Back

Futures saham AS melemah saat reli mereda, dengan S&P 500 mundur menuju level support teknikal krusial

Kontrak berjangka (futures) saham AS turun tipis pada Selasa pagi setelah reli tajam dari titik terendah April, dengan S&P 500 terkoreksi ke area teknikal penting. Pergerakan ini muncul saat pasar berhenti sejenak setelah pemulihan yang nyaris menanjak lurus.

S&P 500 turun mendekati *anchored VWAP* dari titik terendah April, sementara RSI berada di sekitar 70, yang menandakan kondisi jangka pendek sudah “terlalu mahal” akibat kenaikan cepat (*overbought*). Konsolidasi awal mulai terbentuk di dekat puncak terbaru.

Level Teknikal yang Jadi Sorotan

*Anchored VWAP* menjadi level kunci, dan jika mampu bertahan berarti tren naik masih terjaga. Jika turun menembusnya, koreksi berpotensi lebih dalam.

Faktor makro juga menekan pasar, karena ketegangan di Timur Tengah di sekitar Selat Hormuz mendorong harga minyak lebih tinggi. Kenaikan minyak memicu lagi kekhawatiran inflasi, yang bisa membatasi ruang gerak Federal Reserve (bank sentral AS) dan menekan valuasi saham.

Pendorong bullish mencakup harapan laba perusahaan, optimisme terkait AI (kecerdasan buatan), serta tren teknikal yang masih bertahan untuk sementara. Risiko mencakup kenaikan harga minyak, ketidakpastian geopolitik, dan kondisi *overbought* setelah reli terbaru.

Fokus utama mencakup reaksi di *anchored VWAP*, arah harga minyak, rotasi sektor seperti energi dibanding teknologi, serta berita laba. Nada pasar keseluruhan cenderung hati-hati: pasar lebih “jeda” daripada benar-benar jatuh.

Volatilitas dan Positioning

Dengan S&P 500 ragu-ragu di sekitar 6.150, terlihat pola jeda klasik setelah kenaikan besar dari titik terendah April. Indeks Volatilitas CBOE (VIX)—pengukur “harga ketakutan” yang mencerminkan perkiraan gejolak pasar—mulai naik dari sekitar 12 menuju 15, menandakan kehati-hatian kembali muncul. Ini berarti belum ada kepanikan, tetapi biaya “asuransi portofolio” (lindung nilai) bisa meningkat.

Level teknikal yang dipantau adalah *anchored volume-weighted average price (VWAP)* dari titik bawah terakhir, yang berada di sekitar 6.100 pada S&P 500. *Anchored VWAP* adalah rata-rata harga yang “dibobot” oleh volume transaksi dan dihitung mulai dari satu titik acuan tertentu (misalnya titik terendah April), sehingga sering dipakai untuk mengukur area dukungan/ketahanan yang dinilai adil oleh pasar. Jika level ini dipertahankan pembeli, itu sinyal kuat untuk menambah eksposur bullish, misalnya lewat *call spread* (strategi opsi membeli call dan menjual call lain untuk menekan biaya masuk). Namun, jika terjadi penembusan tegas ke bawah, reli ini bisa dianggap melemah dan *protective put* (membeli opsi put sebagai perlindungan saat harga turun) menjadi lebih menarik.

Tekanan makro yang meningkat menambah ketidakpastian, terutama setelah minyak mentah WTI menembus US$92 per barel karena ketegangan geopolitik. WTI adalah patokan harga minyak AS. Lonjakan biaya energi ini memicu kekhawatiran inflasi naik lagi, terutama setelah laporan CPI (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) pertengahan April 2026 menunjukkan laju tahunan yang masih tinggi di 3,6%. Kondisi ini mendukung strategi lindung inflasi, misalnya mengambil posisi pada derivatif sektor energi (instrumen turunan seperti opsi atau futures), atau lebih berhati-hati pada saham pertumbuhan yang sensitif terhadap suku bunga (biasanya saham teknologi yang valuasinya bergantung pada proyeksi laba masa depan).

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Penjualan Rumah Tertunda AS Turun Tahunan Menjadi -1,1% pada Maret, Memburuk Tipis dari -0,8% Sebelumnya

Penjualan rumah AS yang masih dalam proses (pending home sales, yakni transaksi yang sudah disepakati tetapi belum ditutup/serah-terima) turun 1,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) pada Maret. Ini menyusul penurunan 0,8% yoy pada rilis sebelumnya.

