Yen Jepang menguat terhadap mata uang utama setelah Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) mempertahankan suku bunga kebijakannya di 0,75% untuk pertemuan ketiga, mendorong USD/JPY turun ke sekitar 159,25. Keputusan ini sudah diperkirakan, karena konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek ekonomi.
Pasar menunggu konferensi pers Gubernur BoJ Kazuo Ueda pada 06:30 GMT (waktu Greenwich, patokan waktu internasional). Perhatian tertuju pada sinyal mengenai langkah kenaikan suku bunga secara bertahap, serta apakah tekanan inflasi (kenaikan harga) diperkirakan lebih dipicu pertumbuhan ekonomi, bukan biaya energi.
Fokus Pada Federal Reserve
Fokus Dolar AS kini mengarah ke keputusan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) pada Rabu. The Fed diperkirakan kembali menahan suku bunga untuk ketiga kalinya di kisaran 3,50%–3,75%, sambil menyoroti risiko inflasi yang masih bisa naik dan risiko pertumbuhan yang melemah terkait kenaikan harga minyak.
Dalam politik AS, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden Donald Trump membahas proposal Iran dengan tim keamanan nasional. Proposal itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan gencatan senjata permanen, namun belum ada rincian apakah Washington akan menindaklanjutinya.
Konferensi pers BoJ digelar setelah masing-masing dari delapan pertemuan kebijakan terjadwal. Gubernur menjelaskan keputusan suku bunga, membahas pertumbuhan dan inflasi, serta memberi petunjuk kebijakan ke depan, yang dapat menggerakkan Yen.
Yen menguat meski BoJ menahan suku bunga 0,75%. Ini menunjukkan pelaku pasar lebih memperhatikan nada pernyataan bank sentral ke depan dibanding langkah saat ini. Volatilitas tersirat (perkiraan besarnya pergerakan harga dari premi opsi) untuk opsi USD/JPY tenor satu minggu melonjak di atas 14%, menandakan pasar bersiap menghadapi pergerakan harga yang lebih besar dalam beberapa hari ke depan.
Level Volatilitas Kunci
Perhatian beralih ke rapat The Fed pada Rabu, dengan ekspektasi suku bunga tetap 3,50%–3,75%. Selisih suku bunga AS dan Jepang yang besar—secara konsisten di atas 2,5% selama delapan bulan terakhir—tetap menjadi faktor utama yang menopang dolar. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perubahan halus pada bahasa The Fed soal risiko inflasi.
Situasi serupa terjadi pada musim panas 2025 ketika ketegangan di Laut China Selatan mendorong arus dana ke Yen, membuat USD/JPY turun 4% dalam sepekan. Pergerakan itu berbalik sepenuhnya setelah The Fed kembali menegaskan sikap agresif terhadap inflasi (hawkish: condong mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menekan inflasi) sebulan kemudian. Ini menunjukkan pergerakan mata uang yang dipicu geopolitik bisa cepat memudar bila perbedaan arah kebijakan moneter tetap besar.
Faktor yang sulit diprediksi tetap kondisi geopolitik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap minyak. Dengan kontrak berjangka (futures: perjanjian jual-beli pada harga tertentu untuk pengiriman di masa depan) minyak Brent untuk pengiriman Juni bertahan di sekitar US$95 per barel, setiap kabar terkait Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX, ukuran perkiraan gejolak harga minyak dari pasar opsi) sudah tinggi di 45, artinya pelaku pasar opsi membayar premi (biaya) besar untuk perlindungan dari lonjakan harga mendadak.
Dengan risiko dua arah (binary: bisa mengarah ke dua hasil ekstrem) dari pengumuman The Fed dan potensi berita geopolitik, kami melirik long straddle pada USD/JPY. Long straddle adalah strategi opsi dengan membeli opsi beli (call: hak membeli) dan opsi jual (put: hak menjual) pada harga kesepakatan yang sama, agar bisa untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah tanpa menebak arahnya. Ini adalah strategi murni untuk memanfaatkan ekspektasi volatilitas yang meningkat.
Kami mencermati level harga kesepakatan opsi (strike price: harga yang menjadi acuan hak beli/jual pada opsi) dengan minat terbuka (open interest: jumlah kontrak derivatif yang masih terbuka) besar di sekitar 158,00 dan 161,00. Area ini menunjukkan posisi kontrak derivatif (instrumen turunan nilainya dari aset acuan) yang menumpuk, sehingga berpotensi menjadi zona penahan atau penghambat pergerakan harga (support/resistance: area yang sering menahan penurunan/kenaikan). Penembusan tegas setelah pernyataan The Fed dapat memicu tren besar berikutnya.
Perak turun sekitar 1,5% ke kisaran US$74,40 per troy ounce (satuan berat untuk logam mulia) pada perdagangan Asia Selasa, turun di bawah US$74,50. Penurunan terjadi karena konflik AS–Iran mendorong biaya energi naik dan menambah tekanan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum).
Guncangan inflasi ini meningkatkan perkiraan bahwa bank sentral bisa mempertahankan kebijakan yang lebih ketat lebih lama. Pasar juga menilai peluang gencatan senjata setelah pesan baru dari Iran kepada Amerika Serikat.
Sinyal Gencatan Senjata dan Dampaknya ke Pasar
Iran dilaporkan mengirim rincian lewat Pakistan, menyatakan pertempuran bisa berhenti jika AS mencabut blokade lautnya, mengubah aturan lintasan kapal melalui Hormuz, dan memberi jaminan tidak ada aksi militer di masa depan. Seorang pejabat AS pada Senin mengatakan Presiden Donald Trump menolak usulan itu, sementara sumber Iran menyebut Teheran tidak akan membahas program nuklirnya sampai permusuhan dan sengketa pengiriman di Teluk diselesaikan.
