Back

Setelah pengumuman Trump soal blokade pelabuhan Iran, dolar stabil dan turun dari puncak di Asia di tengah sentimen bearish yang lebih luas

Dolar AS menguat setelah Presiden Trump mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran mulai pukul 10 waktu ET (Waktu Bagian Timur AS), setelah pembicaraan damai pada akhir pekan gagal. Pasar juga melihat saham dan obligasi melemah, sementara harga minyak naik.

Indeks Dolar AS (DXY)—indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—turun dari puncak sesi Asia sebelumnya. Puncak itu hanya sedikit di atas 99,2, mendekati tertinggi harian (intraday high) pada Rabu setelah pengumuman gencatan senjata (ceasefire) pada Selasa.

Tren Dolar Masih Tertekan

Meski dolar lebih kuat, kenaikan DXY sejauh ini terbatas. Pergerakan harga terbaru masih menunjukkan kecenderungan turun (bearish), setelah penurunan tajam pekan lalu.

Pergerakan pasar relatif tidak ekstrem, menandakan pelaku pasar menunggu rincian cakupan blokade dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Laporan juga menilai periode panjang harga minyak yang sangat tinggi dapat menekan pertumbuhan global, dengan negara-negara Asia paling rentan jika pasokan dari kawasan Teluk berkurang.

Reaksi pasar sesuai pola yang biasa terjadi ketika risiko geopolitik meningkat: dolar menguat, sementara saham dan obligasi melemah. Namun respons awal ini masih terbatas karena pasar menunggu kejelasan dampak ekonomi yang sebenarnya dari blokade.

Pergerakan terbesar terjadi di energi. Minyak Brent—patokan harga minyak global—baru-baru ini melonjak melewati US$115 per barel, level yang tidak terlihat lebih dari dua tahun. Kondisi ini mendorong CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX)—indeks yang mengukur volatilitas (besar kecilnya fluktuasi harga) minyak berdasarkan harga opsi—melonjak lebih dari 30%, sehingga strategi opsi menjadi jauh lebih mahal. Pelaku pasar perlu mengantisipasi permintaan tinggi untuk call option minyak (opsi beli, yaitu kontrak yang memberi hak membeli di harga tertentu) selama blokade masih berlaku.

Risiko Utama bagi Investor

Meski dolar sempat menguat, DXY kesulitan menembus area resistance penting di level 100—resistance adalah area harga yang sering menjadi “penghalang” kenaikan—dan kini bergerak di sekitar 99,5. Laju yang kurang kuat ini memperkuat pandangan bahwa tren dolar secara umum masih cenderung melemah. Artinya, jika ketegangan mereda, dolar bisa berbalik turun dengan cepat, sehingga posisi “long” dolar yang terlalu agresif (bertaruh dolar akan naik) menjadi berisiko.

Pasar saham terlihat gelisah, tercermin dari VIX—indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” karena mengukur ekspektasi gejolak pasar—melonjak dari 18 ke atas 24 saat S&P 500 turun setelah berita tersebut. Dalam situasi seperti ini, lindung nilai (hedging) untuk portofolio saham menjadi penting, misalnya dengan membeli index put (opsi jual atas indeks, yaitu kontrak yang nilainya naik jika indeks turun). Menjual volatilitas—misalnya melalui short straddle (strategi opsi yang bertaruh harga akan bergerak stabil, dengan menjual opsi beli dan opsi jual sekaligus)—sangat berbahaya sampai ketegangan benar-benar mereda.

Situasi serupa pernah terjadi ketika faktor geopolitik mendorong Brent mendekati US$140 per barel, memicu inflasi tinggi dan respons bank sentral yang agresif (kenaikan suku bunga cepat). Periode itu menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak yang bertahan lama dapat menekan laba perusahaan dan memperlambat pertumbuhan global selama beberapa kuartal.

Tekanan terhadap pertumbuhan global kemungkinan paling besar menghantam ekonomi Asia karena ketergantungan pada impor energi dari Teluk. Karena itu, investor dapat mempertimbangkan strategi untuk mengantisipasi pelemahan di pasar berkembang yang menjadi pengimpor minyak. Caranya antara lain membeli put pada ETF khusus negara terkait (ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) atau melakukan short pada mata uang seperti Rupee India dan Baht Thailand (short berarti mengambil posisi yang berpotensi untung jika nilai mata uang turun).

Strategis OCBC memperingatkan penguatan dolar Selandia Baru (NZD) akibat nada hawkish RBNZ berpotensi memudar di tengah prospek pertumbuhan yang lemah

Dolar Selandia Baru (NZD) naik setelah komentar bernada lebih ketat (hawkish, artinya cenderung ingin menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) dari Gubernur Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) Breman, yang mengatakan bank sentral bisa menaikkan suku bunga secara agresif jika inflasi inti kembali meningkat (core inflation, inflasi inti yang mengecualikan komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan). Perkiraan pasar kini mengarah pada hampir tiga kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Perkiraan ini berhadapan dengan kesenjangan output negatif Selandia Baru yang cukup besar (negative output gap, artinya ekonomi berjalan di bawah kapasitas normalnya sehingga tekanan inflasi biasanya lebih lemah) dan pertumbuhan yang belakangan berada di bawah tren (below-trend growth, pertumbuhan lebih lambat dari rata-rata jangka panjang). OCBC memperkirakan RBNZ baru mulai mengetatkan kebijakan (tightening, menaikkan suku bunga/menarik likuiditas) pada kuartal IV 2026 (4Q26).

