartal terbaru.

Tantangan lebih besar datang dari persaingan yang ketat dan belum mereda sejak 2025. Data menunjukkan *Fixed Wireless Access* (FWA, internet rumah nirkabel dari operator seluler) merebut sekitar 88% dari seluruh penambahan bersih pelanggan internet rumah tahun lalu, sehingga membatasi pertumbuhan penyedia kabel seperti Charter. Ini faktor utama yang membuat investor menjauh dan harga saham tertahan.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), situasi ini memberi peluang taktis dengan batas risiko yang lebih jelas. Trader agresif bisa membeli opsi *call* (hak membeli saham pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) seri Mei atau Juni untuk memanfaatkan momentum awal dari *breakout* (penembusan). Trader yang lebih berhati-hati sebaiknya menunggu *retest* atas *neckline* yang sudah ditembus, lalu masuk saat terjadi pantulan dari level yang berubah dari *resistance* menjadi *support*.

Risiko besar adalah laporan *earnings* yang diperkirakan keluar di hari-hari terakhir April. Pola bullish serupa pernah gagal total saat *earnings* April 2025, mengingat laporan pelanggan yang buruk bisa membatalkan susunan teknikal. Peristiwa itu menunjukkan saham ini sangat sensitif terhadap kabar fundamental perusahaan.

Dengan risiko *earnings*, membeli *debit spread* seperti *bull call spread* (strategi beli call dan jual call di strike lebih tinggi untuk menekan biaya) bisa lebih masuk akal dibanding membeli call langsung. Strategi ini membatasi potensi untung, tetapi menurunkan modal awal dan mengurangi risiko dari *volatility crush* (penurunan tajam volatilitas tersirat setelah earnings yang menekan harga opsi). Ini memungkinkan posisi bullish sambil mengakui sifat hasil laporan yang bisa “dua arah” (baik atau buruk secara ekstrem).

Strategis Rabobank memperingatkan konflik Iran dapat mendorong inflasi Zona Euro namun menekan PDB, meningkatkan risiko stagflasi

Ahli strategi Rabobank mengatakan perang Iran mendorong Zona Euro menuju **stagflasi** (kondisi ketika **inflasi tinggi** tetapi **pertumbuhan ekonomi melemah**). Mereka memperkirakan inflasi akan tetap **di atas** proyeksi sebelum perang hingga 2027, sementara pertumbuhan melambat tajam pada 2026 dan hanya pulih terbatas pada 2027, meski ada dukungan pemerintah.

Sebagai **pengimpor energi bersih** (lebih banyak membeli energi dari luar negeri daripada menjual), Zona Euro rentan terhadap kenaikan harga energi, yang memperburuk **terms of trade** (rasio harga ekspor dibanding harga impor; memburuk berarti biaya impor naik relatif terhadap pendapatan dari ekspor). Harga yang lebih tinggi dapat menekan konsumsi dan investasi karena menurunkan **pendapatan riil** (daya beli setelah memperhitungkan inflasi), menekan **margin** (selisih laba), dan melemahkan kepercayaan, sementara kebijakan bantuan menambah tekanan pada keuangan publik.

Prospek Suku Bunga, Inflasi, dan Pertumbuhan

Kenaikan **premi risiko** (tambahan imbal hasil yang diminta investor karena ketidakpastian) dan **premi inflasi** (kompensasi atas risiko inflasi), serta ekspektasi kenaikan **suku bunga kebijakan** (policy rate; suku bunga acuan bank sentral), mendorong naik suku bunga jangka panjang dan bisa membatasi investasi. Rabobank mengasumsikan ada satu kenaikan suku bunga tahun ini, sementara pasar mematok dua kali. **Swap EUR 10 tahun** (kontrak derivatif untuk menukar bunga tetap dan bunga mengambang dalam euro, sering dipakai sebagai patokan suku bunga jangka panjang) naik sekitar 30 **basis poin** (bps; 1 bps = 0,01 poin persentase) sejak akhir Februari.