Perhatian juga tertuju pada rapat bank sentral pekan ini. Federal Reserve (bank sentral AS) diperkirakan menahan kisaran target suku bunga di 3,50% hingga 3,75% pada Rabu, yang berarti penahanan ketiga berturut-turut (tidak menaikkan atau menurunkan suku bunga).
Bank of Japan (bank sentral Jepang) diperkirakan menahan suku bunga di 0,75% pada Selasa. European Central Bank/ECB (bank sentral kawasan euro) diperkirakan menahan suku bunga simpanan (deposit rate, bunga yang diterima bank saat menyimpan dana di ECB) di 2,0% pada Kamis.
Turunnya perak di bawah US$74,50 menunjukkan pasar lebih bereaksi pada inflasi akibat perang, bukan semata risiko geopolitik (risiko karena tensi antarnegara). Konflik AS–Iran memperkuat perkiraan bank sentral, terutama The Fed, akan menjaga suku bunga tetap tinggi untuk menekan inflasi. Ini menekan aset tanpa imbal hasil seperti perak (aset yang tidak memberi bunga atau kupon).
Pertimbangan Strategi dan Penempatan Posisi
The Fed diperkirakan menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% pada Rabu. Sikap ini didukung laporan terbaru Indeks Harga Konsumen AS (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen) yang menunjukkan inflasi meningkat menjadi 4,1% secara tahunan (year-over-year/yoy, dibanding periode yang sama tahun lalu). Sikap hawkish (cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk melawan inflasi) membuat biaya peluang memegang perak makin tinggi dibanding aset berbunga (misalnya obligasi atau deposito). Lingkungan ini mirip periode sebelumnya saat suku bunga nominal tinggi (angka suku bunga tanpa dikurangi inflasi) membebani harga logam mulia.
Dalam beberapa pekan ke depan, penempatan posisi bisa mempertimbangkan potensi pelemahan lebih lanjut pada XAG/USD (kode perak terhadap dolar AS). Membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu; biasanya dipakai untuk mendapat untung saat harga turun) dengan jatuh tempo Mei dan Juni dapat menjadi cara yang jelas untuk memanfaatkan potensi penurunan sambil mengelola risiko. Melakukan short pada futures perak (kontrak berjangka; short berarti bertaruh harga turun) adalah pendekatan lebih langsung bagi yang memperkirakan tembusnya level dukungan teknikal (harga yang sering menjadi “lantai” sementara berdasarkan analisis grafik).
Data pasar sudah mencerminkan sentimen bearish (pandangan harga akan turun), karena volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan gejolak harga yang “terbaca” dari harga opsi) untuk opsi put perak meningkat dalam sepekan terakhir. Ini menandakan permintaan perlindungan saat harga turun (downside protection, strategi untuk membatasi kerugian jika harga jatuh) meningkat di kalangan pelaku pasar. Ini menjadi sinyal banyak pihak bersiap harga turun lebih jauh sebelum menemukan dasar harga yang lebih stabil.
Selain itu, perak tertinggal dibanding emas. Rasio emas/perak (gold/silver ratio, jumlah ounce perak yang setara dengan 1 ounce emas) melebar ke 90:1, naik dari rata-rata 85:1 sepanjang sebagian besar 2025. Ini menunjukkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven, aset yang cenderung dicari saat ketidakpastian) lebih kuat dibanding perak, yang juga tertekan kekhawatiran permintaan industri melambat.
Prospek suku bunga tinggi yang bertahan lama menjadi tekanan ganda bagi perak: bukan hanya meningkatkan biaya memegang aset, tetapi juga berisiko menahan aktivitas industri. Karena lebih dari setengah permintaan perak berasal dari penggunaan industri (misalnya elektronik dan panel surya), perlambatan ekonomi akibat kebijakan moneter ketat (kebijakan bank sentral untuk menahan inflasi lewat suku bunga tinggi) dapat membatasi kenaikan harga. Tekanan dari sisi industri ini juga menjadi tema yang menahan kinerja perak pada 2025.
WTI naik untuk hari kedua, diperdagangkan di sekitar US$95,20 per barel pada jam perdagangan Asia, Selasa. Harga ditopang karena Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup, sehingga pasokan dari Timur Tengah makin ketat.
Pasar juga menilai peluang gencatan senjata dan apakah jalur itu bisa dibuka kembali setelah ada usulan baru Iran kepada AS. Iran dilaporkan menyampaikan melalui Pakistan bahwa permusuhan bisa berakhir jika AS mencabut blokade lautnya, mengubah aturan lintas Selat Hormuz, dan memberi jaminan tidak ada aksi militer di masa depan.
Usulan Gencatan Senjata dan Titik Buntu
Pejabat AS pada Senin mengatakan Presiden Donald Trump tidak puas dengan usulan tersebut. Sumber Iran menyebut Teheran tidak akan membahas program nuklirnya sampai pertempuran berhenti dan sengketa pengiriman di kawasan Teluk terselesaikan.
Konflik memasuki pekan kesembilan, mendorong harga energi naik dan mengganggu rantai pasok (aliran barang dan bahan baku dari produsen ke pengguna). Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan potensi “guncangan pasokan” (supply shock: gangguan mendadak pada pasokan yang membuat harga melonjak) di tengah risiko permintaan yang melambat.
Iran membatasi arus lewat Hormuz yang menangani sekitar 20% minyak dan gas global, sementara AS mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Data pelacakan kapal Reuters menunjukkan enam kapal tanker Iran berbalik arah, sedangkan kapal pengangkut LNG (gas alam cair) milik ADNOC melintasi Hormuz dan mendekati India.
