Back

OCBC: Mata Uang Asia Berpotensi Berbalik Menguat, Dipimpin Won Korea, Seiring Ketegangan Selat Hormuz Mendongkrak Harga Minyak dan Menekan Mata Uang Kawasan

OCBC, Sim Moh Siong dan Christopher Wong, mengatakan nilai tukar valuta asing Asia berpotensi menghapus penguatan sejak Jumat malam. Hal ini menyusul Iran kembali menutup Selat Hormuz, sementara dolar AS berpeluang mendapat permintaan sebagai aset aman (instrumen yang biasanya diburu saat pasar tidak pasti).

Mata uang Asia yang lebih “berisiko” (high beta: pergerakannya biasanya lebih besar saat sentimen pasar berubah) diperkirakan memimpin pelemahan, dengan won Korea (KRW) disebut sebagai penggerak utama. KRW sempat menguat sebelumnya setelah muncul perkembangan yang lebih positif.

Reaksi Pasar dan Dinamika Aset Aman

Mata uang Asia lain, termasuk dolar Taiwan (TWD), rupee India (INR), baht Thailand (THB), dan peso Filipina (PHP), juga berpotensi melemah. Alasannya, mata uang ini sensitif terhadap harga minyak dan sentimen risiko global (selera investor terhadap aset berisiko).

Mata uang yang cenderung lebih stabil (low beta: biasanya bergerak lebih kecil), seperti yuan lepas pantai China (CNH) dan dolar Singapura (SGD), kemungkinan lebih tidak bergejolak. Meski begitu, keduanya tetap bisa tertekan.

Catatan tersebut menyoroti pergeseran kondisi geopolitik dan berlanjutnya pembicaraan gencatan senjata. Catatan itu juga menyinggung kondisi perdagangan dua arah (pasar bisa cepat berbalik, naik atau turun).

Implikasi Strategi untuk Forex Asia

KRW yang berisiko tinggi masih memimpin pelemahan regional saat ketidakpastian, seperti yang terjadi sebelumnya. Dengan nilai tukar KRW/USD baru-baru ini menyentuh 1.410, level tertinggi sejak periode ketidakstabilan itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put: kontrak derivatif yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) atas won. Ini menjadi lindung nilai (hedging: strategi untuk mengurangi risiko kerugian) terhadap memburuknya sentimen “risk-off” (investor menghindari risiko) yang dipicu berita rantai pasok atau geopolitik.

Mata uang yang sensitif terhadap harga minyak, seperti INR dan THB, masih rentan. Saat Brent (patokan harga minyak global) bertahan di atas US$90 per barel hingga April 2026, mencerminkan premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik), tekanan terhadap negara pengimpor minyak meningkat. Salah satu cara lindung nilai adalah mengambil posisi beli pada kontrak berjangka minyak (oil futures: perjanjian membeli minyak di harga tertentu untuk penyelesaian di masa depan).

Di kondisi ini, SGD dan yuan China relatif lebih stabil, tetapi masih tertekan oleh penguatan dolar AS secara luas, dengan Indeks Dolar (DXY: ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan di atas 106. Ini mendukung strategi derivatif seperti perdagangan nilai relatif (relative value: mengambil posisi pada dua aset untuk memanfaatkan perbedaan kinerja), misalnya beli SGD dan jual KRW yang lebih rentan, untuk menangkap selisih kinerja antara mata uang yang lebih berisiko dan yang lebih stabil.

Pelajaran utamanya, geopolitik yang cepat berubah membuat strategi dua arah yang memanfaatkan gejolak menjadi relevan. Saat volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan mata uang utama Asia tetap tinggi, menggunakan strategi straddle opsi (membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada level harga dan jatuh tempo yang sama) pada pasangan seperti USD/KRW dinilai menarik. Strategi ini memungkinkan keuntungan bila terjadi pergerakan besar ke salah satu arah, ketika risiko berita bisa mengubah arah pasar secara tiba-tiba.

AUD/USD Menguat Seiring Pelemahan Dolar AS, Ditopang Ekspektasi Pengetatan RBA dan Meredanya Ketegangan AS-Iran Mendukung Dolar Australia

AUD/USD menguat tipis pada Senin, saat pelaku pasar fokus pada perkembangan AS-Iran terkait Selat Hormuz. Dolar AS tetap lemah karena pembicaraan soal kemungkinan kesepakatan masih berlanjut.

