Back

Jane Foley dari Rabobank mengatakan kehati-hatian Ueda di IMF meredakan sikap hawkish sebelumnya, memicu keraguan atas kenaikan suku bunga BoJ pada April

Komentar Gubernur Ueda pada awal tahun sempat mengarah pada kebijakan yang lebih ketat (kenaikan suku bunga atau pengurangan stimulus), tetapi pernyataannya di pertemuan IMF di Washington lebih hati-hati. Perubahan nada ini membuat sebagian peramal mempertanyakan apakah Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) akan menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan 28 April.

Survei Reuters menemukan bahwa 2/3 pengamat BoJ memperkirakan kenaikan suku bunga paling lambat akhir Juni. Survei itu juga menunjukkan peluang kenaikan pada April atau Juni dinilai kurang lebih sama.

Data Domestik dan Sinyal Kebijakan

Data domestik terbaru menunjukkan upah riil (upah setelah memperhitungkan inflasi, yakni daya beli) Februari naik 1,9% dibanding setahun sebelumnya, menjadi kenaikan bulanan kedua berturut-turut. Angka ini dipantau sebagai tanda permintaan dalam negeri yang makin kuat.

Data inflasi nasional Jepang (CPI/Indeks Harga Konsumen, ukuran kenaikan harga barang dan jasa) untuk Maret akan dirilis pada 24 April. Rilis ini diperkirakan dipantau ketat oleh pembuat kebijakan untuk menentukan arah kebijakan dalam waktu dekat.

Nada hati-hati Gubernur Ueda pada pertemuan IMF terbaru membuat prospek kenaikan suku bunga April menjadi kurang jelas. Ini menggeser ekspektasi, sehingga rapat kebijakan Juni kini dipandang sama mungkin untuk menjadi momen BoJ bergerak. Ketidakpastian yang meningkat ini menciptakan peluang di pasar derivatif (instrumen turunan, yaitu produk keuangan yang nilainya mengikuti aset lain seperti kurs atau suku bunga).

Keraguan tersebut tercermin pada opsi yen, terlihat dari volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besarnya naik-turun harga ke depan yang dihitung dari harga opsi) tenor satu bulan pada USD/JPY yang naik ke 11,5% dari sekitar 9,0% hanya beberapa minggu lalu. Ini menunjukkan pasar bersiap menghadapi pergerakan yen yang besar, terlepas apakah BoJ bertindak pada 28 April atau tidak. Trader perlu mengantisipasi volatilitas yang tetap tinggi hingga rapat kebijakan mendatang.

Strategi Volatilitas Menjelang Pemicu Utama

Perhatian tertuju pada data CPI nasional yang akan dirilis Jumat ini, 24 April. Fokus utama adalah inflasi inti (core inflation, inflasi yang biasanya tidak memasukkan harga yang sangat bergejolak seperti makanan segar dan energi agar tren lebih jelas), yang diperkirakan mencapai 2,7%, untuk melihat apakah ini mengonfirmasi kekuatan yang terlihat pada pertumbuhan upah riil Februari 1,9%. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan akan kembali membuka peluang kenaikan suku bunga pada April.

Karena itu, membeli volatilitas melalui instrumen seperti straddle atau strangle USD/JPY untuk jatuh tempo akhir April dapat menjadi strategi yang lebih hati-hati. Straddle adalah membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) pada harga kesepakatan yang sama; strangle serupa tetapi memakai dua harga kesepakatan berbeda. Strategi ini berpotensi untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah tanpa harus menebak keputusan BoJ. Jika data CPI sangat kuat, strategi yang lebih searah (directional), seperti membeli opsi call yen (hak untuk membeli yen pada harga tertentu, sehingga diuntungkan bila yen menguat), bisa menjadi lebih menarik.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Abbey Xu dari RBC mengatakan inflasi Kanada mencapai 2,4% secara tahunan, dipicu energi, sementara tekanan inflasi inti secara keseluruhan mereda

Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) utama Kanada naik menjadi 2,4% secara tahunan (year-on-year). Kenaikan ini terutama dipicu oleh harga energi yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah serta dampak terkait pajak.

Ukuran inflasi inti (core) Bank of Canada, termasuk CPI-trim dan CPI-median, menunjukkan inflasi dasar mulai mereda. Ukuran ini mengecualikan perubahan pajak dan gejolak harga energi yang mudah berubah (volatile).

Inflasi Dasar Mendingin

CPI-trim, CPI-median, dan layanan trim selain perumahan (shelter) rata-rata 1,7% dalam perhitungan tahunan (annualised) berbasis rata-rata berjalan tiga bulan (three-month rolling average). Porsi produk dengan kenaikan harga bulanan (month-on-month) yang lebih besar dari biasanya lebih rendah sepanjang 2026.