Dengan West Texas Intermediate bertahan di sekitar US$95,50, pasar terlihat sudah “memasukkan” konflik ini ke harga, namun sangat peka terhadap berita harian. Penutupan Selat Hormuz selama sembilan pekan menciptakan situasi berisiko tinggi, sehingga kabar apa pun tentang blokade laut AS atau usulan Iran dapat memicu lonjakan atau penurunan tajam. Trader perlu siap menghadapi volatilitas (naik-turun harga yang cepat dan besar) yang berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Harga Pasar dan Implikasi Trading
Situasi ini menciptakan skenario dua arah yang jelas, bergantung pada hasil negosiasi gencatan senjata. Jika ada kesepakatan dan selat dibuka kembali, harga kemungkinan turun ke kisaran rendah US$80. Jika pembicaraan benar-benar gagal, harga minyak bisa melampaui US$100. Pergerakan saat ini banyak dipicu spekulasi geopolitik, bukan semata faktor dasar (fundamental) seperti pasokan dan permintaan.
Ketidakpastian ini terlihat di pasar derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan seperti minyak), ketika CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX)—indeks yang mengukur perkiraan fluktuasi harga minyak dari harga opsi—melonjak di atas 50, level yang tidak terlihat sejak gangguan pasokan besar pada 2022. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) yang tinggi membuat membeli opsi lebih mahal, tetapi memegang posisi tanpa lindung nilai (hedging: strategi untuk mengurangi risiko kerugian) lebih berisiko. Menggunakan opsi untuk membatasi risiko dinilai paling masuk akal saat ini.
Bahkan sebelum krisis ini, pasar sudah ketat. Hal itu terlihat dari data Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan penurunan persediaan (inventory draws: stok turun karena konsumsi lebih besar daripada pasokan) secara konsisten hingga Maret dan awal April 2026. Laporan bulanan terakhir IEA juga sudah mengarah pada defisit pasokan global pada kuartal II. Gangguan Hormuz, yang memengaruhi hampir 21 juta barel per hari, memperparah masalah yang sudah ada.
Mengingat potensi pergerakan tajam ke dua arah, strategi yang diuntungkan dari volatilitas—seperti straddle atau strangle (strategi opsi untuk mengambil peluang dari pergerakan besar harga tanpa perlu menebak arah)—layak dipertimbangkan. Taruhan arah harga lewat kontrak futures (kontrak berjangka: perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk waktu tertentu) berisiko tinggi jika berita diplomatik tiba-tiba mengubah sentimen.
Perlu juga mencermati tanda bahwa blokade tidak sepenuhnya rapat, karena ini bisa menahan kenaikan harga. Keberhasilan kapal LNG ADNOC menuju India menunjukkan sebagian arus energi masih berjalan, yang dapat mencegah kepanikan penuh. Memantau data pelacakan kapal untuk melihat peningkatan lalu lintas tanker menjadi indikator awal yang penting.
USD/CAD berbalik naik dari penurunan di sesi Asia pada Selasa, setelah memantul tipis dari area di bawah 1,3600—level terendah sejak 12 Maret. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 1,3630, dengan kenaikan terbatas karena dorongan pasar yang saling berlawanan.
Sinyal yang beragam soal pembicaraan damai AS-Iran mendukung dolar AS lewat permintaan aset aman (safe-haven, yaitu aset yang cenderung diburu saat pasar khawatir). Iran dilaporkan mengirim proposal baru kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sementara pembicaraan nuklir ditunda.
Penggerak Geopolitik Utama
The Wall Street Journal melaporkan Presiden AS Donald Trump meragukan Iran bertindak dengan itikad baik atau akan memenuhi tuntutannya untuk menghentikan pengayaan nuklir (nuclear enrichment, yaitu proses meningkatkan kadar uranium yang bisa dipakai untuk energi maupun senjata). Pada saat yang sama, gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz menjaga harga minyak mentah tetap tinggi.
Harga minyak yang lebih tinggi mendukung dolar Kanada dan menahan kenaikan USD/CAD. Pelaku pasar juga berhati-hati menjelang keputusan bank sentral.
Bank of Canada mengumumkan kebijakan pada Rabu, disusul hasil rapat FOMC dua hari. (FOMC, Federal Open Market Committee, adalah komite The Fed yang menetapkan suku bunga). Pasar memantau apakah kenaikan harga energi meningkatkan tekanan inflasi dan mengubah arah kebijakan, yang bisa menentukan pergerakan USD/CAD berikutnya.
USD/CAD menunjukkan penguatan lagi, diperdagangkan di sekitar 1,3750 per 28 April 2026. Pergerakan ini mengingatkan pada ketidakpastian pada 2025 saat ketegangan geopolitik AS-Iran. Saat itu, faktor dasar ekonomi yang saling bertentangan membuat pasar bergerak dalam rentang sempit (range-bound, yaitu naik-turun dalam batas tertentu tanpa arah jelas), pola yang bisa muncul lagi.
Prospek Perbedaan Kebijakan
Harga minyak mentah tetap menjadi faktor penting, dengan WTI bertahan di atas US$85 per barel—level yang biasanya mendukung dolar Kanada. (WTI, West Texas Intermediate, adalah patokan harga minyak AS). Berbeda dari lonjakan harga mendadak pada 2025 yang dipicu konflik, kenaikan harga saat ini lebih karena pasokan yang dijaga ketat dan permintaan global yang stabil. Ini menjadi “lantai” (fundamental floor, yaitu penahan penurunan) bagi dolar Kanada, tetapi belum cukup untuk mendorongnya naik besar melawan dolar AS.
Pendorong utama kini adalah perbedaan arah kebijakan yang makin jelas antara Bank of Canada (BoC) dan Federal Reserve AS. Dengan inflasi Kanada terbaru turun ke 2,5%, BoC mulai membuka peluang pemangkasan suku bunga pada musim panas. Sebaliknya, The Fed tetap ketat setelah inflasi AS terbaru lebih tinggi dari perkiraan di 3,4%, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga mundur.