Pasangan ini diperdagangkan di dekat 0,7176 setelah terjadi celah pembukaan (gap) mingguan ke bawah dan sempat menyentuh sekitar 0,7116. Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama—bertahan di dekat 98,00 setelah gap ke atas dan sempat mencapai 98,49.

Pembicaraan Gencatan Senjata dan Fokus Selat Hormuz

Gencatan senjata dua minggu dijadwalkan berakhir pada Rabu, dengan kemungkinan putaran kedua pembicaraan diperkirakan berlangsung di Pakistan. Iran belum mengonfirmasi akan ikut.

Harga minyak yang lebih tinggi membuat kekhawatiran inflasi tetap ada dan mendukung perkiraan pemangkasan suku bunga yang lebih lambat dari Federal Reserve (bank sentral AS). Pasar juga memperkirakan Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia) akan terus menaikkan suku bunga karena tambahan tekanan inflasi.

Pada grafik harian, AUD/USD bertahan di atas SMA 20 hari (simple moving average/rata-rata pergerakan sederhana 20 hari) di 0,7008 dan di atas band Bollinger bawah (Bollinger Bands/pita volatilitas) di 0,6786. Band Bollinger atas di sekitar 0,7230 menjadi level hambatan (resistance) berikutnya.

RSI (Relative Strength Index/indikator kekuatan tren) naik ke 65,48 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator arah dan momentum tren) tetap positif. Penutupan di atas 0,7230 dapat memperpanjang kenaikan, sementara level penopang (support) berada di 0,7008 dan 0,6786.

USD/CHF melanjutkan penurunan, di bawah 0,7800 setelah menembus SMA 50 hari, menguji ulang support garis tren di dekat 0,7775

USD/CHF turun di bawah 0,7800 setelah bergerak di bawah **rata-rata pergerakan sederhana (SMA) 50 hari** di 0,7828 (SMA adalah rata-rata harga penutupan selama 50 hari untuk melihat arah tren). Setelah itu, pasangan ini menguji **garis tren (trendline)** dan titik terendah pekan lalu di 0,7775, dan turun 0,37% saat artikel ini ditulis.

Tren turun masih bertahan, dengan **Relative Strength Index (RSI)** ikut melemah dan turun melewati titik terendah sebelumnya di 39 (RSI adalah indikator momentum 0–100 untuk mengukur kuat-lemahnya dorongan beli/jual; umumnya di bawah 50 berarti momentum melemah). Penembusan di bawah 0,7775 bisa membuka jalan ke titik terendah 10 Maret di 0,7747.

Level Support Kunci di Depan

Jika 0,7747 jebol, level **support** berikutnya adalah titik terendah 2 Maret di 0,7668 (support adalah area harga yang sering menahan penurunan). Penurunan lanjutan bergantung pada pergerakan harga setelah melewati level-level ini.

Untuk pemantulan, harga perlu kembali di atas 0,7800 dan merebut lagi SMA 50 hari di 0,7828. Setelah itu, **resistance** yang disebut adalah SMA 100 hari di 0,7868 dan SMA 20 hari di 0,7906 (resistance adalah area harga yang sering menahan kenaikan; SMA 20/50/100 hari membantu membaca arah tren jangka pendek hingga menengah).

Tabel mata uang terpisah melaporkan perubahan persentase franc Swiss terhadap mata uang utama hari ini. Disebutkan franc Swiss paling kuat terhadap yen Jepang.

Pertimbangan Strategi Opsi

Saat ini, USD/CHF diperdagangkan di dekat 0,9120, level yang tidak terlihat sejak akhir 2024. Penguatan ini didorong perbedaan kebijakan suku bunga, setelah data inflasi AS pekan lalu tercatat 3,1% sehingga memperkuat ekspektasi **Federal Reserve** akan menaikkan suku bunga lagi (pengetatan adalah kenaikan suku bunga/pengetatan kebijakan untuk menahan inflasi). Sementara itu, **Swiss National Bank** memberi sinyal peluang pemangkasan suku bunga setelah data produksi industri kuartal I 2026 menunjukkan kontraksi 0,5%.

Dengan momentum naik ini, pelaku pasar **produk derivatif** (instrumen turunan seperti opsi) dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan jika harga lanjut naik dalam beberapa pekan. Membeli **call option at-the-money** (opsi beli dengan harga strike dekat harga sekarang) memberi paparan langsung jika terjadi kenaikan menuju resistance 0,9200. Untuk risiko yang lebih dibatasi, **bull call spread** (membeli call dan menjual call lain di strike lebih tinggi) dapat menekan biaya awal sambil tetap ikut menikmati kenaikan bertahap.

