Back

NZD/USD Naik seiring CPI Kuartal I yang Lebih Kuat Dongkrak Kiwi, sementara Haddad dari BBH Menilai Taruhan Kenaikan Suku Bunga RBNZ Terlalu Tinggi

Indeks Harga Konsumen (CPI) Selandia Baru kuartal I naik 0,9% dibanding kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/qoq), di atas konsensus 0,8% dan proyeksi RBNZ (Reserve Bank of New Zealand/Bank Sentral Selandia Baru) 0,6%, setelah 0,6% pada kuartal IV. Inflasi utama (headline, angka total) tercatat 3,1% dibanding setahun sebelumnya (year-on-year/yoy), di atas konsensus 2,9% dan perkiraan RBNZ 2,8%, sama seperti 3,1% pada kuartal IV.

Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 100 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) hingga 3,25% dalam 12 bulan ke depan. Komentar juga menyoroti inflasi inti (underlying/core, inflasi “dasar” yang biasanya mengecualikan komponen paling bergejolak) yang masih terkendali dan adanya kapasitas menganggur (spare capacity, ekonomi belum bekerja penuh) sebagai alasan kenaikan suku bunga bisa lebih sedikit dari perkiraan pasar.

Market Pricing Versus Policy Reality

NZD/USD diperkirakan bergerak di kisaran 0,5800–0,6000 dalam waktu dekat.

Inflasi kuartal I tercatat tinggi di 3,1%, melampaui konsensus pasar dan proyeksi RBNZ. Pasar swap suku bunga (interest rate swaps, kontrak derivatif untuk saling menukar pembayaran bunga tetap dan mengambang sebagai patokan ekspektasi suku bunga) bereaksi cepat, dan kini sepenuhnya memasukkan (fully pricing in) kenaikan 100 bps selama 12 bulan ke depan. Reaksi ini dinilai berlebihan melihat kondisi ekonomi.

Masih ada kapasitas menganggur yang mendukung kenaikan suku bunga lebih terbatas dari perkiraan pasar. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan PDB (GDP, Produk Domestik Bruto) hanya 0,2% pada kuartal terakhir 2025, dan tingkat pengangguran naik ke 4,4%. Meski inflasi utama tinggi, ukuran inflasi inti versi RBNZ lebih rendah di 2,6%, sehingga bank sentral punya alasan untuk menunggu.

RBNZ sebelumnya menghentikan sementara siklus kenaikan suku bunga sepanjang sebagian besar 2025, dengan alasan ketidakpastian global meski sebagian data domestik solid. Bank diperkirakan kembali berhati-hati, menunggu bukti pemulihan ekonomi yang lebih jelas sebelum mengikuti jalur agresif seperti yang diharapkan pasar. Perbedaan antara perkiraan pasar dan langkah RBNZ ini dapat menjadi peluang transaksi.

NZDUSD Range And Volatility Strategy

NZD/USD kemungkinan tetap dalam kisaran 0,5800–0,6000 dalam waktu dekat seiring meredanya euforia data inflasi. Ini membuka strategi “menjual volatilitas” (selling volatility, mengambil untung saat harga diperkirakan tidak banyak bergerak) bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi). Contohnya, menjual opsi call (hak membeli) dengan strike price (harga kesepakatan) sedikit di atas 0,6000 dan menjual opsi put (hak menjual) dengan strike di bawah 0,5800 untuk mengumpulkan premi (premium, uang yang diterima penjual opsi) dari perkiraan pergerakan yang terbatas.

Menjelang sidang konfirmasi Warsh, XAG/USD diperdagangkan di sekitar $78,20, turun 1,88% pada sesi Selasa

Perak melemah pada Selasa, di dekat US$78,20, turun 1,88% pada hari itu. Pasar bersikap hati-hati menjelang sidang konfirmasi Kevin Warsh di Senat untuk memimpin Federal Reserve (bank sentral AS).

Warsh dijadwalkan memberi kesaksian di Komite Perbankan Senat. Perhatian tertuju pada bagaimana ia dapat mengarahkan kebijakan moneter (arah suku bunga dan pasokan uang). Pelaku pasar mencari petunjuk soal independensi Federal Reserve (kemampuan bank sentral mengambil keputusan tanpa campur tangan politik) dan seberapa besar pengaruh agenda ekonomi Washington.