Rbnz Policy Path And Nzd Risks

OCBC memproyeksikan satu kali kenaikan 25bp (basis poin; 25bp = 0,25%) pada 4Q26, sehingga suku bunga acuan (policy rate, suku bunga utama bank sentral) menjadi 2,75% pada akhir 2026. NZD dinilai berpeluang berkinerja lebih lemah dibanding dolar Australia.

NZD juga disebut sensitif terhadap kenaikan harga minyak. Kenaikan minyak yang kembali terjadi, termasuk pergerakan yang terkait dengan gagalnya pembicaraan AS–Iran, dinilai berpotensi menekan mata uang berisiko tinggi (high-beta, mata uang yang biasanya bergerak lebih tajam daripada pasar) dari negara pengimpor energi seperti NZD.

NZD menguat belakangan ini karena pembicaraan dari RBNZ soal kenaikan suku bunga agresif. Pasar kini bertindak seolah hampir tiga kali kenaikan suku bunga akan terjadi hingga akhir tahun ini. Ini tampak berlebihan jika melihat kondisi ekonomi saat ini.

Kami menilai ekspektasi pasar terlalu agresif, terutama setelah pertumbuhan PDB (GDP, ukuran total produksi ekonomi) kuartal terakhir hanya 0,2%. Ini berlawanan dengan optimisme yang terlihat pada akhir 2025 dan, dengan laporan inflasi terbaru yang menunjukkan penurunan tipis ke 4,2%, syarat agar RBNZ mulai menaikkan suku bunga secara keras menjadi sangat tinggi. Ekonomi Selandia Baru belum tumbuh cukup cepat untuk mendukung langkah seperti itu.

Trading Implications For Nzd Positioning

Pandangan kami, RBNZ akan menunda kenaikan suku bunga hingga kuartal IV 2026. Kami hanya memperkirakan satu kali kenaikan 0,25%. Ini berarti penguatan NZD saat ini rapuh dan berpotensi berbalik arah.

Bagi pelaku pasar derivatif (derivatives, produk turunan nilainya mengikuti aset acuan), pandangan ini mendukung pembelian opsi put (put option, kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu) pada NZD terhadap dolar AS. Strategi ini bisa menghasilkan keuntungan jika NZD melemah saat ekspektasi kenaikan suku bunga memudar. Ini juga membantu memposisikan diri untuk penurunan dengan batas risiko yang jelas.

Kami juga melihat NZD terus berkinerja lebih lemah dibanding dolar Australia. Harga bijih besi (iron ore), ekspor utama Australia, melonjak hingga di atas US$130 per ton, sementara harga produk susu Selandia Baru melemah dalam lelang terbaru. Perbedaan ini mendukung posisi bahwa NZD dapat melemah terhadap dolar Australia dalam beberapa pekan ke depan.

Terakhir, kenaikan harga minyak menjadi ancaman besar bagi NZD. Dengan Brent (Brent crude, patokan harga minyak global) kini diperdagangkan di atas US$95 per barel setelah pembicaraan AS–Iran gagal, status Selandia Baru sebagai pengimpor energi akan membebani ekonominya. Tekanan dari luar ini makin melemahkan alasan untuk beberapa kali kenaikan suku bunga seperti yang saat ini diperhitungkan pasar.

Bader Al Sarraf dari Standard Chartered: Gangguan di Hormuz Pangkas Ekspor Teluk, Hentikan Produksi, Perparah Kekhawatiran Inflasi

Selat Hormuz secara de facto (praktiknya di lapangan) telah tertutup sejak akhir Februari, dengan panggilan transit kapal tanker merosot mendekati nol di semua kategori kargo. Sejak itu, pasar energi fisik (perdagangan minyak/gas dengan pengiriman nyata, bukan hanya kontrak) menyesuaikan harga tajam lebih tinggi.

Ekspor minyak mentah di kawasan Teluk turun sekitar 43% antara Februari dan Maret. Ini membuat sekitar 11 juta barel per hari (mb/d) produksi praktis tidak tersalurkan (offline).

Implikasi bagi Pasokan Energi

Gangguan ini meluas dari energi ke harga komoditas lain, termasuk pangan. Korelasi lintas-aset (gerak harga yang saling terkait antara saham, obligasi, komoditas, dan mata uang) menunjukkan pasar sedang memasukkan skenario guncangan inflasi (kenaikan harga) ketimbang guncangan pertumbuhan (perlambatan ekonomi).

Data nyata belum menunjukkan dampak pada pertumbuhan ekonomi. Artikel ini dibuat menggunakan alat Kecerdasan Buatan (AI) dan ditinjau editor.