Perlu juga diperhatikan **implied volatility** yang naik perlahan, kini sekitar 8,5% untuk opsi 1 bulan (implied volatility adalah perkiraan volatilitas dari harga opsi; makin tinggi, opsi biasanya makin mahal). Ini membuat beli opsi lebih mahal, tetapi menunjukkan pasar mengantisipasi pergerakan besar. Karena itu, menjual **put out-of-the-money** (opsi jual dengan strike di bawah harga sekarang) bisa menarik untuk mengambil premi, dengan catatan siap membeli pasangan ini di harga lebih rendah jika terkena eksekusi (assigned).

USD/JPY Melemah Tipis seiring Dolar Melunak; Harga Minyak yang Lebih Tinggi Menahan Yen Meski Ada Harapan De-eskalasi

USD/JPY melemah pada Senin karena Dolar AS menghapus sebagian kenaikan sebelumnya setelah muncul harapan kesepakatan terkait konflik AS-Iran. Tekanan jual terbatas karena harga minyak yang lebih tinggi tetap menekan Yen Jepang, membuat pasangan ini bertahan dalam kisaran satu bulan.

USD/JPY berada di sekitar 158,75, turun dari puncak harian 159,20. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berada di sekitar 98,00 setelah dibuka melonjak (gap, pembukaan harga yang langsung lebih tinggi dari penutupan sebelumnya) dan sempat menyentuh 98,49.

Ketegangan Selat Hormuz

Iran kembali menutup Selat Hormuz, dengan alasan pelanggaran gencatan senjata terkait blokade laut AS. Angkatan Laut AS mencegat dan menaiki kapal kargo Iran di Teluk Oman, dan Iran mengancam pembalasan serta menyatakan tidak akan melanjutkan perundingan kecuali blokade dicabut.

Minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, acuan harga minyak AS) berada di sekitar $87,35, naik lebih dari 4% setelah pekan lalu turun tajam. Jepang merupakan pengimpor energi bersih, sehingga kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya di dalam negeri.

Putaran kedua perundingan damai, yang dilaporkan dipimpin Pakistan, diperkirakan berlangsung Selasa sebelum gencatan senjata dua pekan berakhir pada Rabu. Presiden AS Donald Trump mengatakan “sangat kecil kemungkinan” ia memperpanjang gencatan senjata dan menegaskan selat tidak akan dibuka kembali sampai ada kesepakatan.

Keterbatasan Kebijakan Bank Sentral

Harga minyak yang lebih tinggi menambah kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum) dan dapat menekan pertumbuhan ekonomi, sehingga memengaruhi perkiraan kebijakan The Fed (bank sentral AS) dan Bank of Japan/BoJ (bank sentral Jepang). Reuters melaporkan BoJ mungkin menunda kenaikan suku bunga pada rapat berikutnya.

Data pekan ini mencakup Penjualan Ritel AS, PMI awal S&P Global (Purchasing Managers’ Index/indeks manajer pembelian, indikator cepat aktivitas bisnis), serta CPI Nasional Jepang (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi).

Dengan USD/JPY masih bergerak sempit di sekitar 158,75, pasar menunggu hasil perundingan AS-Iran. Pasar cenderung menahan diri menjelang berakhirnya gencatan senjata pada Rabu, sehingga opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) kerap dipakai untuk menghadapi potensi lonjakan volatilitas (volatility, besar-kecilnya fluktuasi harga). Strategi yang mengejar pergerakan besar tanpa harus menebak arah bisa relevan.

Membeli posisi volatilitas seperti straddle dapat dipertimbangkan, karena berpotensi untung bila pasangan bergerak tajam naik atau turun. Straddle berarti membeli call (opsi beli) dan put (opsi jual) dengan strike price yang sama (harga kesepakatan dalam kontrak opsi). Biaya premi (premium, harga yang dibayar untuk membeli opsi) adalah risiko maksimum, masuk akal karena berita dapat menggerakkan harga secara cepat.

Bagi yang menilai kesepakatan damai akan tercapai, membeli put USD/JPY adalah cara langsung untuk bersiap pada potensi penurunan. Meredanya ketegangan biasanya menekan harga minyak, yang secara historis menjadi faktor positif bagi yen. Jepang pernah mengalami defisit perdagangan (trade deficit, impor lebih besar dari ekspor) yang melebar pada 2024 hingga di atas ¥1,7 triliun dalam satu bulan akibat biaya impor energi.