Dengan memakai proyeksi harga energi saat ini, inflasi diperkirakan rata-rata 3,1% pada 2026 dan 2,5% pada 2027, dengan inflasi kumulatif 1,7 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Pertumbuhan diproyeksikan 1,5% pada 2025, 0,6% tahun ini, dan 0,9% tahun depan.

Rabobank menilai skenario yang lebih ringan—berdasarkan pembukaan kembali selat lebih cepat dan normalnya aliran energi—kini kecil kemungkinannya, sementara skenario yang lebih buruk tetap mungkin. Mereka menyoroti risiko seperti **demand destruction** (permintaan turun karena harga terlalu tinggi), **de-industrialisation** (penurunan basis industri/pabrik), serta pelebaran premi risiko kredit dan risiko negara.

Kini Zona Euro menghadapi guncangan stagflasi yang dipicu konflik berlanjut di Teluk. Sebagai pengimpor energi besar, kawasan ini langsung terdampak kenaikan harga energi, dengan **kontrak berjangka Brent** (futures; perjanjian jual beli minyak di masa depan) bertahan di atas US$115 per barel, level tertinggi dalam hampir dua tahun. Kondisi ini menaikkan proyeksi inflasi sekaligus menahan pertumbuhan karena menekan belanja rumah tangga dan investasi bisnis.

Pertimbangan Trading dan Lindung Nilai

Data inflasi Maret terbaru dari Eurostat menunjukkan lonjakan tak terduga ke 3,4%, memperkuat ekspektasi inflasi rata-rata di atas 3% pada 2026. Ini menempatkan **Bank Sentral Eropa (ECB)** pada posisi sulit, mirip siklus kenaikan suku bunga 2022, karena bisa saja harus menaikkan suku bunga saat ekonomi melemah. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi untuk suku bunga yang lebih tinggi, misalnya **membayar tetap pada interest rate swap** (pay fixed; strategi yang diuntungkan bila suku bunga naik) atau **short Bund Jerman futures** (posisi jual pada kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman; nilainya biasanya turun saat imbal hasil naik).

Prospek pertumbuhan memburuk, dengan proyeksi PDB tahun ini direvisi turun menjadi 0,6% dari pertumbuhan 1,5% pada 2025. Pelemahan ini terlihat pada indeks **IFO Business Climate** Jerman (survei sentimen dunia usaha), yang mencatat penurunan bulanan terdalam sejak krisis energi awal 2020-an. Kondisi ini membuat strategi defensif seperti posisi short atau membeli **opsi put protektif** (hak menjual pada harga tertentu untuk membatasi kerugian) pada indeks saham Eropa yang luas seperti **Euro Stoxx 50** menjadi relevan.

Ketidakpastian tetap sangat tinggi, dan risiko skenario lebih parah masih besar. **VSTOXX** (indeks volatilitas; ukuran naik-turunnya harga yang merefleksikan kecemasan pasar saham Zona Euro) bertahan tinggi di sekitar level 28, menandakan tekanan pasar kuat. Dengan potensi pelebaran premi risiko kredit dan risiko negara—mirip situasi krisis 2011—membeli opsi untuk **lindung nilai** (hedging; mengurangi risiko kerugian) terhadap penurunan pasar yang tiba-tiba dan tidak linear menjadi pertimbangan penting dalam beberapa pekan ke depan.

S&P 500 Tetap Tangguh di Pembukaan, seiring Kesaksian Kevin Warsh dan Berakhirnya Gencatan Senjata Mempertinggi Ketegangan

S&P 500 tetap stabil saat pembukaan meski ada dua peristiwa: sidang yang melibatkan Kevin Warsh dan berakhirnya gencatan senjata dua minggu yang terkait Iran. Setelah gencatan senjata berakhir, pernyataan bermusuhan kembali muncul dan blokade AS masih berjalan, sementara Iran tidak masuk ke perundingan.

Pendekatan yang lebih ketat di sekitar Selat Hormuz kemudian menggantikan pesan Iran pada Jumat yang sebelumnya lebih menenangkan pasar. Laporan juga menyebut persiapan untuk kemungkinan konflik kembali.