Kebijakan Moneter dan Tekanan Politik

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada CNBC bahwa ia akan “kecewa” jika Warsh tidak bergerak cepat memangkas suku bunga setelah menjabat. Ini membuat pasar menyoroti apakah kebijakan moneter bisa mendapat tekanan politik.

Pencalonan Warsh dikaitkan dengan pergerakan harga perak sebelumnya. Pada akhir Januari, logam ini turun lebih dari 30% setelah menyentuh rekor di dekat US$121,60.

Data AS juga mendukung Dolar AS dan menekan logam mulia. Penjualan Ritel (Retail Sales, ukuran belanja konsumen) naik 1,7% pada Maret, di atas perkiraan kenaikan 1,4%.

Pasar juga memantau ketegangan AS-Iran setelah laporan bahwa Teheran mungkin bersedia melanjutkan pembicaraan damai dengan Washington. Pergerakan perak berikutnya dapat dipengaruhi oleh sidang Warsh, data AS berikutnya, dan arah Dolar AS.

Posisi Derivatif dan Manajemen Risiko

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka/futures), kondisi seperti ini mengisyaratkan potensi tekanan harga berlanjut dan volatilitas (naik-turun harga) yang tinggi.

Membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada futures perak atau membuat strategi bear put spread (kombinasi membeli dan menjual opsi jual untuk menekan biaya) dapat menjadi cara lebih hemat untuk melindungi posisi beli (long) yang sudah dimiliki atau berspekulasi pada penurunan harga. Strategi perlindungan (hedging, mengurangi risiko dengan posisi lawan) penting jika ada komentar The Fed yang lebih “hawkish” (cenderung menaikkan suku bunga atau menahan pemangkasan demi menekan inflasi), karena biasanya memperkuat dolar dan menekan logam mulia.

Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi perak kemungkinan tetap tinggi menjelang rapat Federal Open Market Committee/FOMC (komite penentu kebijakan suku bunga The Fed). Kondisi ini bisa menguntungkan bagi pihak yang menjual premi opsi (option premium, biaya yang dibayar pembeli opsi), misalnya dengan menulis covered call (menjual opsi beli/call sambil memiliki aset dasarnya) atas perak fisik atau ETF (Exchange-Traded Fund, reksa dana yang diperdagangkan di bursa). Namun, karena perubahan arah kebijakan bisa terjadi cepat, strategi dengan risiko terukur (defined-risk, kerugian maksimum jelas sejak awal) biasanya lebih aman dibanding menahan posisi tanpa lindung nilai.

Secara historis, pola serupa pernah terjadi pada awal 1980-an ketika Ketua The Fed Paul Volcker menaikkan suku bunga secara agresif, yang mengakhiri tren naik (bull market, periode kenaikan harga) logam mulia. Pelajaran historis ini menegaskan bahwa bank sentral yang hawkish dapat menjadi faktor kuat yang menekan harga. Karena itu, pasar perlu tetap waspada dan menggunakan instrumen derivatif untuk mengelola risiko yang terkait arah kebijakan The Fed.

Bob Savage dari BNY mengatakan selera risiko di pasar saham mulai pulih, dipimpin saham teknologi Asia; pasar maju rebound lebih cepat

Saham menunjukkan pemulihan selera risiko yang paling jelas, tetapi kepemilikan investor masih di bawah rata-rata jangka panjang (tingkat “normal” yang biasanya dituju kembali). Pasar negara maju pulih lebih cepat dibanding pasar negara berkembang.

Korea Selatan dan Taiwan terdampak besar karena paparan tinggi ke tema AI global (kecerdasan buatan, yaitu teknologi yang membuat komputer mampu “belajar” dari data) dan masalah pasokan energi. Sebelum konflik, kepemilikan di keduanya sudah terlalu besar (banyak investor sudah menempatkan dana berlebihan).

Korea Selatan Dan Taiwan Sebagai Barometer Risiko

Saham Korea Selatan turun hampir 40 poin persentase dibanding rata-rata berjalan 12 bulan (rata-rata yang terus diperbarui setiap hari untuk 12 bulan terakhir) dari puncak ke titik terendah. Baru sebagian kecil penurunan itu yang pulih.

Penurunan Taiwan lebih kecil, tetapi pantulannya juga terbatas. Pemulihan kepemilikan yang berkelanjutan di dua pasar ini akan menjadi tanda normalisasi yang lebih luas pada sentimen risiko global.