Sebaliknya, jika konflik diperkirakan meningkat, membeli call dapat menjadi pilihan untuk mengantisipasi kenaikan. Gagalnya perundingan bisa mendorong harga minyak melambung dan memicu permintaan aset aman (safe haven, aset yang dicari saat risiko meningkat) ke dolar AS, sehingga mendorong USD/JPY naik. Ini dapat menguji level 160, titik yang berpotensi memicu intervensi (intervention, aksi pemerintah/otoritas untuk memengaruhi nilai tukar) dari Kementerian Keuangan Jepang, seperti nominal ¥9,8 triliun yang pernah dikeluarkan pada musim semi 2024 untuk menahan pelemahan yen.

Situasi geopolitik ini membuat bank sentral sulit mengandalkan sinyal suku bunga saja. The Fed bisa menunda pemangkasan suku bunga bila inflasi akibat minyak bertahan, sementara BoJ tampak terbatas ruang geraknya ketika menghadapi guncangan eksternal besar.

Selain mata uang, peluang juga terlihat di derivatif minyak (oil derivatives, instrumen berbasis harga minyak seperti futures dan opsi). Dengan WTI di $87,35, membeli call pada futures minyak (kontrak berjangka, perjanjian untuk membeli/menjual di harga tertentu pada waktu tertentu) bisa menjadi lindung nilai (hedge, perlindungan terhadap risiko) atau spekulasi jika konflik memburuk. Ini memberi cara bertaruh pada faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar.

Setelah dibuka kembali melemah di dekat 49.100, futures DJIA pulih menuju 49.400 dan ditutup sedikit di bawah penutupan Jumat lalu

Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average (DJIA futures) ditutup Senin nyaris tidak berubah dibanding Jumat, meski ketegangan AS–Iran meningkat sepanjang akhir pekan. Presiden Trump mengatakan AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman, dan Iran menarik diri dari perundingan di Pakistan yang dimediasi AS.

WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) naik 5% ke atas US$88 per barel, sementara Brent (patokan harga minyak global) juga naik sekitar 5% ke atas US$94. Pengiriman lewat Selat Hormuz masih dibatasi, dan gencatan senjata saat ini disebut mendekati masa berakhirnya pada pekan ini.

Reaksi Pasar Tetap Terbatas

DJIA futures turun saat pembukaan kembali perdagangan Minggu menuju 49.100, lalu naik sepanjang sesi AS hingga finis di sekitar 49.400, sedikit di bawah Jumat. Pada hari itu, S&P 500 (indeks 500 saham besar AS) turun 0,4% dan Nasdaq Composite (indeks saham teknologi dan pertumbuhan) turun 0,5%.

Trump mengatakan penyitaan itu terkait sanksi sebelumnya dari Departemen Keuangan AS, dan memperingatkan serangan ke pembangkit listrik serta jembatan Iran jika Iran tidak menyetujui syarat AS sebelum gencatan senjata berakhir. Media pemerintah Iran mengatakan AS tidak memenuhi kewajiban setelah Iran sempat menyatakan selat sudah dibuka kembali.

Pekan lalu, S&P 500 naik 4,5% dan Nasdaq naik sekitar 7%, dengan 13 sesi kenaikan beruntun pada Jumat—menyamai rangkaian yang terakhir terlihat pada 1992. iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV)—ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) yang melacak saham perangkat lunak—naik 0,6% pada Senin.

Kondisi serupa pernah terjadi pada 2025, ketika pasar saham mengabaikan kenaikan tensi AS–Iran. Dow nyaris tidak bergerak bahkan saat sebuah kapal tanker disita, sementara pasar minyak memasang harga risiko lewat lonjakan 5%. Perbedaan arah antara saham yang tenang dan komoditas yang gelisah kembali terlihat.

Penyesuaian Posisi untuk Perubahan Harga Volatilitas

Per April 2026, sikap pasar yang terlalu tenang terlihat dari CBOE Volatility Index (VIX)—indeks yang mengukur perkiraan gejolak (volatilitas) S&P 500 berdasarkan harga opsi—yang bertahan di sekitar level rendah 14. Ini menandakan pelaku pasar melihat risiko jangka pendek kecil, meski titik panas global tetap tegang. Dengan S&P 500 sudah naik lebih dari 8% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD), biaya “asuransi portofolio” yang murah terlihat tidak sejalan dengan risikonya.