Penurunan yoy pada Maret menjadi -1,1% menunjukkan pasar perumahan kembali kehilangan tenaga. Suku bunga kredit pemilikan rumah (mortgage, yaitu pinjaman untuk membeli rumah) yang tetap tinggi—saat ini rata-rata sekitar 6,8% untuk kredit berbunga tetap 30 tahun (30-year fixed loan, bunga tidak berubah hingga jatuh tempo)—kemungkinan menjadi penyebab utama pelemahan ini. Pembalikan arah ini menegaskan kemampuan beli konsumen masih tertekan.

Implikasi Trading Pasar Perumahan

Ini menjadi sinyal untuk mempertimbangkan posisi bearish (strategi yang untung jika harga turun) pada saham-saham terkait perumahan. Membeli opsi jual (put options, kontrak yang memberi hak menjual pada harga tertentu) pada ETF (exchange-traded fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) sektor pengembang rumah seperti ITB atau XHB dalam beberapa pekan ke depan bisa efektif. Data ini biasanya menjadi indikator awal yang mengarah pada laba yang lebih lemah serta proyeksi kinerja ke depan (forward guidance, panduan/perkiraan manajemen untuk periode mendatang) yang lebih hati-hati dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Pelemahan ini juga menyulitkan posisi Federal Reserve (bank sentral AS), terutama karena laporan inflasi terbaru menunjukkan CPI (Consumer Price Index, indeks harga konsumen) masih “lengket” di 3,1%, artinya turunannya lambat. Perbedaan arah antara ekonomi yang melambat dan inflasi yang tetap tinggi dapat membuat pasar menaikkan peluang perubahan arah kebijakan (policy pivot, pergeseran kebijakan suku bunga) pada paruh akhir tahun ini. Karena itu, opsi beli (call options, kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) pada ETF obligasi pemerintah AS berdurasi panjang (long-duration Treasury, obligasi dengan jatuh tempo panjang yang sensitif terhadap perubahan suku bunga) seperti TLT dapat menjadi lindung nilai (hedge, strategi untuk mengurangi risiko) terhadap perlambatan ekonomi.

Sinyal ekonomi yang berlawanan meningkatkan volatilitas (naik-turun harga). Dengan VIX (indeks volatilitas pasar saham AS, sering disebut “indeks ketakutan”) masih berada dekat level terendah beberapa bulan sekitar 14, biaya untuk membeli proteksi relatif murah. Membeli call options pada VIX atau put protektif (protective puts, put untuk melindungi portofolio dari penurunan) pada indeks pasar luas dinilai langkah yang masuk akal.

Jika menengok ke belakang, tren ini penting mengingat sempat ada pemulihan singkat penjualan rumah pada paruh kedua 2025. Optimisme itu tampaknya sementara, dan data terbaru menegaskan bahwa lingkungan suku bunga tinggi mulai menekan lebih dalam. Ini mendukung pandangan bahwa pelemahan pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga akan berlanjut.

Sensitivitas Suku Bunga Dan Risiko Ke Depan

Persediaan Bisnis AS pada Februari Turun 1,1%, Meleset dari Perkiraan Kenaikan 0,3% menurut Data

Persediaan bisnis AS turun 1,1% pada Februari. Angka ini lebih rendah dari perkiraan yang justru naik 0,3%.

Data ini menunjukkan pergerakan persediaan berlawanan dengan perkiraan. Ini menandakan penurunan bulanan tingkat stok di berbagai bisnis AS.

Penurunan Persediaan Dipicu Permintaan

Penurunan tajam persediaan bisnis pada Februari menunjukkan permintaan konsumen dan pelaku usaha jauh lebih kuat dari perkiraan. Perusahaan menjual barang lebih cepat daripada kemampuan mereka mengisi ulang stok, yang mengarah pada potensi kenaikan pesanan produksi ke depan untuk mengisi kembali persediaan. Kondisi ini membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada kuartal II.

Pandangan ini didukung data terbaru untuk Maret 2026, yang menunjukkan penjualan ritel (retail sales: nilai penjualan di toko dan layanan ke konsumen) naik kuat 0,8%, jauh di atas perkiraan. Selain itu, pembacaan terbaru ISM Manufacturing PMI (indeks manajer pembelian sektor manufaktur: ukuran kondisi aktivitas pabrik; di atas 50 berarti ekspansi) berada di 51,5, menandakan ekspansi aktivitas pabrik untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Angka-angka ini menegaskan penurunan persediaan terjadi karena permintaan kuat, bukan karena pengurangan stok yang disengaja.