Tarik-menarik ini menunjukkan gejolak yang diperkirakan pasar (implied volatility, yaitu perkiraan volatilitas yang tersirat dalam harga opsi) pada opsi USD/CAD kemungkinan masih terlalu rendah untuk beberapa pekan ke depan. Kami menilai trader derivatif (derivative traders, pelaku yang memperdagangkan produk turunan seperti opsi) bisa mempertimbangkan strategi yang untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah, seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama), ketimbang sekadar bertaruh arah naik atau turun. Pasar seolah mematok kondisi tenang yang tidak sejalan dengan data ekonomi yang makin berbeda.
Karena itu, membangun posisi pada opsi tiga bulan bisa menjadi cara yang lebih hati-hati untuk menangkap dampak putaran rapat bank sentral berikutnya. Waspadai penembusan yang bertahan di atas 1,3800 sebagai sinyal penguatan dolar AS lanjutan. Jika gagal menembus area tahanan (resistance, yaitu level yang sering menahan kenaikan), pasangan ini bisa turun lagi ke area 1,3650 sebagai penopang (support, yaitu level yang sering menahan penurunan) jika komentar The Fed bernada dovish (dovish, yaitu cenderung mendukung penurunan suku bunga atau pelonggaran kebijakan).
Emas spot merosot 1.1% kepada $4,628.88 seaun pada 0553 GMT, paras terendah sejak 7 April.
Niaga hadapan emas AS untuk penghantaran Jun turun 1.1% kepada $4,643.70, manakala perak spot susut 3% kepada $73.23.
XAU/USD didagangkan pada 4,625.56 pada carta, turun 54.26 mata, atau 1.16%, dengan harga berada di bawah purata bergerak 5 hari, 10 hari dan 20 hari.
Emas jatuh ke paras terendah tiga minggu pada Selasa apabila pedagang kurang menumpukan pada risiko perang itu sendiri dan lebih kepada implikasi perang terhadap inflasi dan kadar faedah. Emas spot susut 1.1% kepada $4,628.88 seaun setakat 0553 GMT, paras terendah sejak 7 April. Niaga hadapan emas AS untuk penghantaran Jun turut turun 1.1% kepada $4,643.70.
Azerbaijan’s State Oil Fund sold about 22 tons of gold in the first quarter of the year, after a record-breaking rally pushed the sovereign wealth fund’s allocation of the metal to its maximum threshold https://t.co/LHjteDWLqU
Penurunan ini mungkin kelihatan bertentangan dengan kebiasaan. Emas lazimnya menerima permintaan ketika tekanan geopolitik memuncak. Namun kali ini, konflik telah menolak harga minyak lebih tinggi, mengekalkan Selat Hormuz sebahagian besarnya tertutup, dan mencetuskan kebimbangan bahawa inflasi boleh kekal degil lebih lama. Ini mengalihkan dagangan daripada pembelian aset selamat klasik kepada risiko kadar faedah.
Dolar juga meningkat sedikit, menambah tekanan. Dolar yang lebih kukuh menjadikan emas lebih mahal bagi pemegang mata wang lain. Apabila ini berlaku serentak dengan hasil bon yang kekal disokong, emas boleh kehilangan momentum walaupun latar geopolitik masih tegang.
Minyak Melepasi $110 Mengubah Dinamika Dagangan Emas
Harga minyak berlegar di atas $110 setong apabila Selat Hormuz kekal sebahagian besarnya tertutup. Ini penting bagi emas kerana harga minyak mentah yang lebih tinggi boleh menaikkan kos pengangkutan dan pengeluaran, kemudian mengalir ke inflasi tajuk utama. Jika bank pusat bimbang tekanan inflasi pusingan kedua sedang terbina, ruang untuk memotong kadar akan menjadi lebih terhad.
Emas biasanya berfungsi baik sebagai lindung nilai inflasi, namun ia tidak menjana pendapatan. Apabila pasaran menjangkakan kadar faedah tinggi lebih lama, aset yang memberikan hasil boleh kelihatan lebih menarik. Itulah sebabnya jongkong boleh merosot walaupun kebimbangan inflasi meningkat.
China’s CMOC Group signed a $1.7 billion agreement with Ecuador to develop a major gold mine in the South American country https://t.co/76NMKGfCTr
Kisah Timur Tengah kekal sebagai pemacu utama. Seorang pegawai AS berkata Presiden Donald Trump tidak berpuas hati dengan cadangan Iran terbaru untuk menyelesaikan perang yang sudah berlarutan dua bulan. Ini menghakis harapan untuk penyelesaian selepas konflik yang telah mengganggu bekalan tenaga, menyemarakkan inflasi, dan mengorbankan ribuan nyawa.
Keputusan Fed Mengekalkan Pedagang Dalam Mod Tunggu Dan Lihat
Rizab Persekutuan (Fed) dijangka secara meluas mengekalkan kadar faedah tidak berubah pada akhir mesyuarat dua harinya pada Rabu. Isu utama bukanlah keputusan kadar itu sendiri. Sebaliknya, ia ialah nada mengenai inflasi, harga tenaga, dan trajektori dasar pada masa hadapan. Pegawai Fed menilai sama ada perlu memberi isyarat kemungkinan kenaikan kadar apabila kejutan minyak merumitkan prospek.
Fed officials are expected to leave interest rates unchanged this week at a gathering that’s being overshadowed by a political drama surrounding the leadership handover at the US central bank https://t.co/N6xhoBpplN
Edward Meir dari Marex berhujah Fed mungkin tidak mengubah kadar buat masa ini dan boleh memotong pada suku keempat jika ekonomi global perlahan. Ini memberi isyarat bercampur kepada emas. Dalam jangka terdekat, inflasi yang degil dan dolar yang lebih kukuh boleh menekan jongkong. Kemudian, jika pertumbuhan merosot dan jangkaan pemotongan kadar kembali, emas berpotensi mendapat sokongan semula.
Pedagang juga akan memantau Bank Pusat Eropah, Bank of England, dan Bank of Canada minggu ini. Nada berhati-hati daripada bank pusat utama boleh mengekalkan tekanan ke atas emas. Nada yang lebih dovish, terutama jika disertai data yang lemah, boleh menghidupkan semula permintaan terhadap jongkong sebagai aset defensif.