Minyak kembali menjadi pasar yang paling responsif, dengan WTI bertahan di atas US$85 per barel. Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA)—lembaga statistik energi pemerintah AS—menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah yang mengejutkan, sehingga pasokan makin ketat bahkan sebelum ada lonjakan tensi geopolitik. Opsi beli (call option, hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada ETF pelacak minyak mencerminkan kekhawatiran lebih besar soal gangguan pasokan.

Dengan perbedaan ini, pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) bisa menilai betapa murahnya perlindungan saat pasar turun pada indeks saham utama. Membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada S&P 500 atau membeli opsi beli pada VIX dapat menjadi cara lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) dengan biaya rendah terhadap guncangan mendadak yang belum “dihargai” pasar saham. Lingkungan volatilitas rendah membuat posisi ini relatif murah.

Mentalitas “buy the dip” (membeli saat harga turun) yang menguat selama reli 2025 masih menekan volatilitas. Pelaku pasar berulang kali mendapat “imbalan” karena mengabaikan berita negatif. Pola ini bisa berbalik tajam bila krisis nyata akhirnya memicu reaksi pasar.

Strategi yang lebih spesifik adalah memanfaatkan perbedaan kinerja antar-sektor, seperti pada 2025 ketika perangkat lunak memimpin sementara minyak memasang harga risiko. Trader dapat memakai opsi untuk mengambil posisi beli (long, diuntungkan saat harga naik) di sektor energi yang diuntungkan dari risiko pasokan, sambil mengambil posisi yang diuntungkan saat turun (bertaruh turun/short, misalnya lewat opsi) pada sektor teknologi yang melesat. Transaksi nilai relatif (relative value trade, mencari untung dari selisih kinerja dua aset/sektor) ini dirancang untuk meraih peluang bila terjadi rotasi dari saham pertumbuhan yang terlalu tenang ke aset riil saat ketegangan meningkat.

Menjelang tenggat gencatan senjata Iran, EUR/USD naik 0,20%, memantul dari 1,1730 ke 1,1790

EUR/USD naik sekitar 0,20% pada Senin, menguat dari dekat 1,1730 ke sekitar 1,1790 pada sesi Eropa. Pergerakannya masih berada dalam kisaran (range) hari Jumat setelah sempat berayun dari di atas 1,1840 ke di bawah 1,1780.

Gencatan senjata (kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik) AS-Iran selama dua minggu akan berakhir pada Selasa malam, tanpa ada kesepakatan lanjutan. Angkatan Laut AS menyita kapal kargo Iran di Teluk Oman pada Minggu setelah menembak ruang mesin. Peristiwa ini terjadi setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz dan menembaki kapal komersial.

Pasar Tetap Tenang di Tengah Ketegangan yang Meningkat

Presiden Trump mengatakan pembicaraan akan dilanjutkan di Islamabad pada Senin malam, sementara kementerian luar negeri Iran menyatakan tidak ada putaran kedua yang dijadwalkan. Minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) naik lebih dari 6% ke atas US$89 per barel.

Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) diperdagangkan dekat level terendah enam minggu, sementara pasar menunggu perkembangan. Rilis penting adalah Penjualan Ritel AS (US Retail Sales, indikator belanja konsumen) pada Selasa dan data awal PMI (Purchasing Managers’ Index/indeks manajer pembelian, indikator aktivitas bisnis) global pada Kamis.

Pada grafik 15 menit, EUR/USD berada di 1,1788 dan tetap di atas harga pembukaan harian di 1,1749. Stochastic RSI (indikator teknikal untuk mengukur momentum dan kondisi jenuh beli/jenuh jual) berada di 82,0, masuk area jenuh beli (overbought, kondisi ketika harga dinilai sudah naik terlalu cepat).

Pada grafik harian, EUR/USD berada di 1,1788 dan bertahan di atas EMA 50 hari dan 200 hari (Exponential Moving Average/rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru). EMA 50 hari sekitar 1,1669, EMA 200 hari sekitar 1,1597, dan Stochastic RSI mendekati 95.

Buka akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Di tengah eskalasi konflik AS–Iran, harga emas diperdagangkan mendekati $4.803, turun 0,70%, seiring kenaikan imbal hasil dan harga minyak

Emas membuka pekan melemah setelah selera risiko (minat investor pada aset berisiko) memburuk usai konflik AS-Iran meningkat selama akhir pekan. XAU/USD diperdagangkan di US$4.803, turun 0,70%, dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang stabil serta harga minyak yang naik membatasi dukungan bagi emas.