Reaksi Pasar Dan Risiko Berita Utama

Sidang Warsh menambah ketidakpastian karena belum sepenuhnya diantisipasi pasar, dan pasar beralih ke posisi menghindari risiko (risk-off, yaitu investor cenderung menjual aset berisiko seperti saham dan membeli aset aman). Putaran kedua negosiasi tidak terjadi.

Belakangan, Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata secara sepihak, dan pasar kembali ke mode berani ambil risiko (risk-on, yaitu investor kembali membeli aset berisiko) dalam hitungan menit. Dolar mempertahankan sekitar setengah dari penguatan sebelumnya yang didorong risk-off hingga akhir hari.

Kita ingat pada 2025, pasar berayun tajam karena berita soal Iran dan perpanjangan gencatan senjata. S&P 500 bisa berbalik arah dalam hitungan menit hanya karena satu pernyataan presiden. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi “bukan perang, bukan damai”, risiko berita (headline risk, yakni pergerakan harga yang dipicu judul berita mendadak) menjadi faktor utama untuk pergerakan harian.

Pola ketegangan geopolitik itu muncul lagi sekarang. Laporan terbaru menunjukkan penumpukan aset angkatan laut di dekat Selat Hormuz, dan lalu lintas tanker dilaporkan melambat lebih dari 10% dalam dua minggu terakhir. Ini mengingatkan pada taktik blokade yang terlihat pada 2025.

Ketegangan ini sudah tercermin pada komoditas. Kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli pada harga tertentu untuk tanggal mendatang) minyak WTI kini bertahan di atas US$92 per barel. Indeks Volatilitas CBOE, atau VIX (ukuran “ketakutan” pasar berdasarkan harga opsi S&P 500), juga naik dari kisaran belasan ke atas 21, tertinggi tahun ini. Ini menandakan pelaku pasar mulai membeli perlindungan (hedging, upaya mengurangi risiko kerugian) terhadap potensi guncangan.

Pemosisian Dan Strategi Lindung Nilai

Mengingat pengalaman pembalikan mendadak pada 2025, memasang taruhan arah harga secara sederhana lewat futures sangat berisiko saat ini. Trader bisa mempertimbangkan membeli volatilitas lewat opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu), misalnya membeli straddle at-the-money pada SPY atau QQQ. Straddle at-the-money berarti membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) pada harga strike yang dekat dengan harga saat ini; strategi ini diuntungkan jika harga bergerak besar ke atas atau ke bawah, sehingga membantu menghadapi perubahan risk-on atau risk-off yang tiba-tiba.

Bagi pemegang posisi saham yang sudah naik (long equity), ini saat penting untuk melakukan hedging. Membeli opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan strike di bawah harga sekarang) pada indeks utama bisa menjadi asuransi sederhana terhadap penurunan tajam. Menggunakan put debit spread (membeli put dan sekaligus menjual put lain pada strike lebih rendah untuk menekan biaya) juga bisa menurunkan biaya perlindungan sambil membatasi risiko dan potensi hasilnya.

TD Securities menyebut CPI Inggris pada Maret mencapai 3,3% (yoy), dengan dampak pascakonflik yang dipicu harga bahan bakar membuat BoE tetap berhati-hati

CPI utama Inggris tercatat 3,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret, sesuai perkiraan (TDS/pasar: 3,3%), sementara Bank of England (BoE/bank sentral Inggris) memperkirakan “mendekati 3,5%”. Maret disebut sebagai bulan pertama yang menunjukkan dampak harga pascakonflik.

Energi menjadi pendorong utama, terutama melalui bahan bakar kendaraan. Inflasi jasa (services inflation/kenaikan harga layanan seperti transportasi, perhotelan, dan layanan lain) naik menjadi 4,5% yoy (TDS: 4,4%; pasar: 4,3%; sebelumnya: 4,3%), dipimpin oleh transportasi dan tarif pesawat (airfares/harga tiket penerbangan).