Dengan Selat Hormuz secara efektif tertutup sejak akhir Februari 2026, strategi perlu disiapkan untuk harga energi yang tinggi dan bertahan. Penurunan sekitar 11 juta barel per hari menciptakan guncangan pasokan besar dan bukan kejadian singkat. Posisi yang disarankan adalah menahan atau menambah posisi beli (long: untung saat harga naik) pada kontrak berjangka (futures: kontrak membeli/menjual di harga tertentu untuk waktu tertentu) minyak mentah, terutama kontrak bulan dekat seperti Brent Juni dan Juli, serta membeli opsi beli (call option: hak membeli di harga tertentu; nilainya naik saat harga naik) pada saham produsen energi besar dan ETF (Exchange Traded Fund: reksa dana yang diperdagangkan seperti saham).

Guncangan pasokan ini sudah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, dengan futures West Texas Intermediate kini diperdagangkan di atas US$135 per barel. Sebagai perbandingan, lonjakan serupa namun lebih ringan terjadi pada musim panas 2022 ketika harga sempat melampaui US$120, yang saat itu mendorong inflasi global. Kondisi saat ini lebih berat, sehingga level harga ini—atau lebih tinggi—berpotensi menjadi “normal baru” untuk beberapa waktu.

Reaksi awal pasar adalah guncangan inflasi, dan strategi perdagangan mengikuti arah itu. Dengan data Indeks Harga Konsumen (CPI: ukuran inflasi ritel) bulan Maret mencerminkan kenaikan awal biaya energi, diperkirakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mengurungkan pemangkasan suku bunga tahun ini. Karena itu, dapat digunakan derivatif suku bunga (instrumen turunan untuk berspekulasi atau lindung nilai terhadap pergerakan suku bunga) untuk bertaruh bahwa kebijakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama (higher-for-longer), karena The Fed harus menahan gelombang inflasi baru.

Penempatan Posisi untuk Volatilitas Makro

Pasar belum sepenuhnya memasukkan risiko guncangan pertumbuhan yang biasanya menyusul krisis energi berkepanjangan sebesar ini. Harga energi tinggi bekerja seperti “pajak” bagi konsumen dan menjadi biaya input utama bagi bisnis, yang pada akhirnya menekan aktivitas ekonomi. Ini membuka peluang untuk mulai membangun posisi yang diuntungkan saat terjadi pelemahan sebelum pasar lain menyadarinya.

Untuk bersiap menghadapi perlambatan, strategi yang disarankan adalah membeli opsi jual (put option: hak menjual di harga tertentu; nilainya naik saat harga aset turun) tenor menengah pada indeks pasar luas seperti S&P 500 dan Nasdaq 100. Sektor siklikal (sektor yang sensitif siklus ekonomi), seperti consumer discretionary (barang/jasa non-esensial) dan industri, paling rentan; sehingga put pada ETF sektor terkait bisa menjadi langkah taktis. Posisi ini berfungsi sebagai lindung nilai (hedge: pengaman) terhadap strategi berbasis inflasi dan berpotensi menghasilkan saat data ekonomi mulai melemah dalam beberapa bulan.

Ketidakpastian juga berarti volatilitas pasar (besarnya naik-turun harga) bisa meningkat. VIX (indeks volatilitas pasar saham AS yang sering disebut “indeks ketakutan”) saat ini berada di kisaran awal 20-an, terlihat terlalu rendah mengingat risiko geopolitik dan konsekuensi ekonomi dari penutupan selat. Strategi yang disarankan adalah membeli call option VIX sebagai cara langsung dan relatif murah untuk bertaruh pada meningkatnya ketakutan dan ketidakpastian pasar.

Akhirnya, dampak energi terhadap harga pangan tidak bisa diabaikan. Biaya bahan bakar dan pupuk yang lebih tinggi sudah menekan sektor pertanian, seperti yang terjadi pada awal 2022 setelah konflik di Ukraina. Strategi yang disarankan adalah membuka posisi beli pada futures komoditas pertanian seperti jagung dan gandum untuk memanfaatkan potensi kenaikan inflasi pangan.

Buka akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Di tengah konflik Timur Tengah, spekulan kembali menambah posisi long dolar, memfavoritkannya sebagai mata uang safe haven pilihan, kata Foley

Data posisi FX CFTC menunjukkan para spekulan terus membangun kembali posisi **long** Dolar AS. **Long** berarti bertaruh nilai Dolar AS akan naik. Dolar digunakan sebagai **safe haven** (aset “tempat berlindung” saat pasar bergejolak) selama konflik Timur Tengah.

Posisi long USD saat ini lebih kecil dibanding puncaknya dalam beberapa tahun terakhir, meski Dolar sudah menguat di **pasar spot** (transaksi harga saat ini/penyerahan segera) sejak akhir Februari. Pergerakan jangka pendek terkait **selera risiko** (minat investor mengambil aset berisiko) dan perubahan ekspektasi pemangkasan suku bunga AS.

Permintaan Dolar sebagai Safe Haven

Peran Dolar sebagai safe haven terkait **likuiditas** (mudah dibeli/dijual tanpa banyak mengubah harga) dan pemakaiannya yang luas untuk transaksi global. Peran ini diperkirakan masih bertahan untuk sementara waktu.