Iran menutup Selat Hormuz dan menuntut diakhirinya blokade AS, yang menghambat kapal berbendera Iran. AS menyita kapal Iran setelah kapal itu diperingatkan oleh Angkatan Laut AS untuk kembali ke pelabuhan asal.

Keep all

elements.

Perundingan AS-Iran dan Reaksi Pasar

JD Vance disebut akan memimpin tim perunding AS bersama Steve Wytkoff dan Jared Kushner. Laporan soal delegasi Iran yang bepergian ke Islamabad dibantah oleh sumber yang dikutip Fars.

Donald Trump mengatakan kecil kemungkinan ia memperpanjang gencatan senjata, yang menurutnya berakhir Rabu malam waktu Washington. Ia menambahkan blokade akan tetap berlaku sampai Iran menandatangani kesepakatan.

Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik hampir dua basis poin (1 basis poin = 0,01%) menjadi 4,266%, dan emas menyentuh level terendah lima hari di sekitar US$4.735. Kevin Warsh dijadwalkan memberi keterangan kepada anggota parlemen pada Selasa bahwa ia berkomitmen pada kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan uang beredar) yang independen.

Pejabat The Fed memasuki periode blackout (masa hening, tidak boleh memberi komentar publik) menjelang rapat 28-29 April, dengan pasar memperkirakan suku bunga tetap dan pemangkasan 14 basis poin diperkirakan terjadi pada paruh akhir tahun ini. Data Penjualan Ritel akan dirilis Selasa, bersama data ADP Employment Change rata-rata 4 minggu (perkiraan perubahan jumlah pekerja versi ADP, perusahaan pengolah gaji).

Level Teknikal dan Posisi Opsi

Emas bergerak di sekitar US$4.800, dengan RSI (Relative Strength Index, indikator momentum untuk menilai kuat-lemahnya tren) datar di area bullish (tren naik) dan muncul divergensi negatif ringan setelah puncak US$4.890 pada Jumat lalu. Penutupan di bawah US$4.800 bisa membuka ruang ke US$4.706 (SMA 100 hari, rata-rata bergerak sederhana 100 hari) dan US$4.665 (SMA 20 hari), sementara resistensi (batas atas pergerakan) berada di US$4.850 dan US$4.890 (SMA 50 hari).

Ghose dari Commerzbank memperkirakan lira akan melemah lebih cepat jika bank sentral Turki menunda kenaikan suku bunga saat ekspektasi inflasi meningkat

Commerzbank meninjau prospek lira Turki menjelang keputusan suku bunga acuan Bank Sentral Turki (CBT) pada Rabu. Bank ini merujuk survei CBT yang menunjukkan ekspektasi inflasi akhir 2026 naik menjadi hampir 28% (year-on-year/yoy, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya) dari 25% pada Maret.

Laporan itu menyebut kenaikan ekspektasi terkait perang Iran, dan ekspektasi sudah naik selama berbulan-bulan sebelumnya. Laporan itu juga menyoroti cadangan devisa (valuta asing) CBT turun karena intervensi untuk menopang lira (aksi bank sentral membeli lira/menjual devisa agar nilai tukar tidak melemah) dan langkah jangka pendek lainnya.

Commerzbank melaporkan Gubernur CBT Fatih Karahan dan Menteri Keuangan Mehmet Simsek bertemu pelaku pasar saat konferensi IMF (Dana Moneter Internasional). Peserta menyebut pernyataan mereka mengindikasikan keraguan untuk menaikkan suku bunga.

Commerzbank memperkirakan ada langkah pengetatan moneter pada Rabu. Pengetatan moneter berarti kebijakan yang membuat kondisi keuangan lebih ketat—umumnya lewat kenaikan suku bunga—untuk menekan inflasi. Mereka menilai jika kebijakan tidak diperketat, USD/TRY (kurs dolar AS terhadap lira Turki) dapat naik karena pasar menilai ulang risiko lira.

Survei CBT menunjukkan perkiraan USD/TRY akhir tahun naik menjadi 51,23 dari 50,97 pada April. Ekspektasi 12 bulan ke depan (perkiraan kurs untuk 12 bulan mendatang) naik menjadi 53,62 dari 52,70, sementara proyeksi Commerzbank adalah 55,00.