Namun, kekuatan ekonomi ini memperumit arah inflasi dan langkah Federal Reserve. Laporan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen: ukuran inflasi berdasarkan perubahan harga barang dan jasa) Maret lebih tinggi dari perkiraan di 3,6% secara tahunan (year-over-year: dibandingkan periode yang sama tahun lalu). Ini membuat The Fed (bank sentral AS) punya sedikit alasan untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Peluang semakin besar suku bunga tetap tinggi hingga musim panas.

Jika menengok 2025, terjadi penurunan persediaan yang mirip, meski lebih ringan, pada kuartal III, lalu diikuti kenaikan produksi industri (industrial production: output pabrik, tambang, dan utilitas) menjelang musim liburan. Pada periode itu, imbal hasil obligasi (bond yields: tingkat keuntungan obligasi) juga naik karena pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga. Pola historis ini mengisyaratkan skenario serupa bisa terulang.

Pada Februari, persediaan bisnis AS naik 0,4%, melampaui perkiraan 0,3%, menurut data yang dirilis.

Persediaan bisnis AS naik 0,4% pada Februari. Angka ini di atas perkiraan kenaikan 0,3%.

Data ini menunjukkan penumpukan persediaan yang lebih cepat selama bulan tersebut. Tidak ada rincian tambahan dalam pembaruan itu.

Persediaan Jadi Sinyal Permintaan Melemah

Laporan persediaan bisnis Februari, yang menunjukkan kenaikan 0,4%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan 0,3%. Ini mengindikasikan produksi lebih cepat daripada penjualan, yang bisa menjadi sinyal awal melemahnya permintaan konsumen. Data ini sebaiknya dilihat sebagai bagian dari tren yang mulai terbentuk untuk kuartal II.

Penumpukan persediaan ini sejalan dengan laporan penjualan ritel (retail sales: data nilai penjualan di toko dan online) terbaru untuk Maret, yang hanya naik 0,1%, di bawah perkiraan dan mengarah pada sikap hati-hati konsumen. Pada saat yang sama, data Indeks Harga Konsumen/Consumer Price Index (CPI: ukuran inflasi berdasarkan perubahan harga barang dan jasa) menunjukkan inflasi inti (core inflation: inflasi tanpa komponen pangan dan energi yang volatil) masih bertahan di 3,6%, sehingga Federal Reserve (The Fed: bank sentral AS) berada dalam posisi sulit. Kombinasi sinyal pertumbuhan yang melemah dan inflasi yang sulit turun ini menambah ketidakpastian.

Dengan latar ini, volatilitas pasar (market volatility: naik-turun harga yang lebih tajam) berpotensi meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Indeks Volatilitas CBOE (VIX: indikator “rasa takut” pasar berbasis perkiraan volatilitas indeks S&P 500) sudah naik dan diperdagangkan di sekitar 17, mencerminkan kegelisahan tersebut. Pelaku pasar derivatif (derivatives: kontrak turunan nilainya mengikuti aset acuan) dapat mempertimbangkan strategi yang mendapat untung dari pergerakan harga dua arah, seperti membeli straddle (straddle: membeli opsi beli/call dan opsi jual/put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama) pada SPX (SPX: indeks S&P 500) menjelang rilis PDB kuartal I (GDP: ukuran total output ekonomi).

Sektor yang paling sensitif terhadap penumpukan persediaan, seperti consumer discretionary (barang/jasa non-primer, sensitif daya beli) dan industrials (industri), perlu disikapi hati-hati. Peluang bisa muncul lewat pembelian opsi put (put option: kontrak yang memberi hak menjual pada harga tertentu) pada ETF sektor seperti XLY (XLY: ETF sektor consumer discretionary), karena perusahaan di sektor ini biasanya lebih cepat terdampak ketika belanja konsumen menurun. Dari perspektif 2025, kondisi ini mengingatkan pada pasar yang bergejolak pada 2023, ketika kekhawatiran pertumbuhan menahan kenaikan pasar meski ekonomi terhindar dari resesi.