Permintaan global tetap kuat, dengan arus keluar yang kecil di Kanada, Ceko, Korea Selatan, dan Filipina. Arus masuk tercatat di Australia, Norwegia, Swedia, Brasil, Meksiko, Cile, Hungaria, Turki, China, dan Taiwan.

Di pasar negara berkembang, sektor industri, kebutuhan pokok (consumer staples: barang sehari-hari seperti makanan dan produk rumah tangga), keuangan, TI (teknologi informasi), dan utilitas (perusahaan listrik/air/gas) mencatat arus masuk kuat. iFlow Mood naik ke 0,258, didorong oleh permintaan saham yang lebih cepat, mendekati level tertinggi pertengahan Februari 2026.

Implikasi Trading Dan Penempatan Posisi

Pasar saat ini menunjukkan selera risiko yang meningkat, terutama pada saham, dengan indikator sentimen mendekati level tertinggi pertengahan Februari 2026. Namun pemulihannya tidak merata, dan posisi total belum kembali ke rata-rata jangka panjang. Artinya tren membaik, tetapi ruang kenaikan masih ada.

Sinyal terpenting untuk kondisi “risk-on” penuh (investor berani mengambil risiko dan masuk ke aset berisiko seperti saham) kami lihat akan datang dari saham Korea Selatan dan Taiwan. Keduanya terpukul saat krisis pasokan energi 2025 dan baru pulih sebagian kecil. Contohnya, KOSPI (indeks saham utama Korea) yang sempat turun hampir 40% dari puncak, baru belakangan stabil di sekitar 2.850, sementara arus masuk investor asing baru mulai kembali dalam sebulan terakhir.

Bagi trader, ini mengarah pada penempatan posisi untuk reli susulan di pasar tersebut melalui derivatif (produk turunan yang nilainya mengikuti aset acuan, seperti indeks). Membeli opsi call (kontrak yang memberi hak membeli di harga tertentu sebelum jatuh tempo, untuk mengambil untung saat harga naik) atau membuat bull call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain di strike lebih tinggi untuk menekan biaya) pada indeks KOSPI 200 dan TAIEX untuk beberapa bulan ke depan bisa menjadi cara langsung memanfaatkan potensi rebound. Karena tertinggal, potensi kenaikannya bisa lebih besar dibanding pasar negara maju yang sudah pulih.

Pendekatan lebih hati-hati bisa memakai pairs trade (strategi pasangan: beli satu aset dan jual aset lain untuk memanfaatkan perbedaan kinerja), yaitu long indeks negara maju seperti S&P 500 (posisi beli untuk untung jika naik) sambil short keranjang pasar negara berkembang (posisi jual untuk untung jika turun). Strategi ini diuntungkan bila pasar negara maju terus mengungguli, seperti sejak awal tahun. Sinyal utama untuk menutup strategi ini adalah pemulihan besar pada kepemilikan di Korea dan Taiwan.

Kembalinya kepercayaan pada pusat teknologi Asia ini juga akan menguatkan mata uangnya. Won Korea menguat ke 1.310 per dolar, dari sempat di atas 1.400 saat tekanan jual terburuk pada 2025, tetapi masih lemah secara historis. Menggunakan opsi FX (opsi valuta asing: kontrak yang memberi hak membeli/menjual mata uang pada kurs tertentu) untuk bertaruh pada penguatan lanjutan won dan dolar Taiwan dapat menjadi cara lain untuk mengambil posisi menuju normalisasi risiko global.

Pada 17 April, laju tahunan Indeks Redbook AS melambat menjadi 6,7%, turun dari 7% sebelumnya

Indeks Redbook Amerika Serikat (year-on-year/YoY, yaitu perubahan dibanding periode yang sama tahun lalu) turun ke 6,7% pada 17 April, dari 7% sebelumnya.

Ini berarti laju tahunan turun 0,3 poin persentase dari data sebelumnya.

Redbook Mengindikasikan Permintaan Konsumen Mulai Mendingin

Terlihat perlambatan penjualan ritel secara tahunan, dengan indeks Redbook turun ke 6,7%. Angka ini masih menunjukkan pertumbuhan yang solid, tetapi perlambatan ini memberi sinyal daya beli konsumen mulai melemah. Ini penurunan mingguan ketiga berturut-turut, pola yang perlu dicermati.