March Inflation Breakdown

Inflasi inti (core inflation/inflasi di luar komponen yang volatil seperti energi dan pangan) melambat ke 3,1% karena diskon yang lebih besar pada barang inti (core goods/barang non-energi dan non-pangan). Inflasi jasa inti (core services inflation), tidak termasuk sewa non-swasta (non-private rents/sewa yang ditetapkan atau dipengaruhi pemerintah/otoritas), tarif pesawat, dan akomodasi (accommodation/biaya penginapan), tidak berubah di 4,6%.

Kombinasi inflasi jasa yang lebih kuat dan inflasi barang inti yang lebih lemah dikaitkan dengan sikap hati-hati Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC, pengambil keputusan suku bunga BoE) menjelang rapat pekan depan. Artikel ini mencatat bahwa naskah dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga September, lalu mulai memangkasnya secara hati-hati

Jajak pendapat Reuters terhadap 103 ekonom menunjukkan makin banyak yang memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, sementara peluang penurunan suku bunga (pelonggaran) mundur.

Dalam survei tersebut, 56 dari 103 ekonom memperkirakan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) akan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%–3,75% setidaknya hingga September. Dalam survei akhir Maret, mayoritas ekonom memperkirakan setidaknya ada satu kali penurunan suku bunga sebelum periode itu.

Perkiraan Inflasi Naik

Perkiraan inflasi naik untuk Indeks Harga PCE (Personal Consumption Expenditures), yaitu ukuran inflasi berdasarkan belanja konsumsi rumah tangga yang menjadi acuan utama The Fed. Para ekonom kini memperkirakan PCE rata-rata 3,7% pada kuartal II (Q2), 3,4% pada kuartal III (Q3), dan 3,2% pada kuartal IV (Q4).

Dalam survei Maret, angka untuk kuartal yang sama diperkirakan 3,3%, 3,1%, dan 2,9%. Angka terbaru ini mengindikasikan penurunan inflasi berjalan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

Meski begitu, 71 dari 103 ekonom masih memperkirakan setidaknya ada satu kali penurunan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun. Pandangan ini bertumpu pada proyeksi bahwa inflasi bisa melunak pada paruh kedua tahun ini.

Implikasi Pasar Bagi Trader

Saat ini situasinya mirip: data Core PCE (PCE inti, yakni inflasi PCE tanpa komponen makanan dan energi yang biasanya lebih bergejolak) untuk Maret 2026 bertahan di 2,8%, jauh di atas target The Fed. Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga pada Juni 2026, sebagaimana tercermin dari Fed Funds futures (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi pasar atas suku bunga acuan The Fed), turun menjadi 35% dari di atas 70% dua bulan lalu.

Bagi trader, ini berarti volatilitas suku bunga (naik-turun harga akibat perubahan ekspektasi suku bunga) kemungkinan tetap tinggi, sehingga opsi atas SOFR futures bisa menjadi alat yang berguna. SOFR (Secured Overnight Financing Rate) adalah suku bunga acuan berbasis transaksi pinjaman semalam dengan jaminan, yang banyak dipakai sebagai patokan pasar uang. Strategi seperti straddle atau strangle (membeli opsi beli dan opsi jual untuk mendapat keuntungan bila harga bergerak besar, tanpa harus menebak arahnya) bisa dimanfaatkan. Posisi ini mengambil peluang dari ketidakpastian pasar: pemicu berikutnya bisa inflasi yang kembali tinggi atau perlambatan ekonomi mendadak.

Kondisi ini juga mengisyaratkan Indeks Volatilitas Cboe (VIX), yang kini di sekitar 17, bisa terlalu rendah dalam mencerminkan risiko kejutan kebijakan dalam beberapa bulan ke depan. VIX adalah indikator ekspektasi volatilitas indeks saham S&P 500. Membeli opsi call VIX untuk Juni dan Juli dapat menjadi lindung nilai (hedging) yang relatif murah terhadap guncangan pasar. Secara historis, periode ketidakpastian kebijakan The Fed dapat memicu lonjakan volatilitas ketika data ekonomi yang tidak terduga dirilis.