Data saat ini membuat peluang penurunan suku bunga pada musim panas oleh The Fed menjadi lebih kecil. Pelaku pasar perlu menyesuaikan posisi pada futures suku bunga (interest rate futures: kontrak berjangka terkait proyeksi suku bunga) dan opsi untuk mencerminkan kebijakan “higher for longer” (suku bunga tinggi lebih lama). Ini bisa berarti menjual opsi call (call option: kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) pada futures Eurodollar (Eurodollar futures: kontrak yang mencerminkan ekspektasi suku bunga dolar AS jangka pendek) atau mengambil posisi kurva imbal hasil yang lebih datar (flatter yield curve: selisih imbal hasil tenor pendek vs panjang mengecil) melalui opsi pada ETF obligasi pemerintah AS (Treasury bond ETFs: ETF yang berisi obligasi pemerintah AS).

Prospek Suku Bunga: Tinggi Lebih Lama

Penjualan Rumah AS yang Masih dalam Proses Naik 1,5% (mtm), Melampaui Ekspektasi 0,1% pada Rilis Maret

Penjualan rumah AS yang masih dalam proses (pending home sales) naik 1,5% secara bulanan (month on month/bulan ke bulan) pada Maret. Angka ini di atas perkiraan 0,1%.

Pending home sales mengukur jumlah penandatanganan kontrak untuk rumah bekas (existing homes), dan sering dipakai sebagai petunjuk awal aktivitas pasar perumahan dalam waktu dekat, karena transaksi belum final. Rilis ini lebih tinggi 1,4 poin persentase dibanding ekspektasi.

Sinyal Kuatnya Pasar Perumahan Mengarah ke Lebih Sedikit Pemangkasan Suku Bunga

Kenaikan tak terduga 1,5% pada Maret menunjukkan pasar perumahan lebih kuat dari perkiraan. Ketahanan di sektor ekonomi penting ini membuat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) punya lebih sedikit alasan untuk segera memangkas suku bunga acuan (interest rates). Pandangan bahwa ekonomi jelas sedang mendingin perlu ditinjau ulang.

Data ini berlawanan dengan taruhan pasar belakangan ini soal pemangkasan suku bunga. Pola serupa terjadi pada 2023, ketika data ekonomi yang kuat berulang kali membuat jadwal pelonggaran kebijakan The Fed (Fed easing: penurunan suku bunga atau kebijakan yang mendorong likuiditas) mundur. Strategi yang bisa dipertimbangkan adalah instrumen yang diuntungkan jika suku bunga tetap tinggi, misalnya membeli opsi jual (put options: hak untuk menjual aset pada harga tertentu) pada ETF obligasi pemerintah AS (Treasury bond ETF) seperti TLT. Alat FedWatch dari CME (Chicago Mercantile Exchange, bursa derivatif) menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga pada pertengahan tahun turun dari 55% menjadi di bawah 40% setelah rilis pagi ini.

Untuk langkah yang lebih langsung, ini menjadi sentimen positif bagi saham pengembang perumahan (homebuilders) dan sektor terkait. Bisa dipertimbangkan membeli opsi beli (call options: hak untuk membeli aset pada harga tertentu) pada ETF sektor pengembang perumahan, yang sering menguat setelah kejutan data yang positif. Misalnya, setelah kejutan positif serupa tahun lalu pada akhir 2025, ETF homebuilders ITB naik hampir 10% dalam sebulan berikutnya.

Ekonomi AS yang lebih kuat, ditambah pemangkasan suku bunga yang tertunda, juga cenderung mendukung dolar AS. Ini membuat opsi beli pada ETF indeks dolar (UUP: ETF yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang) terlihat menarik dibanding mata uang negara yang bank sentralnya lebih dekat untuk memangkas suku bunga. Secara historis, periode sikap “hawkish” The Fed (hawkish: cenderung menahan/menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi), seperti 2022–2024, bertepatan dengan penguatan dolar yang besar, dan tren ini bisa muncul lagi.

Potensi Implikasi Perdagangan untuk Suku Bunga, Perumahan, dan Valas

TD Securities: Inflasi Kanada Maret Naik ke 2,4% Dipimpin Kenaikan Harga Minyak, Sementara Inflasi Inti Tetap Lemah, Membuat BoC Tetap Berhati-hati

CPI Kanada naik menjadi 2,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret, dengan harga naik 0,9% secara bulanan (month-on-month/mom). Angka ini 0,2 poin persentase di bawah ekspektasi pasar 2,6% dan di bawah proyeksi TD Securities 2,5%.