Beberapa komponen, termasuk harga bahan pangan dan sewa, masih berada sekitar 4% di atas level setahun lalu. Data Maret menunjukkan harga minyak yang lebih tinggi bisa mengangkat inflasi utama dalam waktu dekat tanpa membuat tekanan harga meluas.

Kenaikan inflasi utama ke 2,4% dinilai sementara, terutama karena guncangan energi dari luar negeri dan dampak pajak. Bank of Canada kemungkinan lebih menekankan ukuran inflasi inti miliknya, yang turun ke rata-rata 1,7% dalam hitungan tahunan berbasis tiga bulan. Perbedaan arah ini, ditambah kondisi ekonomi yang melemah, membuat Bank lebih mungkin menurunkan suku bunga daripada menahan atau menaikkannya.

Ini membuka peluang bagi pelaku pasar (trader) untuk bersiap menghadapi turunnya suku bunga Kanada dalam beberapa pekan ke depan. Laporan ketenagakerjaan terbaru awal April 2026 menunjukkan ekonomi kehilangan 15.000 pekerjaan dan tingkat pengangguran naik ke 6,3%, sehingga peluang pemangkasan suku bunga pada rapat Juni makin kuat. Strategi derivatif (instrumen turunan) seperti membeli opsi (options, hak membeli/menjual pada harga tertentu) atas kontrak berjangka CORRA (CORRA futures, kontrak yang mengikuti suku bunga acuan overnight Kanada) atau menerima fixed pada swap suku bunga (interest rate swap, tukar-menukar bunga mengambang dengan bunga tetap) berpotensi menguntungkan.

Implikasi Trading untuk CAD dan Suku Bunga

Selain itu, prospek dovish (cenderung melonggarkan kebijakan) Kanada berbeda dengan Amerika Serikat, di mana pejabat Federal Reserve masih berhati-hati karena inflasi inti mereka masih sekitar 2,8%. Perbedaan kebijakan ini kemungkinan menekan dolar Kanada. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan ketika kurs USD/CAD naik, misalnya membeli opsi call (hak membeli) pada pasangan tersebut.

Melihat pengalaman Bank menghadapi lonjakan inflasi pada 2025, Bank biasanya lebih memprioritaskan tren dasar ketimbang gejolak sementara pada angka utama. Porsi komponen CPI dengan kenaikan harga yang tidak biasa terus menurun sepanjang 2026, memperkuat pandangan bahwa tren penurunan inflasi (disinflasi, inflasi yang melambat) masih berlanjut. Preseden ini mendukung perkiraan bahwa Bank tidak akan bereaksi berlebihan terhadap angka inflasi utama saat ini.

Strategis HSBC Soroti Perdagangan Emas yang Volatil, Lalu Stabil di Dekat USD 4.800, Didukung Pelemahan Dolar

Harga emas bergejolak sepanjang tahun ini, bergerak di kisaran sekitar USD 4.405 hingga USD 5.450 per ons, lalu stabil di dekat USD 4.800. Puncaknya sekitar USD 5.450 pada 30 Januari dan titik terendah sekitar USD 4.405 pada 23 Maret.

Penurunan harga terkait aksi jual besar-besaran, bersamaan dengan penguatan Dolar AS, kenaikan imbal hasil (yield) AS—yaitu tingkat keuntungan obligasi pemerintah AS—kenaikan harga minyak, melemahnya saham, serta berlanjutnya konflik Timur Tengah. Sejak eskalasi, pasar mengurangi (priced out) sedikitnya 25bp (basis poin; 25bp = 0,25%) dari perkiraan pelonggaran kebijakan The Fed hingga akhir 2026, yang dapat menekan emas.

Pendorong Harga Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, emas banyak bergerak karena arus berita, dan pasar valuta asing (foreign exchange/FX; perdagangan mata uang) peka terhadap perubahan risiko geopolitik. Ketegangan yang meningkat cenderung mendukung Dolar AS, sedangkan ketegangan yang mereda cenderung melemahkannya.

Dalam jangka lebih panjang, pelemahan Dolar AS dan berbagai risiko struktural diperkirakan menopang emas. Faktor yang sering disebut mencakup risiko geopolitik, ketidakpastian kebijakan ekonomi, potensi pelemahan Dolar AS, pergeseran tatanan global, serta berlanjutnya permintaan bank sentral (pembelian emas untuk cadangan devisa).

Pasokan tambang diperkirakan naik terbatas pada 2026–27, sementara pasokan dari daur ulang (recycling; penjualan kembali emas lama untuk dilebur) diperkirakan meningkat setelah respons yang sejauh ini masih lemah. Harga yang tinggi menekan pembelian perhiasan dan koin, terutama di negara berkembang yang sensitif terhadap harga, dan makin terlihat juga di negara maju.