Spekulan terus menambah posisi long Dolar AS, karena mata uang ini tetap menjadi safe haven utama di tengah konflik Timur Tengah. Kami memperkirakan Dolar tetap berperan sebagai safe haven saat selera risiko melemah. Tren ini kemungkinan didukung oleh makin kecilnya harapan pemangkasan suku bunga AS dalam waktu dekat.

Kekuatan Dolar juga didorong data inflasi yang masih tinggi. Laporan terbaru **Indeks Harga Konsumen (CPI)** AS (ukuran inflasi harga barang dan jasa) untuk Maret 2026 tercatat 3,1%, mendorong pasar menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga **Federal Reserve** (bank sentral AS) hingga lebih akhir tahun. Ini berbeda jauh dari sentimen yang lebih **dovish** (lebih cenderung menurunkan suku bunga) pada paruh kedua 2025.

Pendekatan Trading dan Lindung Nilai

Posisi long USD saat ini yang dipegang spekulan, menurut CFTC, telah melampaui US$15 miliar, naik tajam sejak Februari. Namun, angka ini masih jauh di bawah puncak lebih dari US$40 miliar pada 2022. Ini menunjukkan bila ketegangan global memburuk, masih ada ruang arus dana tambahan masuk ke Dolar.

Bagi trader yang ingin memanfaatkan tren ini, membeli **opsi call** (hak membeli di harga tertentu) pada **Dollar Index (DXY)** (indeks nilai Dolar terhadap sekeranjang mata uang) dapat memberi peluang untung saat Dolar naik dengan risiko yang lebih terukur. Menjual **opsi put** (hak menjual di harga tertentu) pada pasangan mata uang seperti **EUR/USD** (nilai euro terhadap Dolar AS) adalah cara lain untuk menyatakan pandangan Dolar akan menguat, dengan memperoleh **premi** (biaya yang diterima dari transaksi opsi). Status Dolar sebagai mata uang utama untuk transaksi global masih menopang peran ini.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Ekonom Societe Generale: Aktivitas Zona Euro Melemah pada Kuartal I; Industri Jerman Tertinggal, Pertumbuhan Jerman Diproyeksikan 0,1% QoQ

Data aktivitas kawasan euro pada kuartal I lebih lemah dari perkiraan, dengan industri Jerman masih tertekan. Guncangan harga minyak disebut lebih sempit dibanding guncangan energi 2022, sehingga dampaknya ke aktivitas ekonomi Eropa lebih kecil.

Di Jerman, produksi industri masih turun tipis dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Proyeksi PDB (produk domestik bruto) Jerman untuk kuartal I tetap 0,1% dibanding kuartal sebelumnya (quarter on quarter/qoq), dengan ruang yang terbatas untuk hasil yang lebih tinggi.

Fundamental Kawasan Euro dan Penopang Utama

Fundamental kawasan euro ditopang neraca keuangan sektor swasta yang kuat (kondisi aset dan utang rumah tangga/perusahaan relatif sehat), investasi terkait AI (kecerdasan buatan) dan energi, stimulus fiskal Jerman (dorongan belanja/insentif dari pemerintah), serta pasar perumahan yang mulai stabil. Risiko efek upah “putaran kedua” yang luas (kenaikan upah lanjutan yang ikut mendorong kenaikan harga) seperti pada 2021–22 dinilai lebih rendah.

Faktor demografi di banyak negara dapat membuat pasar tenaga kerja tetap ketat (pasokan pekerja terbatas). Ini bisa memicu tekanan kenaikan upah lebih cepat sebagai respons terhadap guncangan harga energi dan stimulus fiskal Jerman.

Jika menengok awal 2025, pasar menghadapi data industri Jerman yang lemah, sehingga menahan optimisme Eropa secara umum. Saat itu, kami mencatat ketahanan yang didukung neraca sektor swasta yang kuat serta kebutuhan investasi di AI dan energi. Hal ini membentuk sentimen hati-hati, tetapi belum sampai pesimistis bagi pelaku pasar.

Optimisme yang hati-hati itu terbukti cukup tepat, karena stimulus fiskal Jerman memang membantu menstabilkan sektor industri pada paruh kedua tahun tersebut. Kini, produksi industri Jerman akhirnya mencatat kenaikan 1,2% yoy per Februari 2026, berbanding terbalik dengan penurunan yang kami pantau sebelumnya. Pembalikan arah ini menunjukkan risiko penurunan pada periode itu sebagian besar telah mereda.

Posisi Pasar dan Implikasi Perdagangan

Kekhawatiran soal tekanan upah akibat pasar tenaga kerja yang ketat menjadi poin utama pada 2025, dan masih relevan saat ini. Meski inflasi utama (headline, inflasi total) turun ke 2,6% menurut perkiraan cepat Eurostat (flash estimate, rilis awal), inflasi inti (core, di luar harga energi dan pangan yang bergejolak) masih bertahan di atas 3% dan didorong sektor jasa. Perbedaan ini membuat arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) tetap tidak pasti, sehingga strategi opsi (options, instrumen derivatif untuk membeli/menjual pada harga tertentu) yang diuntungkan dari volatilitas (naik-turun harga), seperti straddle pada Euro STOXX 50 (strategi membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus untuk mencari untung dari pergerakan besar), dinilai menarik.