Kenaikan CPI utama (headline CPI, yaitu inflasi total) dikaitkan dengan harga minyak yang lebih tinggi. Ukuran inflasi inti (core inflation, yaitu inflasi yang mengeluarkan komponen yang mudah bergejolak) dinilai stabil, dengan CPI tidak termasuk makanan dan energi turun tipis.

Laju inflasi inti tahunan yang disetarakan untuk tiga bulan terakhir (three-month annualised, yaitu laju 3 bulan yang dihitung seolah-olah berlangsung setahun) dilaporkan masih di bawah target. Bank of Canada menyatakan akan “mengabaikan” lonjakan inflasi jangka pendek.

Pergerakan suku bunga pasar terbatas setelah rilis. Imbal hasil (yield, tingkat pengembalian obligasi) sekitar 1 basis poin dari level sebelum rilis, sementara selisih imbal hasil Kanada–AS (spread, perbedaan yield) lebih sempit 1–2 basis poin.

Penetapan harga pasar (market pricing, yaitu ekspektasi pasar yang tercermin pada harga instrumen) disebut masih membutuhkan lebih banyak rilis inflasi serupa untuk membalikkan ekspektasi sebelumnya pada Maret. TD Securities menyampaikan preferensi posisi beli (long, diuntungkan jika harga naik/yield turun) pada obligasi tenor 2 tahun dan strategi “curve flattener” (taruhan kurva imbal hasil lebih mendatar, selisih yield jangka panjang vs pendek menyempit) untuk kontrak Juni/Desember.

JNJ, perusahaan layanan kesehatan di NYSE yang mencakup MedTech dan Innovative Medicine, merekomendasikan beli di kisaran 215,80–227,80

Johnson & Johnson (JNJ) bergerak di sektor layanan kesehatan, dengan segmen Innovative Medicine dan MedTech, serta diperdagangkan di NYSE dengan kode “JNJ”. Proyeksi memperkirakan rangkaian kenaikan (bullish, artinya tren utama naik) dari titik terendah Januari 2025.

Pandangan saat ini: harga berada dalam koreksi ganda turun pada gelombang ((4)). Area penopang (support, yaitu zona harga yang sering menahan penurunan karena minat beli) diproyeksikan di $227,80–$215,82, dengan perkiraan pembeli mulai masuk di zona tersebut untuk setidaknya pantulan tiga ayunan (three-swing bounce, yaitu kenaikan dalam tiga tahap/gerak).

Pada grafik mingguan, gelombang (I) berakhir di $186,69 pada April 2022 dan gelombang (II) berakhir di $140,68 pada Januari 2025. Di dalam (II), w berakhir di $150,11, x di $175,97, dan y di $140,68, yang disebut double three yang berombak (double three, pola koreksi dua rangkaian yang cenderung tidak rapi dan bolak-balik).

Dari titik terendah April 2025, ((1)) berakhir di $169,99, ((2)) di $141,50, dan ((3)) di $251,71. Di dalam ((3)), (1) berakhir di $159,44, (2) di $146,12, (3) di $215,19, (4) di $200,91, dan (5) di $251,71.

Di bawah $251,71, diperkirakan terjadi penurunan tujuh ayunan pada ((4)) (seven-swing pullback, koreksi bertahap dalam tujuh gerak). Dalam ((4)), (W) berakhir di $232,24, (X) di $247,21, dan (Y) diproyeksikan turun menuju $227,80–$215,82, dengan target lanjutan di atas $259.

Kami menilai Johnson & Johnson berada dalam tren naik kuat sejak Januari 2025. Saham kini sedang terkoreksi sementara, yang kami lihat sebagai koreksi yang wajar. Kondisi ini membuka peluang beli saat harga mendekati area support kunci $227,80–$215,82.

Proyeksi bullish ini didukung kinerja perusahaan setahun terakhir, terutama setelah laporan laba kuartal IV 2025. Laporan tersebut menunjukkan pendapatan naik 12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-over-year/YoY, perbandingan dengan kuartal yang sama tahun lalu), terutama ditopang divisi MedTech. Faktor dasar (fundamental) ini menguatkan pandangan teknikal (analisis teknikal, membaca pola harga) bahwa tren utama tetap naik.