Geopolitik Masih Menentukan Risiko Penembusan
Pasaran emas kini didagangkan dalam keseimbangan sempit antara diplomasi dan risiko inflasi. Jika AS dan Iran mencapai perjanjian atau persetujuan sementara, minyak boleh reda, dolar boleh melemah, dan emas mungkin kembali memperoleh momentum menaik. Perjanjian juga boleh membantu emas menembusi lebih tinggi jika ia menekan dolar.
Jika rundingan gagal, reaksi awal masih boleh menjadi rumit. Risiko konflik baharu boleh meningkatkan permintaan aset selamat, tetapi lonjakan minyak seterusnya juga boleh mengekalkan kebimbangan inflasi tinggi dan menyokong dolar. Ini bermakna emas mungkin memerlukan penurunan dolar yang jelas, bukan sekadar ketakutan geopolitik, untuk membina semula trend menaik yang kukuh.
Buat masa ini, pedagang dilihat enggan mengejar jongkong selagi minyak kekal tinggi dan Fed menjadi tumpuan.
Analisis Teknikal
XAUUSD didagangkan hampir 4625, meneruskan pembetulan susulan apabila harga tergelincir di bawah sokongan jangka pendek dan terus menghala lebih rendah daripada zon pengukuhan pertengahan April. Selepas gagal mengekalkan momentum di atas kawasan 4700–4750, emas kini menunjukkan tekanan menurun yang diperbaharui.
Dari sudut teknikal, kecenderungan adalah menurun dalam jangka terdekat. Harga telah bergerak di bawah purata bergerak 5 hari (4688) dan 10 hari (4739), kedua-duanya kini mula menurun dan bertindak sebagai rintangan segera. Purata bergerak 20 hari (4733) juga berada di atas harga semasa dan mula mendatar, mengukuhkan kehilangan momentum menaik dan peralihan kepada fasa pembetulan.
Aras utama untuk diperhatikan:
Sokongan: 4600 → 4500 → 4400
Rintangan: 4685 → 4740 → 4850
Pasaran kini sedang menguji zon sokongan 4600, iaitu aras penting untuk jangka terdekat. Penembusan jelas di bawah kawasan ini boleh membuka ruang untuk pergerakan ke arah 4500, dengan potensi penurunan lanjut jika jualan semakin rancak.
Di bahagian atas, 4685 bertindak sebagai rintangan segera. Sebarang lantunan ke zon ini mungkin berdepan tekanan jualan melainkan harga mampu menawan semula rantau 4740, yang diperlukan untuk menstabilkan struktur dan memberi isyarat jeda pada penurunan.
Secara keseluruhan, emas sedang kehilangan sokongan dan beralih kepada aliran menurun pembetulan, dengan momentum memihak kepada penjual dalam jangka terdekat. Tumpuan kini adalah sama ada 4600 bertahan, atau pasaran menyambung penurunan ke arah aras sokongan yang lebih dalam.
Logam Berharga Lemah Secara Menyeluruh
Emas bukan satu-satunya logam yang berada di bawah tekanan. Perak spot jatuh 3% kepada $73.23 seaun, platinum susut 1.5% kepada $1,953.50, dan paladium merosot 2.1% kepada $1,445.50.
Kelemahan yang lebih meluas itu menunjukkan pergerakan ini bukan semata-mata berpunca daripada kedudukan khusus emas. Pedagang mengurangkan pendedahan merentas logam berharga apabila dolar mengukuh dan risiko bank pusat kembali menjadi tumpuan pasaran.
Kejatuhan 3% perak menunjukkan logam yang sensitif kepada pertumbuhan turut berada di bawah tekanan. Platinum dan paladium mungkin kekal terdedah jika harga tenaga yang lebih tinggi meningkatkan tekanan kos sementara jangkaan permintaan melemah.
Unjuran Berhati-hati
Emas mungkin kekal tertekan selagi XAU/USD didagangkan di bawah 4,688.75 dan zon purata bergerak 4,733.44 hingga 4,739.66. Penembusan di bawah 4,623.39 akan meningkatkan risiko pembetulan lebih dalam ke arah 4,402.31.
Pemulihan di atas 4,701.34 akan meredakan tekanan jualan segera, namun emas memerlukan penutupan di atas 4,739.66 untuk membina semula momentum menaik. Nada Fed yang lebih dovish, dolar yang lebih lemah, atau kemajuan sebenar AS-Iran boleh menyokong lantunan ke arah 4,842.27. Nada Fed yang lebih hawkish, minyak melebihi $110, dan diplomasi yang buntu akan memastikan penjual aktif ketika lantunan.
Soalan Pedagang
Mengapa Emas Jatuh Ke Paras Terendah Tiga Minggu?
Emas jatuh kerana pedagang menumpukan pada risiko inflasi didorong minyak dan keputusan bank pusat yang bakal diumumkan.
Emas spot merosot 1.1% kepada $4,628.88 seaun pada 0553 GMT, paras terendah sejak 7 April. Niaga hadapan emas AS untuk penghantaran Jun turut turun 1.1% kepada $4,643.70.
Mengapa Harga Minyak Tinggi Menjejaskan Emas?
Harga minyak yang tinggi boleh menaikkan kos pengangkutan dan pengeluaran, sekali gus mengekalkan tekanan inflasi tinggi.
Minyak berlegar di atas $110 setong apabila Selat Hormuz kekal sebahagian besarnya tertutup. Jika minyak yang lebih tinggi mengekalkan inflasi degil, bank pusat mungkin menangguhkan pemotongan kadar atau mengekalkan dasar lebih ketat lebih lama. Ini boleh membebankan emas kerana jongkong tidak membayar faedah.
Adakah Emas Masih Aset Selamat?