Ketahanan neraca sektor swasta langsung tercermin pada sentimen konsumen yang lebih kuat dari perkiraan, terlihat dari data penjualan ritel Prancis dan Spanyol dalam satu kuartal terakhir. Karena itu, trader derivatif dapat mempertimbangkan posisi untuk kekuatan berlanjut di sektor yang terkait konsumsi, dibanding industri berat Jerman. Opsi beli (call options, hak membeli) pada ETF barang konsumsi non-primer (consumer discretionary, pengeluaran non-kebutuhan pokok) berpotensi mengungguli opsi jual (put options, hak menjual) pada indeks industri, memanfaatkan perbedaan yang sama seperti yang kami lihat lebih dari setahun lalu.

Dengan inflasi inti yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang tetap ketat, pasar mungkin menilai jalur penurunan suku bunga ECB tahun ini terlalu optimistis. Dari futures Euribor (kontrak berjangka suku bunga antarbank zona euro), kurva forward (perkiraan suku bunga ke depan) mengindikasikan setidaknya dua kali penurunan lagi hingga akhir tahun, yang terlihat agresif. Kami melihat peluang nilai dengan menggunakan interest rate swaps (swap suku bunga, tukar arus bunga tetap dan mengambang) atau menjual kontrak futures Euribor untuk bersiap pada sikap ECB yang lebih ketat dari perkiraan dalam beberapa bulan ke depan.

Deutsche Bank: ECB Tahan Suku Bunga pada Maret, Prediksi Dua Kenaikan 25 bps; Pasar Memperhitungkan Suku Bunga Deposito Netral 2%

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada Maret. Suku bunga simpanan (deposit rate, yaitu bunga untuk dana bank yang disimpan di ECB) tetap 2,0% dan dianggap level netral (tingkat suku bunga yang tidak mendorong atau menekan ekonomi).

Para ekonom Deutsche Bank kini memperkirakan dua kenaikan suku bunga masing-masing 25 basis poin (bps; 1 bps = 0,01 poin persentase) pada Juni dan September. Pasar sudah memasukkan (priced in; artinya sudah tercermin dalam harga aset) dua langkah ini.

Market Pricing And Rate Path

Hingga akhir tahun, pasar memasukkan pengetatan (tightening; kebijakan menaikkan suku bunga agar permintaan turun dan inflasi mereda) sekitar 66 bps. Ini menyiratkan peluang 64% untuk kenaikan suku bunga ketiga.

Para ekonom memangkas proyeksi pertumbuhan zona euro 2026 menjadi 0,5% dari 1,1%. Mereka menilai harga energi yang lebih tinggi dan data ekonomi yang lemah sebagai penyebabnya.

Inflasi zona euro diperkirakan 2,8% pada 2026. Kebijakan fiskal Jerman (fiscal policy; kebijakan pajak dan belanja pemerintah) disebut bisa membantu zona euro secara lebih luas.

Trading Implications And Risk Scenarios

Kami melihat ECB berada dalam posisi sulit karena diperkirakan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini untuk menekan inflasi. Namun ekonomi jelas melambat, sehingga kenaikan suku bunga ini berisiko menekan pertumbuhan. Pasar sudah memasukkan dua kenaikan 25 bps pada Juni dan September.

Data inflasi zona euro terbaru untuk Maret tercatat 2,4%, masih di atas target 2% dan mendukung alasan kenaikan suku bunga. Namun survei aktivitas usaha terbaru, seperti Purchasing Managers’ Index (PMI; survei bulanan kondisi bisnis. Angka di bawah 50 berarti aktivitas menyusut), menunjukkan manufaktur berada di 47,1, yang menandakan pelemahan berlanjut. Data lemah ini membuat bank sentral lebih sulit membenarkan pengetatan kebijakan dan mencapai proyeksi pertumbuhan 0,5%.

Kami mengingat ECB sempat tidak siap menghadapi lonjakan inflasi pada 2022 dan kemudian terpaksa menaikkan suku bunga secara agresif. Pengalaman ini kemungkinan mendorong mereka bersikap lebih tegas untuk menjaga kredibilitas. Kekhawatiran utama adalah inflasi menjadi “menetap” (entrenched; inflasi bertahan tinggi dan sulit turun), meski berisiko menimbulkan tekanan ekonomi jangka pendek.

Dengan kondisi tarik-menarik ini, strategi kunci adalah bersiap pada kemungkinan ECB menghentikan siklus kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan karena ekonomi melemah. Ini bisa dilakukan lewat derivatif (instrumen turunan; kontrak yang nilainya mengikuti aset/acuan lain) seperti interest rate swaps (swap suku bunga; perjanjian menukar pembayaran bunga tetap dan mengambang) atau membeli kontrak futures (kontrak berjangka; perjanjian membeli/menjual di harga tertentu pada waktu tertentu) yang terkait Euribor (Euro Interbank Offered Rate; acuan suku bunga pinjaman antarbank di zona euro). Tujuannya mendapat keuntungan bila pasar mulai menghapus (price out; tidak lagi memasukkan dalam harga) kenaikan September karena data ekonomi memburuk.