Ke belakang, saham menyelesaikan reli besar hampir 78% dari titik terendah April 2025 sekitar $141,50 ke puncak terbaru $251,71. Koreksi setelah kenaikan setajam itu tergolong normal. Kami membaca penurunan saat ini sebagai koreksi gelombang ((4)), yang membuka ruang kenaikan berikutnya menuju level di atas $259.

Untuk pelaku strategi turunan (derivatif, instrumen yang nilainya mengikuti harga saham seperti opsi), fokusnya pada strategi bullish saat JNJ mendekati zona support. Menjual cash-secured put (menjual opsi jual dengan menyiapkan dana tunai penuh untuk membeli saham bila terkena eksekusi) pada strike price $225 atau $220 untuk jatuh tempo Mei dan Juni 2026 bisa menjadi cara mengumpulkan premi (premium, imbal hasil yang diterima penjual opsi). Strategi ini menghasilkan pendapatan atau memungkinkan masuk posisi beli saham di harga lebih rendah yang diinginkan.

Analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey menilai harga minyak sudah mencerminkan negosiasi Iran, sambil mengabaikan potensi gangguan Selat Hormuz dan risikonya

Harga minyak naik setelah Iran membatalkan langkah yang terkait dengan pembukaan Selat Hormuz. Namun, harga masih banyak dipengaruhi ekspektasi adanya kemajuan dalam pembicaraan AS–Iran, meski gangguan arus energi lewat selat tersebut masih terjadi.

Negosiasi AS dan Iran dijadwalkan dimulai lagi di Pakistan, dengan Wakil Presiden AS JD Vance diperkirakan hadir. Iran juga diperkirakan mengirim delegasi, setelah sebelumnya memberi sinyal tidak akan ikut selama “blokade” AS (pembatasan akses/pelayaran yang menghambat pengiriman) masih berjalan.

Batas Waktu Gencatan Senjata dan Risiko Harga

Gencatan senjata saat ini akan berakhir pada Rabu, dan Presiden Trump mengisyaratkan kecil kemungkinan memperpanjangnya. Jika pembicaraan tidak menghasilkan kemajuan, harga minyak dan gas bisa naik.

Gangguan pasokan yang berlanjut diperkirakan membuat pasar minyak makin ketat (pasokan lebih sulit didapat). Kebutuhan pengisian ulang stok (restocking) dan waktu yang dibutuhkan agar arus energi serta produksi hulu (upstream: kegiatan produksi dari ladang/sumur, sebelum masuk kilang) pulih bisa memperlambat kembalinya kondisi normal.

Kesepakatan apa pun dinilai kemungkinan tetap rapuh (mudah goyah). Ini bisa membatasi peluang harga turun, sehingga “batas bawah” harga (price floor: level harga yang cenderung menahan penurunan) hingga 2026 lebih tinggi dibanding sebelum konflik.

Artikel ini menyebut dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

Implikasi Trading dan Volatilitas

Kami melihat pasar minyak terlalu fokus pada harapan terobosan dalam pembicaraan AS–Iran. Faktanya, gencatan senjata akan berakhir Rabu ini, dan dengan kecil kemungkinan ada perpanjangan dari Presiden Trump, risiko lonjakan harga yang tajam cukup besar. Ini menjadi peluang bagi trader yang menilai pasar terlalu optimistis.

Gangguan pasokan fisik (pengiriman nyata) lebih parah daripada yang tercermin dari harga kontrak berjangka (futures: kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan). Sekitar 20 juta barel per hari, atau 20% pasokan global, biasanya melewati Selat Hormuz; data pelayaran terbaru menunjukkan lalu lintas turun lebih dari 80%. Ini cepat menguras persediaan, dengan laporan terbaru EIA (Badan Informasi Energi AS) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 5,8 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan.

Situasi ini menciptakan ketidakseimbangan yang jelas: volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan gejolak harga yang “tercermin” dalam harga opsi) bisa terlalu rendah mengingat hasil pembicaraan nanti bisa “dua kemungkinan ekstrem” (binary outcome: berhasil atau gagal). Meski CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX)—indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas opsi minyak mentah—tinggi di sekitar 42, angkanya belum sepenuhnya mencerminkan kekacauan jika negosiasi gagal. Kami menilai opsi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar saat ini masih relatif murah.