Kami melihat bank sentral Turki ragu-ragu, seperti yang dikhawatirkan menjelang keputusan terbaru mereka. Tidak adanya kenaikan suku bunga yang berarti memicu aksi jual lira yang sudah diperkirakan. USD/TRY kini menembus level 53,00, mencerminkan kenaikan cepat premi risiko (tambahan imbal hasil yang diminta pasar karena risikonya lebih tinggi).

Pergerakan ini didorong inflasi yang sulit turun. Angka terbaru untuk Maret 2026 naik tak terduga menjadi 35%, sehingga ekspektasi akhir tahun 28% terlihat terlalu optimistis. Dengan cadangan devisa bersih (net foreign reserves, cadangan devisa setelah memperhitungkan kewajiban jangka pendek tertentu) dilaporkan turun di bawah US$15 miliar, bank sentral punya ruang sangat terbatas untuk menahan pelemahan lewat intervensi. Pasar kini melihat kenaikan suku bunga sebagai satu-satunya alat yang masih dianggap kredibel.

Bagi pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), situasi ini mengarah pada periode volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan gejolak harga yang “terbaca” dari harga opsi) yang tetap tinggi di lira. Terlihat permintaan kuat untuk opsi call USD/TRY (hak membeli USD pada kurs tertentu di masa depan), dengan strike price (harga kesepakatan) sekitar 55,00 dan bahkan 58,00 untuk akhir tahun mulai diminati. Ini menunjukkan pasar bersiap untuk pelemahan lanjutan, bukan pembalikan arah.

GBP/USD Bangkit Dekat 1,3530 saat Dolar Melemah, Meski Ketegangan Timur Tengah dan Ancaman Iran di Pakistan

GBP/USD naik setelah memulai pekan melemah, seiring Dolar AS (mata uang Amerika Serikat) sedikit turun setelah sempat menguat tajam. Pasangan ini diperdagangkan di dekat 1,3530.

Ketegangan Timur Tengah meningkat setelah AS menyita kapal berbendera Iran. Iran juga mengancam menghentikan pembicaraan di Pakistan.

Risiko Rebound GBPUSD

GBP/USD terakhir di 1,3525, naik 0,13%.

Pola GBP/USD terlihat berulang: penguatan singkat pound bisa menjadi jebakan bagi trader yang kurang waspada. Pasangan ini kini bergerak di sekitar 1,2450 dan sulit naik lebih jauh setelah data inflasi Inggris pekan lalu tetap tinggi di 3,1%, sehingga Bank of England (bank sentral Inggris, yang mengatur suku bunga) tetap berada di bawah tekanan untuk bersikap ketat. Penguatan kecil hari ini lebih terlihat sebagai jeda dalam tren penguatan Dolar AS, bukan perubahan besar sentimen terhadap pound.

Jika menengok awal 2025, ketegangan geopolitik (risiko politik dan konflik yang memengaruhi pasar) di Timur Tengah seharusnya menguatkan dolar sebagai aset safe haven (aset yang biasanya diburu saat pasar takut). Namun pelonggaran sementara saat itu memberi sinyal palsu. Trader yang membeli saat GBP/USD sempat memantul ke 1,35 akhirnya merugi ketika tren utama dolar kembali berlanjut. Ini mengingatkan bahwa pergerakan jangka pendek bisa menutupi arah tren yang lebih besar.

Pertimbangan Posisi Opsi

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi) dalam beberapa pekan ke depan, ini mengarah pada strategi menjual opsi call GBP/USD (kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) dengan strike price (harga kesepakatan) di dekat resistance (area harga yang sering menahan kenaikan) terbaru, misalnya sekitar 1,2550. Strategi ini bertujuan mengantongi premium (biaya yang diterima penjual opsi) dengan asumsi pound tidak mampu menembus jauh lebih tinggi, sejalan dengan prospek ekonomi Inggris yang lebih lemah dibanding data penjualan ritel AS yang kuat dua pekan lalu. Data CFTC (laporan posisi spekulan di pasar berjangka dari regulator AS) per 16 April 2026 mendukung pandangan ini: posisi net short spekulatif pada GBP (taruhan bahwa pound turun, dihitung bersih antara posisi jual dan beli) meningkat untuk minggu ketiga berturut-turut.