Perlambatan belanja ini terjadi saat laporan CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) Maret terbaru menunjukkan inflasi inti (core inflation, yaitu inflasi tanpa komponen yang mudah bergejolak seperti energi dan pangan) masih tinggi di 3,4%, sehingga menyulitkan langkah The Fed (bank sentral AS) ke depan. Pasar tenaga kerja juga mulai mendingin: laporan terbaru menunjukkan lowongan kerja turun ke level terendah hampir tiga tahun, menjadi 8,1 juta. Campuran data seperti ini menambah ketidakpastian, dan itu bisa dimanfaatkan dalam strategi trading.

Dalam beberapa pekan ke depan, pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi yang mengantisipasi pelemahan lanjutan di sektor consumer discretionary (barang/jasa non-kebutuhan, seperti hiburan dan barang mewah), yang diwakili ETF (exchange-traded fund/reksa dana yang diperdagangkan di bursa) seperti XRT. Membeli opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan harga strike di bawah harga pasar saat ini, sehingga lebih murah tetapi risikonya tidak menjadi untung lebih tinggi) pada aset ini bisa menjadi cara berbiaya rendah untuk berspekulasi pelemahan belanja non-kebutuhan berlanjut. Strategi ini membatasi risiko (defined risk) bila konsumen ternyata lebih kuat dari perkiraan.

Di sisi lain, pendinginan ekonomi dapat membuat pasar mulai memperkirakan kebijakan The Fed yang lebih “dovish” (lebih longgar, cenderung menahan/menurunkan suku bunga) pada paruh akhir tahun. Ini biasanya menguntungkan aset yang sensitif terhadap suku bunga. Salah satu opsi adalah membeli call spread (strategi opsi: membeli opsi beli dan menjual opsi beli lain di strike lebih tinggi untuk menekan biaya) pada sektor seperti utilitas (XLU) atau real estat (IYR) untuk memosisikan diri bila yield (imbal hasil) obligasi jangka panjang turun.

Lingkungan sinyal yang saling bertentangan seperti ini sering memicu kenaikan volatilitas (besar-kecilnya pergerakan harga). Indeks VIX (pengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS) saat ini berada di sekitar 15, level yang relatif rendah dan secara historis kerap mendahului periode gejolak. Membeli opsi call VIX dengan jatuh tempo satu hingga dua bulan bisa menjadi lindung nilai (hedge) langsung terhadap potensi guncangan pasar akibat tarik-menarik kondisi ekonomi ini.

Posisi Defensif di Tengah Arah Makro yang Campur Aduk

Perlu diingat, pada musim gugur 2025, pola serupa—data konsumen melemah—mendahului koreksi pasar 7% dalam enam pekan berikutnya. Pada periode itu, saham growth berbeta tinggi (saham pertumbuhan yang lebih sensitif terhadap pergerakan pasar) tertinggal jauh dari pasar secara keseluruhan. Sejarah mengisyaratkan perlunya sikap hati-hati dan persiapan rotasi defensif (pergeseran ke aset/sektor yang lebih tahan perlambatan).

Strategi pair trade (menyeimbangkan posisi beli dan jual pada dua aset) yaitu long (posisi beli, berharap naik) consumer staples (kebutuhan pokok, XLP) dan short (posisi jual, berharap turun) consumer discretionary (XLY) bisa menjadi cara untuk menghadapi situasi ini. Strategi ini menargetkan keuntungan dari kinerja sektor defensif yang mengungguli sektor siklikal. Ini pendekatan market-neutral (lebih fokus pada selisih kinerja dua aset, bukan arah pasar secara keseluruhan) yang menyoroti pergeseran belanja konsumen dari keinginan ke kebutuhan.

Biro Sensus AS: Penjualan Ritel AS Maret Capai US$752,1 Miliar, Naik 1,7%, Lampaui Perkiraan 1,4%

Penjualan Ritel AS naik 1,7% menjadi US$752,1 miliar pada Maret, kata Biro Sensus AS. Ini menyusul kenaikan 0,7% pada Februari (direvisi dari 0,6%) dan lebih tinggi dari perkiraan 1,4%.

Penjualan ritel naik 4% dibanding setahun sebelumnya, sama seperti pada Februari. Total penjualan Januari 2026 hingga Maret 2026 naik 3,7% (±0,4%) dibanding periode yang sama tahun lalu.