Karena pasar masih memperkirakan penurunan suku bunga pada paruh akhir tahun ini, calendar spread pada Eurodollar atau Fed Funds futures bisa menjadi cara untuk memainkan soal waktu. Calendar spread adalah strategi dengan menjual kontrak bulan dekat dan membeli kontrak bulan yang lebih jauh untuk bertaruh bahwa pasar akan terus menggeser mundur ekspektasi pelonggaran. Strategi ini mencari untung dari perubahan jadwal, bukan dari arah akhir suku bunga.

Kepercayaan Konsumen Zona Euro Turun ke -20,6 pada April, Memburuk dari -16,3 Sebelumnya

Kepercayaan konsumen Zona Euro turun ke -20,6 pada April, dari -16,3 pada rilis sebelumnya.

Angka April menunjukkan penurunan 4,3 poin dibanding bulan sebelumnya. Indeks tetap berada di bawah nol, artinya optimisme konsumen masih lebih rendah daripada pesimisme.

Sinyal Kepercayaan Konsumen: Tekanan Meningkat

Penurunan kepercayaan konsumen Zona Euro ke -20,6 menjadi sinyal kuat meningkatnya tekanan ekonomi, jauh lebih lemah dari perkiraan analis. Ini adalah penurunan terdalam sejak kuartal III 2025, yang menunjukkan rumah tangga cepat menahan belanja. Sentimen ini sejalan dengan data terbaru: pesanan pabrik Jerman (indikator permintaan baru untuk industri manufaktur) pada Maret 2026 turun 1,2%, menandakan perlambatan sudah terjadi di sektor industri.

Kami menilai outlook konsumen yang lemah akan menekan saham Eropa, terutama sektor consumer discretionary (saham barang/jasa non-kebutuhan seperti ritel, otomotif, dan hiburan). Data ini mendukung strategi membeli put option (opsi jual, instrumen derivatif untuk lindung nilai atau mencari untung saat harga turun) pada indeks Euro Stoxx 50 sebagai hedging (lindung nilai) terhadap potensi penurunan pasar pada Mei–Juni. Pendekatan ini mirip dengan posisi defensif awal 2025 ketika angka kepercayaan yang serupa diikuti koreksi pasar 5%.

Laporan ini kemungkinan mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) bersikap lebih hati-hati, sehingga kenaikan suku bunga dalam waktu dekat menjadi kecil kemungkinannya. Meski inflasi inti (core inflation: inflasi yang biasanya tidak memasukkan harga energi dan pangan yang bergejolak) masih bertahan di 3,1% pada rilis terakhir, pelemahan konsumen kemungkinan akan menjadi fokus utama pembuat kebijakan ke depan. Kami mempertimbangkan posisi di interest rate futures (kontrak berjangka suku bunga, instrumen untuk mengambil posisi atas arah suku bunga) yang diuntungkan jika ekspektasi suku bunga jangka pendek turun.

Perbedaan arah ekonomi antara Zona Euro yang melambat dan Amerika Serikat yang lebih tahan, dengan tambahan 230.000 pekerjaan pada laporan terakhir, berpotensi menekan euro. Arah kebijakan ECB dan Federal Reserve tampak makin berbeda, menciptakan peluang. Kami melihat ini sebagai pemicu untuk membuka posisi short (posisi yang untung jika harga turun) pada pasangan mata uang EUR/USD, dengan target pergerakan menuju 1,05 dalam beberapa minggu ke depan.

Volatilitas Berpotensi Naik

Ketidakpastian ekonomi biasanya mendorong volatilitas pasar (naik-turunnya harga). Pelajaran dari krisis energi 2022 menunjukkan penurunan tajam kepercayaan konsumen mendahului lonjakan besar pada indeks VSTOXX, yaitu indikator utama volatilitas saham Eropa. Membeli VSTOXX call option (opsi beli, instrumen derivatif untuk mengambil untung saat harga naik) atau kontrak futures (kontrak berjangka) dapat menjadi cara untuk memanfaatkan meningkatnya ketidakpastian yang dipicu laporan ini.