Volatilitas (besarnya naik-turun harga) juga penting. Implied volatility satu bulan (perkiraan volatilitas dari harga opsi) naik ke 9,5% dari 7,8% bulan lalu. Volatilitas yang lebih tinggi membuat membeli opsi menjadi mahal, sehingga strategi yang mengandalkan penjualan premium makin menarik, seperti bear call spread (menjual call dan membeli call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi risiko) atau iron condor (strategi menjual kombinasi spread call dan spread put untuk mengejar profit saat harga bergerak di kisaran tertentu, dengan risiko terbatas). Strategi risiko-terbatas ini bisa untung jika nilai tukar turun dan volatilitas ikut mereda ketika pasar lebih tenang di level lebih rendah.

Karena itu, fokus utama tetap pada data ekonomi, terutama rilis inflasi PCE AS (ukuran inflasi yang dipantau The Fed) dan rilis PDB Inggris berikutnya (ukuran pertumbuhan ekonomi). Kenaikan pound yang lemah sebaiknya dipandang sebagai peluang untuk mengambil posisi mengikuti tren turun yang masih dominan. Pelajaran dari 2025: jangan menganggap jeda singkat pelemahan dolar sebagai pembalikan arah yang benar-benar mendasar.

Di tengah ketegangan di Timur Tengah, harga perak melemah seiring penguatan dolar dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga, diperdagangkan di sekitar US$79,75

Perak (XAG/USD) turun pada Senin ke sekitar $79,75, melemah 1,30% pada hari itu. Harga terkoreksi setelah pada Jumat menyentuh level tertinggi satu bulan di atas $83, ketika pelaku pasar menilai ulang ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz, jalur laut yang dilewati hampir 20% pasokan Minyak global. Hal ini terjadi setelah AS melakukan blokade angkatan laut (pencegahan kapal keluar-masuk lewat kekuatan laut) di pelabuhan-pelabuhan Iran, dan mendorong Minyak West Texas Intermediate (WTI)—patokan harga minyak AS—mendekati $88 per barel.

Risiko Geopolitik Meningkat

Situasi memburuk setelah Angkatan Laut AS mencegat dan menaiki kapal kargo Iran di Teluk Oman. Iran menyatakan tidak akan menghadiri perundingan berikutnya yang direncanakan di Pakistan, sehingga memunculkan keraguan atas kerangka gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembak-menembak) saat ini.

Permintaan Dolar AS naik karena pasar beralih ke aset “safe haven” (aset yang dianggap lebih aman saat krisis), sementara harga minyak yang lebih tinggi memicu kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum). Perkiraan suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti perak.

Pelaku pasar memantau perkembangan di Timur Tengah sebagai penentu arah. Fokus pekan ini juga mencakup data Penjualan Ritel (Retail Sales) AS dan survei awal Indeks Manajer Pembelian atau PMI (Purchasing Managers Index)—indikator aktivitas bisnis—dari S&P Global.

Penempatan Opsi saat Pasar Tertekan

Dampak langsung ke minyak jelas, karena sekitar 21 juta barel per hari kini berisiko terganggu. Eskalasi ini terasa lebih tajam dibanding latihan angkatan laut yang terjadi di Teluk pada musim panas 2025, yang hanya memicu lonjakan harga sementara. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga strike di atas harga pasar saat ini, sehingga lebih spekulatif) pada WTI atau ETF USO (produk reksa dana indeks yang diperdagangkan di bursa), dengan target $95–$100 per barel sebagai spekulasi konflik berlanjut.

Situasi ini menyulitkan logam mulia seperti perak, yang tertekan oleh penguatan Dolar AS. Dengan suku bunga acuan The Fed, Fed Funds Rate (tingkat bunga kebijakan bank sentral AS) bertahan di 4,75%, potensi penundaan pemangkasan suku bunga untuk melawan inflasi akibat minyak membuat aset tanpa imbal hasil kurang menarik. Opsi put (opsi jual untuk melindungi nilai atau berspekulasi turun) pada kontrak berjangka perak atau ETF terkait seperti SLV dapat dipertimbangkan, dengan harapan penurunan berlanjut jika dolar terus menguat sebagai aset aman.

Data Penjualan Ritel dan PMI AS yang akan rilis penting untuk mengukur ketahanan ekonomi. Data kuat bisa membuat The Fed tetap bersikap hawkish (cenderung menahan atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi), sehingga menekan aset seperti perak, sementara data lemah dapat memperbesar kekhawatiran resesi di tengah biaya energi yang naik. Trader perlu bersiap terhadap reaksi pasar yang tajam, karena data ini akan memengaruhi arah kebijakan The Fed untuk kuartal berikutnya.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code