Momentum Perdagangan Ritel

Penjualan perdagangan ritel naik 1,9% (±0,5%) dari Februari 2026. Angkanya juga naik 4,2% (±0,5%) dibanding setahun sebelumnya.

Setelah data dirilis, Indeks Dolar AS bergerak sedikit naik. Terakhir, indeks ini naik 0,2% pada hari itu ke 98,25.

Angka penjualan ritel Maret yang kuat (1,7%) menantang pandangan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan segera menurunkan suku bunga. Ekspektasi suku bunga berubah cukup besar, mirip kuartal I-2024 ketika inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan membuat rencana pelonggaran kebijakan tertunda. Kondisi ini membuat pelaku pasar bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan jika suku bunga tetap tinggi, seperti menjual kontrak berjangka SOFR (SOFR futures), yaitu kontrak yang mengikuti perkiraan suku bunga acuan pasar uang AS berbasis SOFR (Secured Overnight Financing Rate/suku bunga pinjaman semalam yang dijamin aset).

Belanja konsumen yang kuat—yang menyumbang hampir 70% aktivitas ekonomi—menopang prospek laba perusahaan. Tahun lalu, kekuatan lebih banyak bergeser ke sektor jasa, tetapi data ini menunjukkan barang ritel kembali menguat, naik 1,9% dalam sebulan. Pelaku pasar bisa melirik membeli opsi beli (call option, hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada ETF sektor consumer discretionary (dana indeks yang berisi saham barang dan jasa non-kebutuhan, seperti ritel dan hiburan) untuk memanfaatkan potensi kelanjutan penguatan.

Volatilitas Dan Implikasi Mata Uang

Kekuatan permintaan konsumen yang di luar dugaan menambah ketidakpastian soal langkah The Fed berikutnya, sehingga pasar berpotensi lebih bergejolak. Tahun ini sempat terlihat pasar terlalu tenang, dengan VIX (indeks volatilitas yang sering disebut “fear gauge”/pengukur ketakutan pasar) mendekati level terendah tahunan, bahkan bulan lalu sekitar 14. Dengan kejutan ini, membeli opsi beli pada VIX dapat menjadi lindung nilai (hedge, strategi untuk mengurangi risiko) yang relatif efisien terhadap kemungkinan lonjakan volatilitas.

Dengan Indeks Dolar naik ke 98,25 setelah berita ini, arah dolar terlihat cenderung menguat. Data ini berlawanan dengan laporan terbaru dari Zona Euro, ketika inflasi menunjukkan tanda melambat lebih cepat dari perkiraan, sehingga Bank Sentral Eropa (ECB) berpotensi menurunkan suku bunga lebih cepat. Karena itu, instrumen derivatif (produk turunan nilainya mengikuti aset acuan) yang mengambil posisi dolar lebih kuat terhadap euro—seperti menjual kontrak berjangka EUR/USD (posisi yang diuntungkan jika EUR/USD turun, artinya dolar menguat)—terlihat makin menarik.

Foley dari Rabobank: Politik Inggris dan inflasi bisa menguatkan sterling, meski ekspektasi terhadap Bank of England belakangan melunak

Ketidakpastian politik Inggris yang terkait dengan kepemimpinan Partai Labour dan pemilu bulan Mei bisa menekan sentimen terhadap sterling pada musim semi. Rabobank mencatat, penguatan sterling sebelumnya terkait dengan perubahan cepat pada ekspektasi pasar terhadap kebijakan Bank of England (bank sentral Inggris), yang sejak itu sebagian berbalik.

Sterling adalah mata uang G10 dengan kinerja terbaik ketiga sejak pecahnya perang di Timur Tengah. G10 adalah kelompok 10 mata uang utama dunia yang paling banyak diperdagangkan. Harga pasar saat ini mengindikasikan sedikit di atas satu kali kenaikan suku bunga dalam enam bulan ke depan.

Prospek Inflasi dan Suku Bunga Sterling

Pergerakan tajam suku bunga pasar Inggris belakangan menunjukkan kekhawatiran apakah ekspektasi inflasi Inggris tetap “terjangkar” (tetap stabil dan tidak mudah berubah) dibanding pasar G10 lain. Risiko inflasi juga terkait potensi gangguan pasokan energi di Timur Tengah.