Emas masih aset selamat, namun ia boleh bergelut apabila dolar meningkat dan jangkaan kadar kekal teguh.
Dalam kes ini, risiko geopolitik kekal tinggi, tetapi pedagang turut memerhati inflasi, Rizab Persekutuan, dan dolar. Gabungan itu menjadikan emas lebih sensitif kepada risiko kadar berbanding kebiasaan.
Apa Yang Dijangka Dilakukan Oleh Rizab Persekutuan?
Rizab Persekutuan dijangka secara meluas mengekalkan kadar faedah tidak berubah pada akhir mesyuarat dua harinya pada Rabu.
Keputusan kadar mungkin tidak mengejutkan pasaran. Pedagang akan menumpukan pada nada Fed, khususnya sama ada penggubal dasar kedengaran lebih bimbang mengenai inflasi didorong minyak atau kelembapan global.
Bolehkah Fed Menyokong Emas Kemudian Pada Tahun Ini?
Emas boleh kembali mendapat sokongan kemudian tahun ini jika Fed memberi isyarat pemotongan kadar masih berkemungkinan.
Mula berdagang sekarang – Klik di sini untuk membuat akaun sebenar VT Markets
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan ekonomi pulih secara moderat dan momentum kenaikan upah berlanjut, tetapi prospeknya perlu diwaspadai. Menteri Ekonomi Minoru Kiuchi mengatakan ia ingin Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) menyelaraskan komunikasi dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah untuk mencapai target inflasi 2%.
Jepang berencana meninjau kembali perjanjian swap mata uang dengan negara-negara Asia menjelang pertemuan Asian Development Bank dan ASEAN Plus. Swap mata uang adalah kesepakatan pertukaran mata uang antarnegara untuk menjaga stabilitas likuiditas (ketersediaan dana) saat pasar bergejolak. Pejabat mengatakan gejolak kontrak berjangka minyak mentah memengaruhi nilai tukar, dan Jepang siap bertindak tegas bila diperlukan. Kontrak berjangka adalah perjanjian membeli/menjual aset di harga tertentu untuk pengiriman di masa depan.
Jepang Mengisyaratkan Kewaspadaan Pasar Meningkat
Jepang mengatakan akan bekerja sama erat dengan AS dan akan bertindak jika diperlukan. Otoritas menyatakan memantau pasar 24 jam.
Saat artikel ini ditulis, USD/JPY turun 0,01% ke 159,40. Nilai yen terkait dengan kinerja ekonomi Jepang, kebijakan BoJ, selisih imbal hasil (yield) obligasi Jepang dan AS, serta sentimen risiko pasar (selera investor terhadap aset berisiko atau aman). Yield adalah tingkat imbal hasil obligasi.
BoJ kadang melakukan intervensi di pasar valuta asing, biasanya untuk melemahkan yen. Intervensi adalah aksi langsung otoritas membeli/menjual mata uang untuk memengaruhi kurs. Kebijakan moneter sangat longgar pada 2013–2024 (misalnya suku bunga sangat rendah dan pembelian aset besar-besaran) mendorong pelemahan yen, sementara pengurangan kebijakan longgar secara bertahap pada 2024 memberi sedikit dukungan.
Selisih yield obligasi pemerintah 10 tahun AS–Jepang melebar dalam satu dekade terakhir, sehingga mendukung dolar AS terhadap yen. Selisih ini menyempit ketika Jepang mulai menjauhi kebijakan sangat longgar dan bank sentral lain memangkas suku bunga.
Risiko Intervensi dan Prospek Volatilitas
Ketika USD/JPY bergerak menuju 162,50, peringatan pejabat Jepang yang terdengar pada 2025 saat kurs sekitar 159,40 kini lebih mendesak. Janji berulang pemerintah untuk “bertindak tegas” membuat risiko intervensi langsung di pasar valas sangat tinggi pada level ini. Trader perlu berhati-hati memegang posisi beli USD/JPY dan mempertimbangkan opsi untuk melindungi diri dari penurunan tajam. Opsi adalah produk turunan yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli/menjual di harga tertentu.
Masalah utama tetap perbedaan suku bunga yang besar, yang baru menyempit perlahan sejak BoJ mulai mengubah kebijakan pada 2024. Dengan suku bunga acuan The Fed (Fed funds rate) bertahan di 4,50% dan suku bunga kebijakan BoJ hanya 0,25%, strategi carry trade yang menguntungkan dolar masih kuat. Carry trade adalah strategi meminjam di mata uang bersuku bunga rendah lalu membeli mata uang bersuku bunga lebih tinggi untuk mengejar selisih bunga. Tekanan ini cenderung terus melemahkan yen sampai BoJ memberi sinyal kenaikan suku bunga yang lebih cepat.
Namun, ada tanda BoJ bisa terdorong bergerak lebih cepat dari perkiraan pasar. Negosiasi upah musim semi “shunto” menghasilkan kenaikan gaji rata-rata 4,5%, tahun ketiga berturut-turut yang kuat. Shunto adalah perundingan upah tahunan antara serikat pekerja dan perusahaan di Jepang. Dengan inflasi inti Jepang (inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti makanan segar dan energi) konsisten di atas target 2% selama enam bulan terakhir, tekanan meningkat agar bank sentral menormalkan kebijakan lebih cepat. Normalisasi berarti mengurangi stimulus dan menaikkan suku bunga secara bertahap.
Dua kekuatan yang saling bertentangan—risiko intervensi versus selisih suku bunga yang masih lebar—meningkatkan ketidakpastian dan mengarah pada volatilitas tinggi. Volatilitas adalah besarnya naik-turun harga. Pasar berada di antara dorongan perlahan naik karena carry trade dan risiko penurunan cepat 3–5 yen akibat intervensi. Kondisi ini cocok untuk strategi produk turunan berbasis volatilitas, seperti membeli straddle atau strangle pada USD/JPY, yang diuntungkan bila harga bergerak besar ke salah satu arah. Straddle adalah membeli opsi beli dan opsi jual di strike (harga acuan) yang sama, sedangkan strangle menggunakan strike yang berbeda.