Tahun ini terjadi volatilitas tajam, ketika emas berayun dari rekor dekat USD 5.450 pada Januari ke sekitar USD 4.405 pada akhir Maret. Pemulihan terbaru ke area USD 4.800 menunjukkan fase konsolidasi (pergerakan mendatar setelah penurunan tajam) usai likuidasi besar (penjualan cepat untuk mengurangi posisi). Pergerakan ini mengindikasikan pelaku pasar perlu waspada terhadap lonjakan mendadak yang dipicu judul berita dalam jangka sangat dekat.

Pendekatan Trading yang Mungkin

Dalam beberapa pekan ke depan, harga kemungkinan tetap sensitif terhadap data ekonomi AS dan perubahan risiko geopolitik. Indeks Dolar AS bertahan di atas 105, karena data CPI (Consumer Price Index; indeks harga konsumen/inflasi) Maret terbaru menunjukkan inflasi masih bertahan di 3,1%, sehingga meredam harapan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Kondisi ini mengisyaratkan kenaikan (upside) emas bisa terbatas untuk sementara.

Dengan ketidakpastian jangka pendek ini, trader dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari harga yang bergerak dalam rentang (range-bound; naik-turun di kisaran tertentu), misalnya menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga pelaksanaan/strike di atas harga saat ini, sehingga belum “menguntungkan” bila langsung dieksekusi) sambil memegang posisi long (posisi beli). Ini memungkinkan memperoleh pendapatan dari premi (biaya yang dibayar pembeli opsi) sambil menunggu arah tren yang lebih jelas. Strategi ini memanfaatkan volatilitas yang tinggi tanpa menambah risiko arah harga secara besar.

Namun, prospek jangka panjang tetap cenderung mendukung, didorong oleh potensi pelemahan Dolar AS dan permintaan bank sentral yang kuat. Data kuartal I 2026 menunjukkan bank sentral menambah lebih dari 250 ton ke cadangan mereka. Dukungan struktural ini membantu membentuk “lantai” harga (penopang kuat yang menahan penurunan lebih dalam) di pasar.

Untuk bersiap menangkap potensi kenaikan berikutnya, trader bisa mempertimbangkan membeli opsi call berjangka lebih panjang, misalnya jatuh tempo awal 2027. Ini memberi eksposur pada kemungkinan reli di kemudian hari, dipicu perubahan kebijakan The Fed atau meningkatnya kembali ketegangan geopolitik. Penggunaan bull call spread (strategi membeli call dan sekaligus menjual call lain pada strike lebih tinggi untuk menekan biaya) juga dapat menurunkan biaya awal dari posisi bullish (mengincar kenaikan) jangka panjang ini.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

BNP Paribas Perkirakan PDB Zona Euro Naik ke 1,6% pada 2026, Ditopang Langkah Fiskal Jerman, Investasi Pertahanan dan AI

BNP Paribas memproyeksikan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto, total nilai barang dan jasa yang diproduksi) Zona Euro sebesar 1,5% pada 2025 dan 1,6% pada 2026. Bank ini memperkirakan pertumbuhan bergerak stabil 0,5% per kuartal hingga 2026.

Proyeksi ini didasarkan pada kebijakan fiskal (kebijakan anggaran belanja dan pajak pemerintah) di Jerman, belanja militer yang lebih tinggi, serta investasi terkait AI (kecerdasan buatan) di Eropa. Proyeksi tersebut juga mengasumsikan pasar tenaga kerja tetap kuat.

Guncangan Energi Dan Arah Kebijakan

Bank memasukkan skenario guncangan energi yang terkait dengan perkembangan di Timur Tengah. Bank memperkirakan hal ini memicu tiga kali kenaikan suku bunga ECB (Bank Sentral Eropa) pada 2026, yakni Juni, Juli, dan September.

Dalam skenario itu, suku bunga deposito ECB (bunga acuan untuk simpanan bank di ECB) naik menjadi 2,75%. Bank menyebut pengetatan moneter (kebijakan menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi) ini menambah ketidakpastian terhadap prospek pertumbuhan.

Artikel menyebutkan bahwa naskah dibuat dengan bantuan alat AI (perangkat lunak kecerdasan buatan) dan ditinjau oleh editor.

Reuters: Pejabat Senior Iran Sebut Teheran Pertimbangkan Ikut Perundingan Damai AS Selanjutnya, Belum Memutuskan

Reuters melaporkan pada Senin bahwa seorang pejabat senior Iran mengatakan Iran sedang meninjau kemungkinan ikut dalam putaran berikutnya pembicaraan damai dengan Amerika Serikat, tetapi belum ada keputusan akhir. Pejabat itu mengatakan peninjauan ini sejauh ini cenderung positif.