Karena itu, trader bisa mempertimbangkan membeli call option (opsi beli: hak membeli di harga tertentu) untuk kontrak bulan terdekat atau call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain pada harga/strike berbeda untuk menekan biaya) untuk bersiap jika harga naik. Kontrak Juni dan Juli 2026 memberi paparan langsung terhadap risiko gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan. Posisi ini diuntungkan jika pembicaraan di Pakistan gagal dan blokade tetap berlaku.

Melihat reaksi pasar setelah konflik Ukraina dimulai awal 2022, harga sempat melonjak lalu membentuk “lantai” baru yang lebih tinggi untuk waktu lama. Kondisi sekarang terasa mirip: kebutuhan pengisian stok dan risiko geopolitik yang tersisa akan menopang harga bahkan jika kesepakatan rapuh tercapai. “Lantai” harga untuk sisa 2026 kemungkinan jauh lebih tinggi dibanding sebelum konflik.

Untuk yang berpandangan jangka lebih panjang, penurunan harga karena berita positif dari pembicaraan bisa menjadi peluang beli. Menjual put out-of-the-money (put OTM: opsi jual dengan strike di bawah harga pasar saat ini) untuk jatuh tempo Desember 2026 bisa menjadi strategi untuk mengambil premi (premium: biaya yang diterima penjual opsi). Ini merupakan taruhan bahwa keketatan struktural pasar akan mencegah harga kembali ke level sebelum perang tahun ini.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

EUR/GBP turun seiring data ketenagakerjaan Inggris yang tangguh menguatkan Sterling, sementara sentimen Zona Euro yang memburuk melemahkan Euro

EUR/GBP melemah pada Selasa, dengan Pound Sterling menguat setelah data pasar tenaga kerja Inggris, sementara data survei Zona Euro yang lebih lemah menekan Euro. Pasangan ini bergerak di sekitar 0,8700 dan tetap bergerak terbatas karena pelaku pasar berhati-hati di tengah ketegangan AS-Iran dan ketidakpastian soal kemungkinan perundingan damai.

Sentimen Zona Euro turun pada April. Indeks Sentimen Ekonomi ZEW (survei sentimen pelaku pasar dan analis) tercatat -20,4 dari -8,5, sementara indeks ZEW Jerman -17,2 dari -0,5, keduanya di bawah perkiraan. Data ini mengindikasikan prospek yang lebih lemah, terkait ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran pasokan energi, menurut komentar survei ZEW.

Divergensi Kebijakan Bank Sentral

Pasar tetap memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) karena harga minyak meningkatkan risiko inflasi. Inflasi adalah kenaikan harga secara umum. Pejabat ECB mengatakan keputusan akan bergantung pada data lanjutan dan situasi yang masih tidak pasti.

Di Inggris, Claimant Count Change (perubahan jumlah klaim tunjangan pengangguran) naik 26,8 ribu pada Maret, di atas perkiraan, sementara Employment Change (perubahan jumlah orang bekerja) sebesar 25 ribu dalam tiga bulan hingga Februari. Tingkat pengangguran ILO (ukuran pengangguran standar internasional) turun ke 4,9% dari 5,2%, dan perhatian beralih ke data inflasi Inggris Maret yang dirilis Rabu.

Survei Reuters menemukan seluruh 62 ekonom memperkirakan Bank of England (BoE) akan menahan Bank Rate (suku bunga acuan) di 3,75% pada April. Survei itu juga menunjukkan sekitar 53% memperkirakan suku bunga tidak berubah hingga akhir tahun.

Pertumbuhan Zona Euro vs Ketahanan Inggris

Gambaran ekonomi Zona Euro tetap rapuh, dengan data Eurostat terbaru menunjukkan pertumbuhan PDB (GDP, ukuran total nilai produksi ekonomi) hanya 0,2% pada kuartal terakhir. Kinerja yang lambat ini membuat pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga ECB paling cepat musim panas ini. Ini berbeda dari kondisi akhir 2024 dan awal 2025, ketika kekhawatiran pasokan energi pertama kali menghantam prospek kawasan.

Sementara itu, ekonomi Inggris terlihat lebih tahan, sehingga mendukung penguatan Pound. Data ONS (kantor statistik nasional Inggris) terbaru menunjukkan tingkat pengangguran bertahan di 4,3%. Lebih penting, inflasi jasa masih “lengket” (sulit turun cepat) di atas 4,5%. Kondisi ini memberi BoE alasan untuk bersabar dan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Bagi trader derivatif, kondisi ini mendukung strategi yang diuntungkan dari penurunan bertahap atau melindungi dari risiko penurunan EUR/GBP. Derivatif adalah instrumen turunan dari aset acuan. Membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada pasangan ini memberi cara langsung untuk mengambil posisi jika EUR/GBP turun menuju 0,8400 dalam beberapa pekan. Alternatifnya, bear put spread (strategi opsi: beli put dan jual put lain pada harga kesepakatan berbeda) dapat menurunkan biaya awal, sambil tetap mendapat manfaat dari penurunan moderat.