Untuk EUR/GBP, simple moving average (SMA)—rata-rata bergerak sederhana, yakni rata-rata harga dalam periode tertentu—200 hari dan 100 hari dipandang sebagai level penopang (support) jangka pendek di sekitar 0,87. Rabobank menunjuk 0,86 sebagai level saat turun (dip) dan 0,88 sebagai target enam bulan, mengisyaratkan kenaikan bertahap.

Awan politik kembali menggelayuti Inggris, yang kami nilai menjadi gangguan bagi pasar GBP (Poundsterling) pada musim semi ini. Pemerintah menghadapi tekanan menjelang pernyataan fiskal penting, sehingga menambah ketidakpastian bagi Pound. Situasi ini mengingatkan pada suasana gelisah menjelang pemilu pada 2025.

Strategi Trading EURGBP

Data inflasi Inggris pekan lalu menunjukkan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi utama) tetap “lengket” di 2,8% (sulit turun cepat), sehingga memperkuat kekhawatiran tekanan harga. Ini berbeda dengan Zona Euro, di mana inflasi turun ke 2,2%, memberi ECB (European Central Bank/Bank Sentral Eropa) lebih banyak ruang untuk melonggarkan kebijakan. Kami menilai perbedaan arah ini kemungkinan mendorong EUR/GBP naik.

Karena itu, pasar suku bunga kini hanya memperhitungkan satu kali pemangkasan suku bunga Bank of England sebesar 25 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) untuk sisa 2026. Ruang pelonggaran yang terbatas ini juga dipengaruhi kenaikan biaya energi, dengan Brent (patokan harga minyak mentah global) baru-baru ini diperdagangkan di atas US$95 per barel karena ketegangan geopolitik kembali meningkat. Volatilitas ini menegaskan ekspektasi inflasi Inggris lebih rentan dibanding ekonomi G10 lain.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), ini mendukung strategi membeli saat harga turun untuk pasangan EUR/GBP, terutama jika kembali mendekati 0,8600. Kami melihat peluang pasangan ini bergerak naik perlahan menuju area 0,8750–0,8800 dalam beberapa bulan ke depan. Strategi opsi seperti membeli call spread (membeli opsi call pada strike lebih rendah dan menjual opsi call pada strike lebih tinggi untuk membatasi biaya dan potensi keuntungan) dapat menjadi cara untuk memposisikan diri terhadap kenaikan bertahap ini.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan politik, pound melemah seiring penguatan dolar yang mendorong GBP/USD mendekati 1,3515

GBP/USD diperdagangkan di 1,3515 pada Selasa seiring dolar AS menguat. Pound mendapat tekanan tambahan setelah eskalasi konflik AS-Iran, yang memicu kekhawatiran gencatan senjata gagal dan investor beralih ke aset aman (instrumen yang biasanya diburu saat risiko meningkat, seperti dolar AS).

Ketegangan terpusat di Selat Hormuz. AS melaporkan penahanan kapal Iran, sementara Iran menolak ikut negosiasi lanjutan. Kondisi ini mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan permintaan dolar.

Resistance Teknis dan Momentum

Pasangan ini tertahan tepat di bawah resistance 1,3600 (level harga yang sering menjadi penghalang kenaikan). Area ini diperkuat oleh retracement Fibonacci 0,618 (ukuran koreksi harga yang sering dipakai untuk memperkirakan area support/resistance).

Mata uang ini disebut overbought (harga sudah naik terlalu cepat sehingga rawan koreksi), meski belum berlebihan. Perdagangan awal bergerak dekat support di 1,3516 (level yang sering menahan penurunan).

Kita pernah melihat tekanan seperti ini pada awal 2025 ketika konflik AS-Iran memicu arus masuk ke dolar sebagai aset aman. Saat itu GBP/USD kesulitan menembus resistance 1,3600 karena pelaku pasar memasukkan risiko geopolitik ke harga. Namun, faktor itu kini bukan pendorong utama.

Saat ini, fokus bergeser ke perbedaan arah kebijakan bank sentral. Inflasi terbaru Inggris untuk Maret 2026 tercatat 3,1%, masih tinggi dan jauh di atas target Bank of England. Sebaliknya, data CPI AS (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) menunjukkan inflasi lebih cepat turun ke 2,5%.

Perbedaan Kebijakan Bank Sentral

Data ini mengindikasikan Bank of England kemungkinan harus menahan suku bunga tinggi lebih lama dibanding Federal Reserve. Selisih suku bunga (perbedaan tingkat bunga antarnegara) pada dasarnya mendukung pound terhadap dolar. Karena itu, harga kini diperdagangkan lebih tinggi, dekat 1,3850.