EUR/USD naik tipis ke sekitar 1,1725 pada awal perdagangan Asia, Selasa. Kenaikan kemungkinan terbatas karena pasar tetap waspada di tengah mandeknya pembicaraan AS-Iran.
Iran mengatakan akan membuka kembali Selat Hormuz jika AS mencabut blokade dan perang berakhir, menurut Bloomberg. Usulan itu berpotensi menunda pembicaraan soal program nuklir Iran.
Ketegangan Geopolitik Dan Permintaan Aset Aman
Presiden AS Donald Trump terlihat kecil kemungkinan menerima tawaran tersebut, dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kesepakatan apa pun perlu mencakup isu nuklir. Ketegangan yang berlanjut serta penutupan Selat Hormuz dapat menopang permintaan dolar AS sebagai aset aman (mata uang yang biasanya diburu saat risiko meningkat), sehingga menekan EUR/USD.
Pasar menyoroti keputusan bank sentral pekan ini, dengan Federal Reserve (bank sentral AS) dijadwalkan Rabu dan Bank Sentral Eropa/ECB pada Kamis. Pelaku pasar menata posisi menjelang kedua pengumuman.
The Fed luas diperkirakan menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% pada rapat April, untuk ketiga kalinya berturut-turut. Perhatian tertuju pada konferensi pers Jerome Powell untuk petunjuk arah kebijakan ke depan (sinyal apakah suku bunga akan naik, turun, atau tetap).
ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga deposit (bunga simpanan bank di ECB, acuan penting bagi suku bunga kawasan) di 2,0%, level yang bertahan sejak Juni tahun lalu. Pembuat kebijakan bisa tetap berhati-hati karena ketidakpastian terkait konflik Timur Tengah.
Indeks Harga Toko BRC Inggris naik 1% (year on year/yoy, dibanding periode yang sama tahun lalu) pada April. Perkiraan 1,5%, sehingga hasilnya 0,5 poin persentase lebih rendah.
Data harga toko Inggris terbaru untuk April menunjukkan inflasi melambat jauh lebih cepat dari perkiraan, hanya 1% dibanding ekspektasi 1,5%. Ini menandakan tekanan harga bagi konsumen mereda, memberi Bank of England (BoE/bank sentral Inggris) alasan kuat untuk lebih condong memangkas suku bunga. Bagi kami, kebijakan moneter yang cenderung longgar (dovish, artinya mendukung suku bunga lebih rendah) menjadi kemungkinan yang lebih dekat.
Implikasi Kebijakan untuk Pasar Suku Bunga
Kami perlu menyesuaikan posisi pada futures suku bunga (kontrak berjangka yang nilainya mengikuti perkiraan suku bunga), karena pasar kemungkinan cepat memasukkan peluang lebih besar pemangkasan suku bunga BoE pada musim panas. Overnight index swaps (OIS, instrumen swap yang mencerminkan ekspektasi suku bunga jangka pendek harian) sudah menunjukkan pergeseran, kini mengindikasikan peluang pemangkasan di atas 50% pada rapat Agustus, naik tajam dibanding pekan lalu. Kami memperkirakan kurva forward SONIA (perkiraan suku bunga acuan pasar uang Inggris ke depan) akan makin mendatar (flatten, selisih suku bunga jangka pendek dan panjang menyempit) saat pelaku pasar bertaruh suku bunga lebih rendah bertahan lebih lama.
Pandangan ini berpotensi menekan poundsterling. Kami dapat mempertimbangkan membeli opsi put pada GBP/USD (opsi jual, memberi hak menjual di harga tertentu), karena ekspektasi suku bunga Inggris yang lebih rendah membuat mata uang itu kurang menarik untuk disimpan. Sebagai gambaran, dinamika serupa terlihat pada kuartal III 2025 ketika data inflasi yang lemah diikuti pelemahan sterling terhadap dolar.
Sebaliknya, prospek biaya pinjaman yang lebih murah bisa menjadi pendorong bagi saham Inggris. Opsi call pada indeks FTSE 100 (opsi beli, memberi hak membeli di harga tertentu) kini lebih menarik, karena suku bunga lebih rendah cenderung mendukung laba perusahaan dan valuasi saham. Dengan indeks volatilitas Inggris, VFTSE (ukuran perkiraan naik-turun harga pasar), yang saat ini berada dekat level terendah tahunan, biaya untuk mengambil peluang kenaikan ini relatif murah.
Namun, ini baru satu data, meski penting. Kami masih menunggu angka CPI resmi (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi utama) dan terutama data pertumbuhan upah Inggris bulan depan. Kenaikan upah yang tinggi dapat membalikkan sentimen ini, sehingga setiap posisi baru perlu dibatasi ukurannya untuk mengantisipasi risiko agenda data tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan Amerika Serikat akan menjatuhkan sanksi kepada siapa pun yang berbisnis dengan maskapai Iran yang sudah masuk daftar sanksi, seiring penerbangan komersial kembali beroperasi dari Teheran. The Wall Street Journal melaporkan peringatan itu pada Senin.
Ia mengatakan Departemen Keuangan AS akan menerapkan “tekanan maksimum” terhadap Iran. Ia juga menegaskan, bekerja sama dengan maskapai Iran yang terkena sanksi dapat berujung pada sanksi.
Isyarat “Tekanan Maksimum”
Bessent mengatakan ia membahas risiko terkait produksi berlebih (overcapacity, yaitu saat kapasitas produksi melebihi permintaan sehingga menekan harga dan meningkatkan persaingan) dengan Uni Eropa. Laporan tersebut tidak merinci lebih jauh.