Kami juga melihat peluang di pasar mata uang, khususnya euro. Jika ECB memilih memprioritaskan ekonomi yang melemah dan menghentikan kenaikan suku bunga, euro bisa melemah terhadap dolar AS. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put options; kontrak yang nilainya naik jika harga/aset turun) pada EUR/USD, yang akan meningkat nilainya bila euro turun.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Ekonom Virovacz dan Taborsky: mayoritas super Tisza reda kekhawatiran kebijakan, dorong optimisme membaiknya hubungan dengan Uni Eropa

Ekonom ING Peter Virovacz dan Frantisek Taborsky mengatakan supermayoritas baru di Hungaria yang dipimpin Tisza telah mengurangi ketidakpastian kebijakan dalam waktu dekat. Mereka menilai hal itu juga meningkatkan harapan perbaikan lembaga negara yang lebih cepat, hubungan dengan Uni Eropa (UE) yang membaik, serta kredibilitas fiskal yang lebih kuat (kepercayaan pasar bahwa pemerintah mampu mengelola anggaran dan utang secara disiplin).

Mereka mengatakan sengketa dana UE kemungkinan tidak akan selesai cepat, meski banyak pihak berharap demikian. Mereka memperkirakan akan ada penundaan sebelum dana UE benar-benar dicairkan.

Reset Anggaran dan Pertukaran Kebijakan Fiskal

Mereka mengatakan anggaran negara berada di bawah tekanan untuk dirombak karena asumsi makroekonomi (perkiraan dasar seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga) yang mendasarinya telah berubah. Mereka menambahkan, membongkar anggaran warisan dan kerangka kebijakan ekonomi sebelumnya dapat memperburuk indikator fiskal (misalnya defisit dan rasio utang) dalam jangka pendek.

Mereka mengatakan pemerintah baru dapat menetapkan tanggal target adopsi euro dan menjelaskan jalur untuk mencapainya. Mereka mengatakan rincian jalur tersebut dapat disesuaikan kemudian.

Rencana Transaksi untuk Volatilitas Jangka Pendek

Kami memperkirakan proses membongkar anggaran warisan akan membuka sejumlah angka yang buruk. Defisit anggaran Hungaria sudah mencapai HUF 2.321 miliar pada kuartal I 2026, dan pelemahan tambahan dalam jangka pendek untuk merestrukturisasi kebijakan kemungkinan akan menekan forint. Kondisi ini mendukung pembelian opsi call jangka pendek pada pasangan EUR/HUF, dengan target pergerakan di atas level 400.

Optimisme soal pencairan dana UE perlu disikapi hati-hati. Pada periode 2023–2025, negosiasi semacam ini bisa berlangsung lama, dan keterlambatan akan menghilangkan salah satu penopang utama bagi mata uang. Ketidakpastian yang berlanjut mendukung posisi bearish (posisi yang diuntungkan bila nilai turun) pada forint untuk satu hingga dua bulan ke depan.

Namun, kemungkinan penetapan tanggal target adopsi euro adalah pendorong bullish (faktor yang berpotensi mendorong penguatan) yang besar dan tidak bisa diabaikan. Pengumuman yang kredibel akan memicu penguatan tajam forint karena pasar melakukan “convergence trade” (strategi mengambil posisi dengan asumsi pergerakan ekonomi dan aset Hungaria akan mendekati standar zona euro). Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call HUF berjangka lebih panjang yang out-of-the-money (harga kesepakatan/strike lebih “jauh”, sehingga lebih murah namun butuh pergerakan harga besar) untuk menangkap potensi kenaikan tanpa mengambil risiko besar dalam waktu dekat.

Ini menciptakan ruang untuk strategi calendar spread pada EUR/HUF. Pelaku pasar dapat menjual opsi call jangka pendek untuk memanfaatkan premi (harga opsi) yang saat ini tinggi, sambil membeli opsi call dengan jatuh tempo lebih panjang. Strategi ini memosisikan untuk pelemahan atau pergerakan datar dalam jangka pendek, lalu peluang penguatan forint kemudian di tahun ini.

Penjualan rumah bekas AS pada Maret di bawah perkiraan, tercatat 3,98 juta vs estimasi 4,06 juta

Penjualan rumah existing (rumah yang sudah pernah ditempati dan dijual kembali) di AS pada Maret berada di bawah perkiraan. Pasar memperkirakan 4,06 juta unit, tetapi realisasinya 3,98 juta unit.

Hasil ini menunjukkan penjualan bulanan lebih rendah dari perkiraan. Ini mencerminkan aktivitas yang melemah dibanding proyeksi.