Premi risiko geopolitik (tambahan harga akibat ketidakpastian) dari tahun lalu juga memudar. Harga minyak WTI (patokan harga minyak AS) stabil di sekitar US$85 per barel, turun dari lonjakan saat ketegangan Selat Hormuz. Volatilitas tersirat satu bulan pada GBP/USD (perkiraan gejolak harga dari harga opsi) turun dari di atas 10% saat ketakutan 2025 menjadi 7,5% saat ini. Ini berarti opsi lebih murah dan pasar memperkirakan pergerakan harga tidak seekstrem sebelumnya.

Dengan volatilitas lebih rendah dan prospek fundamental yang cenderung positif, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call GBP/USD dengan strike di atas 1,3900 (opsi beli yang memberi hak membeli pada harga tertentu). Strategi ini memberi peluang keuntungan saat sterling menguat, dengan risiko maksimum yang jelas. Bull call spread (membeli call dan menjual call lain di strike lebih tinggi untuk menekan biaya premi) juga bisa dipakai untuk menurunkan biaya awal.

Untuk pelaku pasar futures (kontrak berjangka), keunggulan selisih suku bunga membuat posisi long GBP menarik karena carry positif (keuntungan dari selisih bunga saat memegang posisi). Level 1,3600 yang dulu menjadi resistance pada 2025 kini bisa dipandang sebagai support jangka panjang. Target kenaikan berikutnya adalah level psikologis 1,4000.

Danske Bank melaporkan inflasi utama Kanada pada Maret naik menjadi 2,4% secara tahunan, sedikit di bawah perkiraan, inflasi inti stabil

Inflasi utama Kanada naik menjadi 2,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret, dari 1,8% sebelumnya dan sedikit di bawah perkiraan. Ukuran inflasi inti (core inflation, yaitu inflasi yang mengeluarkan komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) yang dipantau Bank of Canada tetap stabil.

Gubernur Tiff Macklem mengatakan bank sentral tidak khawatir terhadap kenaikan sementara pada ekspektasi inflasi (perkiraan masyarakat dan pelaku pasar soal inflasi ke depan). Data ini diperkirakan netral untuk rapat Bank of Canada pekan depan.

Bank Of Canada Policy Outlook

Tim Riset Danske memperkirakan Bank of Canada akan menahan suku bunga acuannya (policy rate) pada rapat tersebut. Ini sejalan dengan harga pasar saat ini, yakni ekspektasi pelaku pasar yang tercermin pada instrumen keuangan.

Artikel ini menyebut ditulis menggunakan alat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI, teknologi komputer yang meniru kemampuan manusia untuk mengolah informasi) dan ditinjau editor.

Penjualan ritel AS naik 4% secara tahunan pada Maret, melampaui perkiraan dan angka sebelumnya 3,7%

Penjualan ritel AS naik 4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret. Ini dibandingkan 3,7% sebelumnya.

Data penjualan ritel Maret lebih kuat dari perkiraan, yakni 4% yoy, sehingga mengejutkan pasar. Laporan ini menunjukkan konsumen AS masih tangguh meski suku bunga lebih tinggi. Ini menantang pandangan bahwa ekonomi sudah cukup melambat sehingga Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) bisa mulai melonggarkan kebijakan.

Implikasi untuk Kebijakan The Fed

Kekuatan konsumsi ini penting karena Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI), ukuran inflasi di tingkat konsumen, pekan lalu juga lebih tinggi dari perkiraan, yakni 3,6% secara tahunan. Dengan belanja dan inflasi sama-sama lebih tinggi dari perkiraan, peluang pemangkasan suku bunga pada musim panas cepat menyusut. Perkiraan pasar untuk pemangkasan pada Juli turun dari di atas 60% bulan lalu menjadi di bawah 25% saat ini.

Bagi pelaku pasar suku bunga, ini berarti perlu mengantisipasi sikap kebijakan “lebih tinggi lebih lama” (higher for longer), yaitu suku bunga tetap tinggi lebih lama. Menjual kontrak berjangka (futures) SOFR untuk jatuh tempo akhir 2026 bisa menjadi strategi. SOFR (Secured Overnight Financing Rate) adalah suku bunga acuan pasar uang berbasis transaksi untuk pinjaman semalam yang dijamin surat berharga pemerintah AS. Menjual futures berarti bertaruh suku bunga ke depan tetap tinggi (karena harga futures bergerak berlawanan arah dengan ekspektasi suku bunga), sehingga pasar makin menghapus perkiraan pemangkasan agresif.