Harga pasar bergerak naik setelah komentar itu. West Texas Intermediate (WTI)—patokan harga minyak mentah AS—naik 1,35% pada hari itu ke level US$94,65 saat artikel ini ditulis.
Dengan WTI sudah berada di US$94,65, sinyal terdekatnya adalah potensi kenaikan lanjutan. Peringatan “tekanan maksimum” terhadap Iran menambah premi risiko geopolitik—tambahan komponen harga karena ketidakpastian politik dan konflik—ke pasar. Eskalasi dapat mendorong harga menuju level psikologis US$100 per barel.
Ini bukan hanya soal maskapai; ini sinyal bahwa AS siap memperketat sikap terhadap aktivitas ekonomi Iran. Berdasarkan data pelacakan kapal tanker (tanker tracking, yaitu pemantauan pergerakan kapal pengangkut minyak lewat satelit dan data pelayaran), ekspor minyak mentah Iran tetap kuat hingga akhir 2025, rata-rata mendekati 1,5 juta barel per hari. Ancaman sanksi sekunder (secondary sanctions, yaitu sanksi yang juga menarget pihak ketiga di luar negara yang disanksi bila tetap bertransaksi) membuat pasokan ini berisiko, sehingga memperketat keseimbangan global yang sudah rapuh.
Keterbatasan Pasokan
Perkembangan ini terjadi ketika pasokan sudah terbatas. Awal bulan ini, OPEC+—kelompok OPEC dan sekutunya termasuk Rusia—sepakat mempertahankan pemangkasan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari hingga akhir kuartal II. Saat produsen utama menahan pasokan, pasar punya bantalan yang sangat tipis untuk menyerap gangguan potensial dari Iran.
Tahun lalu terjadi lonjakan serupa, meski lebih kecil, ketika perundingan diplomatik di Wina mulai menunjukkan tanda-tanda mandek. Pergerakan harga pada pertengahan 2025 menunjukkan pasar minyak sangat sensitif terhadap kabar dari kawasan tersebut. Riwayat ini menunjukkan reli saat ini punya dukungan dasar yang kuat berdasarkan pola pasar sebelumnya.
Bagi trader derivatif (derivative, yaitu kontrak keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan seperti minyak), ini mengarah pada strategi membeli opsi beli (call option, yaitu hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal jatuh tempo) untuk beberapa pekan ke depan, khususnya kontrak Juni dan Juli 2026 dengan harga strike (strike price, yaitu harga yang disepakati dalam kontrak opsi) di US$100 atau lebih. Naiknya ketegangan akan meningkatkan volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi), membuat opsi lebih mahal sekaligus mencerminkan peluang lonjakan harga. Mempertimbangkan vertical call spread (strategi membeli call dan menjual call lain pada strike berbeda untuk membatasi biaya dan risiko) dapat menjadi cara yang lebih terukur untuk mengelola risiko sambil tetap memposisikan diri pada potensi kenaikan.
Presiden AS Donald Trump dan tim keamanan nasionalnya membahas usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, Reuters melaporkan pada Senin. Perang telah berlangsung dua bulan.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan belum jelas apakah Trump akan menerima tawaran tersebut, dan menegaskan tuntutan utama Trump tidak berubah. Ia mengatakan topik itu dibahas dan Trump akan menyampaikan pernyataannya.
Prospek Gejolak Pasar Minyak
West Texas Intermediate (WTI)—patokan harga minyak mentah AS—naik 1,35% pada hari itu ke US$94,65 saat penulisan.
Pembicaraan AS dan Iran menambah ketidakpastian besar di pasar minyak. Dengan harga WTI sudah di US$94,65 setelah konflik dua bulan, setiap kabar—baik atau buruk—berpotensi memicu lonjakan atau penurunan harga yang tajam. Kondisi ini berarti gejolak harga akan tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Pasar sudah memasukkan “premi perang”—tambahan harga karena risiko gangguan pasokan—selama delapan pekan terakhir. Jika ada kesepakatan damai yang kredibel untuk membuka kembali selat, harga minyak bisa turun tajam karena premi risiko ini menghilang.
Pendekatan Transaksi untuk Hasil yang Serba Dua
Pada fase awal konflik Ukraina 2022, harga melonjak karena efek kejut, lalu turun cukup besar dalam bulan-bulan berikutnya meski konflik berlanjut. Pola ini menunjukkan harga tidak selalu naik terus.
Selat Hormuz bukan jalur sempit biasa; sekitar 21 juta barel per hari melewatinya. Ini setara kira-kira 20% konsumsi minyak harian dunia, menurut data terbaru dari U.S. Energy Information Administration (lembaga pemerintah AS yang melacak data energi). Besarnya volume minyak yang berisiko menjelaskan mengapa pasar sangat peka terhadap sinyal diplomasi.
Karena situasinya “biner”—hanya dua kemungkinan besar: damai atau perang berlanjut—dapat dipertimbangkan strategi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar. Salah satunya membeli opsi (options), yaitu kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli atau menjual pada harga tertentu. Contohnya straddle, yakni membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama, sehingga berpotensi untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah tanpa menebak arahnya.
Jika memperkirakan ada kesepakatan damai, membeli put options (hak untuk menjual) bisa menjadi cara berisiko tinggi namun berpotensi hasil besar untuk memanfaatkan potensi penurunan harga ke kisaran bawah US$80-an. Sebaliknya, jika menilai pembicaraan akan gagal, call options (hak untuk membeli) dapat digunakan untuk mengejar peluang kenaikan kembali menuju US$100 per barel.
Dalam beberapa pekan ke depan, pantau bukan hanya judul berita dari Gedung Putih. Perhatikan juga data satelit pergerakan kapal tanker di Teluk, serta perubahan indeks volatilitas minyak (OVX), yaitu ukuran ekspektasi gejolak harga minyak dari pasar opsi, yang saat ini masih tinggi. Indikator ini bisa memberi sinyal lebih awal soal arah pasar.