Sinyal Pasar Perumahan Mendingin

Kegagalan mencapai target pada penjualan rumah existing Maret mengindikasikan pasar perumahan mendingin lebih dalam dari perkiraan. Pelemahan ini terutama disebabkan masalah keterjangkauan (harga rumah dan cicilan makin berat), tren yang juga terlihat sepanjang 2025 ketika suku bunga hipotek 30 tahun (bunga KPR tenor 30 tahun) bertahan di atas 6,5%. Bagi pelaku pasar, ini menjadi sinyal bahwa kebijakan ketat The Federal Reserve (bank sentral AS; kebijakan ketat berarti suku bunga tinggi dan pengetatan likuiditas) berdampak kuat pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga.

Data perumahan yang lemah ini meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada paruh akhir tahun. Pasar fed funds futures (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi suku bunga acuan The Fed) mulai memasang peluang lebih besar untuk pemangkasan pada kuartal III. Namun, laporan ini bertentangan dengan data inflasi terbaru yang menunjukkan core services masih “sticky” (inflasi jasa inti sulit turun), sehingga bank sentral berada dalam posisi sulit.

Dengan tekanan pada sektor perumahan, posisi bearish (strategi meraih untung saat harga turun) pada ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) saham pengembang rumah seperti ITB dan XHB patut dipertimbangkan. Membeli put option (opsi jual, memberi hak menjual pada harga tertentu) pada instrumen ini dapat menjadi strategi untuk memanfaatkan potensi pelemahan lanjutan. Ini juga bisa berdampak ke ritel terkait, seperti toko perbaikan rumah, karena penjualan biasanya turun saat perputaran transaksi rumah melambat.

Sebaliknya, meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga membuat obligasi pemerintah lebih menarik. Ada peluang mengambil posisi long (mendapat untung saat harga naik) pada Treasury note futures (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS tenor menengah), karena harganya cenderung naik jika The Fed memberi sinyal lebih dovish (lebih condong melonggarkan kebijakan, misalnya menurunkan suku bunga). Ini dapat menjadi lindung nilai (hedge, pelindung portofolio) saat pertumbuhan ekonomi melambat.

Bersiap Menghadapi Volatilitas Lebih Tinggi

Benturan antara pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang tetap tinggi kemungkinan meningkatkan volatilitas (naik-turun harga yang lebih tajam) pasar dalam beberapa pekan ke depan. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi opsi (instrumen turunan yang memberi hak beli/jual) pada S&P 500 (indeks saham utama AS) untuk memanfaatkan potensi pergerakan harga yang lebih besar. Kondisi ini mengingatkan pada pasar yang bergerak tidak menentu pada akhir 2025 ketika pasar belum yakin langkah The Fed berikutnya.

Penjualan Rumah Bekas AS Turun 3,6% (mtm), Berbalik dari Kenaikan 1,7% pada Maret

Penjualan rumah existing (rumah bekas) di AS turun 3,6% secara bulanan (month on month/MoM) pada Maret. Ini berbalik dari kenaikan 1,7% pada bulan sebelumnya.

Angka terbaru ini menunjukkan perubahan arah dari naik menjadi turun dalam sebulan. Data ini membandingkan Maret dengan perubahan yang dilaporkan pada bulan sebelumnya.

Kami menilai penurunan tajam -3,6% pada Maret sebagai sinyal peringatan yang jelas. Ini membalikkan optimisme singkat pada Februari dan menegaskan pasar perumahan kembali rapuh. Pelemahan ini bisa menjadi tanda awal perlambatan yang lebih luas pada belanja konsumen.

Pelemahan perumahan ini merupakan respons langsung terhadap suku bunga KPR (mortgage, kredit pemilikan rumah). Suku bunga tetap (fixed rate) tenor 30 tahun baru-baru ini naik lagi ke 7,1% menurut data terbaru Freddie Mac (lembaga yang memantau dan mempublikasikan data suku bunga KPR di AS). Kondisi ini membuat Federal Reserve berada dalam posisi sulit, terutama setelah rilis CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) pekan lalu yang naik 3,2% secara tahunan (year-over-year/YoY, dibanding periode yang sama tahun lalu). Pasar kini mungkin perlu meninjau ulang kapan peluang pemangkasan suku bunga (rate cuts, penurunan suku bunga acuan) bisa terjadi tahun ini.

Dengan latar ini, kami mempertimbangkan strategi opsi (options, instrumen derivatif untuk mengambil posisi naik/turun dengan risiko terukur) yang lebih defensif pada saham terkait perumahan. Pertimbangkan membeli opsi jual (put options, hak untuk menjual aset pada harga tertentu) pada ETF (exchange-traded fund, reksa dana yang diperdagangkan di bursa) sektor pengembang rumah (homebuilder) seperti ITB, karena paling langsung terdampak pelemahan ini. Kami juga melihat potensi tekanan di sektor keuangan, terutama bank yang banyak bergantung pada penyaluran KPR baru (mortgage origination, proses menerbitkan/menyalurkan KPR).