Trump dan sumber Pakistan mengisyaratkan pembicaraan AS–Iran bisa kembali digelar paling cepat Jumat, menurut New York Post

The New York Post melaporkan pada Rabu, mengutip Presiden AS Donald Trump dan sumber Pakistan, bahwa putaran kedua pembicaraan AS–Iran bisa berlangsung secepat Jumat.

Kantor berita Tasnim milik Iran menyebut Iran belum memutuskan apakah akan menghadiri pembicaraan tersebut. Fox News melaporkan seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Presiden Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran selama 3–5 hari. (Gencatan senjata: kesepakatan penghentian sementara operasi militer.)

Reaksi Pasar dan Perkiraan Harga Jangka Dekat

Pada saat laporan ini dibuat, Indeks Dolar AS hampir tidak berubah di sekitar 98,40. Laporan itu menyebut perkembangan tersebut belum terlihat memengaruhi sentimen pasar.

Dengan kabar potensi gencatan senjata dan pembicaraan kembali antara AS dan Iran, pasar mengingat pola yang sering muncul pada akhir 2010-an. Reaksi awal tampak tenang, namun kondisi “tenang” seperti ini kerap mendahului pergerakan besar di pasar energi. Pelaku derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) perlu bersiap untuk kemungkinan turunnya premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik) yang belakangan terbentuk.

Dampak paling langsung ada pada harga minyak mentah, ketika volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas dari harga opsi) perlahan naik. Tercatat pada awal 2020, tensi serupa membuat indeks volatilitas minyak (OVX, ukuran “tingkat gejolak” harga minyak dari pasar opsi) melonjak lebih dari 30% sebelum turun tajam ketika ancaman mereda. Ini mengarah pada strategi menjual opsi beli out-of-the-money (opsi beli dengan harga pelaksanaan di atas harga pasar saat ini; peluang untungnya kecil, namun menerima premi) pada kontrak berjangka Brent atau WTI untuk mengumpulkan premi, dengan asumsi pembicaraan sukses akan menenangkan pasar. (Brent/WTI: patokan harga minyak mentah global/AS. Kontrak berjangka: perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk tanggal mendatang. Premi: biaya yang diterima/dibayar untuk opsi.)

Bagi yang mencari arah lebih jelas, membeli opsi jual jangka panjang pada minyak mentah dapat menjadi lindung nilai terhadap “peace dividend” (turunnya harga karena risiko perang mereda). Secara historis, lonjakan harga minyak akibat geopolitik biasanya tajam tetapi sering singkat. Contohnya setelah serangan pada fasilitas Saudi pada 2019, harga memang melonjak sekitar 20% namun kemudian turun kembali dalam beberapa pekan. Konfirmasi dialog bisa mendorong Brent kembali ke batas bawah kisaran perdagangannya belakangan ini. (Opsi jual/put: memberi hak menjual di harga tertentu; nilainya naik saat harga aset turun. Lindung nilai/hedge: posisi untuk mengurangi risiko.)

Kita juga perlu memantau mata uang safe haven (mata uang “tempat berlindung” saat pasar panik), yang sejauh ini belum bereaksi. Dolar AS dan franc Swiss biasanya menguat ketika ketegangan Timur Tengah meningkat. Jika ada tanda pembicaraan tersendat, ini bisa menjadi peluang membeli opsi beli pada USD Index (DXY, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sebagai lindung nilai makro terhadap skenario risk-off (investor menghindari aset berisiko dan beralih ke aset aman).

Penempatan Posisi untuk Volatilitas Minyak dan Premi Risiko

Pola ini sejalan dengan yang terlihat pada 2025, ketika gangguan kecil di Selat Hormuz memicu reli minyak sekitar 8% yang kemudian berbalik sepenuhnya dalam sepuluh hari perdagangan. Mengingat lebih dari 20% pasokan minyak harian dunia melewati titik sempit tersebut (chokepoint: jalur strategis yang jika terganggu berdampak besar), pelonggaran sikap militer bisa memberi efek besar yang menekan harga. Karena itu, posisi sebaiknya mengantisipasi penurunan harga minyak dan volatilitas bila pembicaraan Jumat ini benar-benar terjadi.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Strategis OCBC menyebut kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak mendorong imbal hasil naik, memperketat kondisi keuangan, dan menopang penguatan dolar AS di tengah sentimen risk-off

Risiko inflasi yang didorong kenaikan harga minyak memperketat kondisi keuangan global. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi (yield, yaitu tingkat keuntungan obligasi) naik dan menguatkan Dolar AS, sementara minat terhadap aset berisiko melemah.