Data utama yang perlu dipantau adalah HICP (Harmonised Index of Consumer Prices, ukuran inflasi standar Uni Eropa) dari Zona Euro dan laporan CPI (Consumer Price Index, indeks harga konsumen) Inggris. Jika inflasi Zona Euro turun lebih cepat daripada Inggris, pandangan transaksi ini akan makin kuat.

Pasar mencermati ketegangan geopolitik setelah Trump mengatakan kepada CNBC bahwa kesepakatan dengan Iran mungkin tercapai, di tengah tekanan militer yang berlanjut

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada CNBC bahwa Amerika Serikat berada dalam “posisi negosiasi yang kuat” dengan Iran dan Washington bisa mencapai “kesepakatan besar” dengan Teheran. Ia mengatakan pembicaraan ditangani “sangat berhasil” dan waktu untuk mencapai gencatan senjata jangka panjang semakin sempit.

Trump mengatakan ia tidak ingin memperpanjang gencatan senjata saat ini. Ia membela blokade terhadap Iran, dengan alasan langkah itu sudah membuahkan hasil.

Risiko Geopolitik Dan Ketidakpastian Pasar

Ia juga mengatakan Amerika Serikat “siap mengambil tindakan militer” jika negosiasi gagal. Pernyataan ini menjaga fokus pasar pada ketidakpastian geopolitik yang berlanjut.

Soal China, Trump mengatakan ia yakin telah mencapai kesepahaman dengan Presiden China Xi Jinping. Indeks Dolar AS (pengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama) naik 0,15% menjadi 98,20.

Kombinasi upaya diplomasi dan ancaman militer meningkatkan ketidakpastian dan biasanya mendorong naik perkiraan volatilitas pasar (besar-kecilnya pergerakan harga dalam jangka pendek).

Dampak paling cepat dari ketegangan dengan Iran biasanya terasa di pasar energi. Contohnya, pada pertengahan 2019 serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk Oman memicu lonjakan harga minyak Brent 4% dalam sehari. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi beli (call option, yaitu kontrak hak untuk membeli pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada kontrak berjangka (futures, kontrak jual-beli dengan harga dan waktu pengiriman yang ditetapkan) WTI atau Brent, karena instrumen ini cenderung diuntungkan jika harga melonjak saat situasi memburuk.

Lindung Nilai Portofolio Dan Penempatan Opsi

Ketidakpastian ini juga mendorong minat pada derivatif berbasis volatilitas (instrumen turunan yang nilainya mengikuti volatilitas). Komentar “siap mengambil tindakan militer” dapat mendorong VIX—sering disebut “indeks ketakutan” karena mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS—melonjak dari level rendah saat ini di 14. Membeli opsi beli pada VIX bisa menjadi cara langsung untuk lindung nilai (hedging, strategi mengurangi risiko kerugian) portofolio dari penurunan pasar akibat guncangan geopolitik.

Respons klasik saat kondisi tidak stabil adalah peralihan ke aset aman (safe haven, aset yang cenderung lebih stabil saat pasar bergejolak). Misalnya, harga emas sempat menembus US$1.600 per ons pada awal 2020 setelah konflik AS–Iran meningkat, yang saat itu menjadi level tertinggi dalam beberapa tahun. Dengan pembelian bank sentral yang membantu menahan harga emas di sekitar US$2.450 per ons, membeli opsi beli pada kontrak berjangka emas atau ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) emas masih menjadi strategi yang masuk akal.

Bagi pelaku pasar dengan eksposur besar ke saham, lindung nilai terhadap potensi penurunan menjadi penting. Dengan S&P 500 sudah naik 8% tahun ini hingga 5.900, indeks ini lebih rentan terhadap kejutan negatif. Membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada indeks utama seperti S&P 500 dapat menjadi “asuransi” terhadap aksi jual tajam jika negosiasi gagal dan aksi militer benar-benar terjadi.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code