Di pasar saham, kekuatan ekonomi yang bertahan disertai inflasi yang sulit turun menjadi hambatan. Bisa dipertimbangkan membeli opsi put protektif, yaitu hak untuk menjual di harga tertentu guna membatasi kerugian, pada indeks pasar luas seperti SPX (S&P 500). Ini relevan setelah periode pasar yang relatif tenang pada akhir 2025. Dengan VIX (indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” karena mencerminkan perkiraan gejolak pasar) berada di sekitar 15, biaya opsi untuk lindung nilai (hedging) masih relatif menarik di tengah ketidakpastian yang meningkat.

Dolar AS diuntungkan karena selisih suku bunga (interest rate differentials), yaitu perbedaan suku bunga antarnegara, makin mendukung dolar. Indeks Dolar (Dollar Index/DXY), ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, diperkirakan melanjutkan penguatan dari level awal 100-an yang terlihat sebelumnya. Posisi beli (long) dolar terhadap mata uang dengan bank sentral yang lebih dovish, yaitu lebih condong menahan atau menurunkan suku bunga, seperti yen Jepang, terlihat makin menarik.

Pertimbangan Posisi Pasar

Pada Maret, penjualan ritel AS naik 1,7% (mtm), melampaui perkiraan ekonom sebesar 1,4%

Penjualan Ritel AS naik 1,7% secara bulanan (month-on-month/mom) pada Maret. Angka ini di atas perkiraan 1,4%.

Kuatnya penjualan ritel menunjukkan konsumen masih sangat tahan banting, sehingga prospek inflasi menjadi lebih rumit. Laporan ini membuat peluang Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) memangkas suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil. Data yang mengarah pada perlambatan ekonomi kini berpotensi kalah oleh sinyal jelas bahwa belanja konsumen masih kuat.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Disesuaikan

Perkembangan ini memaksa pasar menyesuaikan kembali (repricing) ekspektasi suku bunga untuk sisa tahun ini. Mengacu pada fed funds futures (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi suku bunga acuan The Fed), pasar sudah menurunkan peluang pemangkasan suku bunga pada musim panas menjadi di bawah 40%, turun dari hampir 70% beberapa pekan lalu. Perlu mempertimbangkan derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan) yang diuntungkan oleh suku bunga jangka pendek yang tetap tinggi, karena narasi “lebih tinggi lebih lama” kembali menguat.

Bagi pasar saham, kabar ini menjadi tekanan (headwind) meski menandakan ekonomi kuat. Pola serupa terlihat pada akhir 2023 hingga awal 2024: kejutan data ekonomi yang positif justru diikuti penurunan saham karena mengisyaratkan The Fed akan lebih ketat. Karena itu, membeli opsi put protektif (kontrak yang memberi hak menjual; dipakai untuk lindung nilai saat harga turun) pada indeks besar seperti S&P 500 dapat menjadi langkah lindung nilai terhadap potensi penurunan dalam beberapa pekan ke depan.

Ketidakpastian arah kebijakan The Fed berpotensi meningkatkan pergerakan pasar yang naik-turun (choppiness). Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yakni ukuran ekspektasi volatilitas saham AS, sempat berada dekat level terendah historis, terakhir diperdagangkan di bawah 15. Namun data ini bisa menjadi pemicu lonjakan volatilitas. Membeli opsi call pada VIX (kontrak yang memberi hak membeli; diuntungkan jika VIX naik) dapat menjadi cara untuk memposisikan diri menghadapi potensi kenaikan volatilitas.

Kekuatan Dolar dan Perbedaan Arah Kebijakan

Situasi ini juga membuka peluang di pasar valuta asing. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi biasanya mengangkat nilai mata uang, sehingga Indeks Dolar AS (DXY), yaitu ukuran kekuatan dolar terhadap mata uang utama lain, berpotensi menguat. Posisi beli (long) dolar melalui futures (kontrak berjangka) atau opsi dapat berkinerja baik seiring perbedaan arah kebijakan (policy divergence) antarbank sentral makin jelas.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code