Dolar AS menguat dan emas turun ketika yield global naik, dipimpin oleh tenor pendek (obligasi berjangka pendek seperti 2 tahun yang sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga). Data ekonomi AS yang solid mendukung pandangan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) bisa menahan suku bunga lebih lama.

Kuatnya Penjualan Ritel Menandakan Permintaan Masih Sulit Turun

Penjualan ritel Maret naik lebih tinggi dari perkiraan, karena konsumen menyerap kenaikan harga bensin. Belanja juga kemungkinan terbantu oleh pengembalian pajak (tax refund) yang lebih besar dari biasanya, terkait One Big Beautiful Bill Act.

Indeks sentimen konsumen University of Michigan turun pada April ke level terendah. Ini menandakan risiko pelemahan belanja konsumen jika guncangan harga energi berlanjut.

Tekanan harga energi yang bertahan dapat menekan pertumbuhan AS dan memperbesar kekhawatiran stagflasi (situasi ketika inflasi tinggi tetapi ekonomi melambat). Kondisi ini biasanya mendukung Dolar AS.

Risiko inflasi yang kembali naik, dipicu harga minyak, memperketat kondisi keuangan secara global. Saat minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) baru-baru ini menembus US$95 per barel—level tertinggi sejak akhir 2024—yield naik dan Dolar AS semakin kuat. Lingkungan seperti ini membuat aset berisiko lebih sulit menguat dalam jangka dekat.

Prospek Kebijakan The Fed dan Posisi Pasar

The Fed terlihat nyaman mempertahankan suku bunga tinggi untuk sementara, terutama setelah Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi) Maret 2026 menunjukkan inflasi masih “lengket” atau sulit turun di 3,8%. Ekspektasi ini mendorong yield obligasi jangka pendek naik, dengan Treasury 2 tahun (obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun) berada jelas di atas 5,1%. Pelaku pasar juga melirik strategi opsi yang diuntungkan dari kenaikan suku bunga, misalnya membeli put pada ETF obligasi (put adalah kontrak opsi yang nilainya naik saat harga aset turun; ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan seperti saham).

Kondisi ini menopang Dolar AS karena The Fed yang sabar berarti imbal hasil memegang dolar lebih tinggi dibanding mata uang lain. Strateginya antara lain memakai call option pada indeks dolar (call adalah opsi yang diuntungkan saat harga naik) atau futures (kontrak berjangka) untuk posisi dolar lebih kuat terhadap euro dan yen. Indeks dolar (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang) yang bertahan di sekitar 106,5 mencerminkan keyakinan ini.

Namun, pasar perlu mewaspadai perlambatan. Harga energi yang tinggi berkepanjangan dapat menekan ekonomi. Data terbaru sentimen konsumen University of Michigan menegaskan risiko tersebut, turun ke level terendah dalam lebih dari setahun dan menunjukkan konsumen mulai cemas. Dengan risiko stagflasi ini, membeli put pada S&P 500 (indeks saham AS) atau call pada VIX (indeks volatilitas, sering disebut “indeks ketakutan” karena naik saat pasar bergejolak) dapat menjadi lindung nilai (hedge, strategi untuk mengurangi risiko) yang lebih aman.

Emas tertekan karena yield yang naik membuat aset tanpa bunga seperti emas kurang menarik. Pola serupa pernah terjadi pada 2025 ketika ekspektasi penurunan suku bunga cepat memudar dan harga emas melemah. Artinya, sikap yang lebih hati-hati terhadap emas masih relevan, misalnya lewat strategi call spread pada futures emas (call spread adalah strategi opsi dengan membeli dan menjual call di level harga berbeda untuk membatasi risiko dan potensi untung).

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code