HSBC: Ketegangan Timur Tengah dan guncangan harga minyak mengerek dolar, memperkuat korelasi USD–minyak lewat arus safe haven

HSBC menyebut geopolitik Timur Tengah dan harga minyak sebagai pendorong utama pergerakan dolar AS dan mata uang utama lain di kelompok G8. Bank ini menilai hubungan terbaru antara dolar dan minyak makin kuat, dipicu oleh **guncangan pasokan** (gangguan tiba-tiba pada ketersediaan minyak) dan **arus safe haven** (perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman saat risiko naik).

Bank tersebut menilai arah pasar bisa sangat bergantung pada gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan pergerakan harga minyak. HSBC menambahkan, perubahan besar pada **risiko geopolitik** (ketegangan politik yang bisa memicu konflik) dapat mendorong pasar berganti antara **risk-off** (investor menghindari risiko) dan **risk-on** (investor berani mengambil risiko).

Kaitan Minyak dan Dolar Menguat

HSBC menyebut harga minyak yang lebih rendah dapat membantu negara **importir energi bersih** (lebih banyak mengimpor energi daripada mengekspor) dan mendukung **selera risiko** (minat investor pada aset berisiko). Dalam kondisi “risk-on”, mata uang yang sensitif terhadap pertumbuhan cenderung mengungguli mata uang “safe-haven” (mata uang yang dicari saat pasar takut).

HSBC memperkirakan yen Jepang bisa tertinggal, serta menyoroti risiko **intervensi** (aksi pemerintah/bank sentral masuk pasar valas untuk memengaruhi nilai tukar) ketika USD/JPY berada di kisaran 158–162.

HSBC menilai bila minyak stabil di sekitar US$100, tekanan jangka pendek pada negara importir bersih dapat berkurang. Pada skenario ini, risiko **resesi** (penurunan aktivitas ekonomi) dinilai terbatas, sementara kekhawatiran **fiskal** (kondisi anggaran negara/utang pemerintah) dapat meningkat. HSBC memperkirakan pasar valuta asing bergerak dalam **rentang** (naik-turun terbatas) dengan kecenderungan ringan menguat ke arah dolar.

HSBC juga menyebut gangguan berkepanjangan pada aliran minyak dan gas lewat Hormuz dapat melemahkan sentimen, meningkatkan permintaan aset safe-haven, dan merugikan importir bersih melalui efek **terms of trade** (perubahan rasio harga ekspor terhadap impor yang memengaruhi daya beli suatu negara). Jika kaitan dolar–minyak melemah, faktor dasar pasar valas sebelum konflik bisa kembali lebih berpengaruh. HSBC menambahkan The Fed tidak sedang dalam siklus kenaikan suku bunga maupun bersikap sangat agresif (**hawkish**: condong mengetatkan kebijakan untuk melawan inflasi).

Kami menilai geopolitik Timur Tengah dan harga minyak saat ini menjadi penggerak utama pasar valas. Arah pasar kemungkinan ditentukan oleh tanda-tanda nyata, seperti gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang langsung memengaruhi harga minyak. Saat ketegangan naik-turun, minyak bisa bergerak tajam dan sentimen pasar ikut berubah.

Sinyal yang Perlu Dipantau di Pasar

Sejak konflik meningkat pada akhir 2025, dolar AS dan harga minyak terlihat bergerak lebih searah. Dengan Brent baru-baru ini diperdagangkan mendekati US$98 per barel dan **Dollar Index (DXY)** (indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan di atas 106, hal ini mencerminkan kekhawatiran pasokan energi dan investor yang mencari dolar sebagai safe haven. Ini berbeda dari pola yang terlihat pada sebagian besar tahun lalu.

Gangguan berkepanjangan kemungkinan merugikan negara importir energi bersih seperti kawasan Euro dan Jepang. Data kuartal I 2026 sudah menunjukkan tagihan impor energi Uni Eropa meningkat, yang dapat terus menekan euro. Pelaku pasar dapat mencermati eskalasi yang bisa mendukung strategi untuk mengantisipasi pelemahan EUR/USD.

Yen Jepang sangat lemah, tetapi perlu waspada karena USD/JPY kini diperdagangkan di atas 159. Level serupa di sekitar 160 pernah memicu intervensi otoritas Jepang pada akhir 2025. Risiko ini membuat posisi yang bertaruh yen terus melemah menjadi lebih berbahaya, karena aksi pemerintah bisa memicu pembalikan tajam.

Jika hubungan positif antara minyak dan dolar mulai melemah, itu bisa menjadi sinyal awal kembalinya pola lama pasar. Misalnya, jika harga minyak turun kembali mendekati US$85 seperti akhir tahun lalu, selera risiko berpotensi membaik dan menguntungkan **mata uang komoditas** (mata uang negara eksportir komoditas seperti minyak, logam, atau pangan). Pantau kelancaran dan keamanan pelayaran tanker melalui Selat Hormuz sebagai sinyal penting perubahan ini.

Perlu dipertimbangkan juga faktor yang bisa membatasi penguatan dolar secara luas. The Fed tidak menaikkan suku bunga, dan meski data inflasi Maret sedikit tinggi di 3,1%, The Fed belum menjadi lebih agresif. Sikap ini bisa menahan reli dolar jika kekhawatiran geopolitik mulai mereda.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code