Pejabat itu mengatakan Pakistan sedang melakukan upaya untuk mengakhiri apa yang disebut sebagai blokade AS dan mendukung partisipasi Iran dalam pembicaraan tersebut. Tidak ada jadwal maupun rincian tambahan yang disampaikan.

Reaksi Pasar dan Selera Risiko

Pada saat penulisan, Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—turun 0,1% pada hari itu ke 98,12. Pergerakan ini terjadi seiring sentimen pasar membaik tipis setelah laporan tersebut.

Muncul tanda ketegangan mereda, yang mengindikasikan gejolak pasar bisa menurun dalam beberapa pekan ke depan. Indeks Volatilitas CBOE (VIX)—indikator “indeks ketakutan” yang mengukur perkiraan naik-turun pasar saham AS 30 hari ke depan berdasarkan harga opsi—yang sempat naik di atas 22 bulan lalu saat latihan angkatan laut, kini sudah turun di bawah 20 setelah kabar ini. Kondisi seperti ini biasanya mendukung strategi yang diuntungkan ketika volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) menurun, misalnya menjual premi opsi (menerima biaya/premi dari menjual kontrak opsi indeks).

Dampak terbesar diperkirakan terjadi di pasar minyak mentah, karena potensi kesepakatan dapat melonggarkan sanksi dan menambah pasokan. Minyak Brent—patokan harga minyak global—yang sempat melonjak mendekati US$95 per barel pekan lalu karena kekhawatiran pasokan, kini kembali bergerak menuju US$90. Pelaku pasar bisa mulai memasukkan skenario penurunan ke area pertengahan US$80-an, sehingga posisi bearish (bertaruh harga turun) pada kontrak berjangka (futures) minyak menjadi lebih menarik.

Dolar AS juga kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset safe haven (aset yang biasanya dicari saat pasar bergejolak) seiring potensi penurunan eskalasi. Indeks Dolar (DXY) sebelumnya turun dari area puncak sekitar 104 yang sempat diuji pada akhir 2025, dan kabar ini mendorongnya lebih rendah. Tren ini dapat menguntungkan mata uang negara pengimpor minyak dan membuka peluang pada opsi valas (FX options, kontrak opsi atas nilai tukar) yang diuntungkan jika dolar melemah terhadap Euro atau Yen.

Posisi Saham dan Opsi

Untuk indeks saham seperti S&P 500, ini menjadi sinyal positif secara hati-hati. Harga energi yang lebih rendah menekan biaya banyak perusahaan, terutama sektor transportasi dan industri, yang belakangan tertinggal. Permintaan opsi beli (call options, hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) bisa meningkat karena trader bersiap terhadap potensi reli pemulihan hingga Mei.

Di tengah sorotan politik Inggris dan data harga produsen Jerman, EUR/GBP bertahan di sekitar 0,8700, relatif tidak berubah

EUR/GBP diperdagangkan di dekat 0,8700 pada Senin dan nyaris tidak berubah, karena dukungan terhadap Euro dan tekanan pada Pound membuat pasangan ini bergerak sempit.

Pound Sterling berada di bawah tekanan karena sorotan politik meningkat terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia dijadwalkan berbicara di House of Commons (parlemen Inggris) mengenai proses pemeriksaan kelayakan (vetting) yang terkait dengan penunjukan mantan duta besar Inggris untuk AS, Peter Mandelson, setelah muncul kontroversi soal hubungan Mandelson di masa lalu dengan Jeffrey Epstein.

Pendorong Pergerakan Euro-Pound

Kondisi pasar cenderung hati-hati karena pelaku pasar memantau perkembangan di Timur Tengah. AS menyita kapal kargo Iran yang mencoba melintasi Selat Hormuz, dan Iran mengisyaratkan mungkin tidak menghadiri perundingan pada Selasa sambil menuduh AS melanggar gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembak-menembak sementara).

Euro ditopang data inflasi Jerman. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI, ukuran perubahan harga di tingkat pabrik atau produsen) Jerman naik 2,5% bulan-ke-bulan (month-on-month/m/m, dibanding bulan sebelumnya) pada Maret, yang merupakan kenaikan terkuat sejak Agustus 2022. Namun secara tahun-ke-tahun (year-on-year/y/y, dibanding periode yang sama tahun lalu) PPI turun 0,2% setelah pada Februari merosot 3,3%.

Di Inggris, perhatian beralih ke data yang rilis pekan ini. Laporan pasar tenaga kerja untuk tiga bulan hingga Februari dijadwalkan Selasa, lalu Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi di level konsumen) Maret pada Rabu dan data Penjualan Ritel (Retail Sales, ukuran belanja konsumen di toko) pada Jumat, dengan tingkat pengangguran diperkirakan 5,2%.

Menilik kembali 2025, pasangan silang (cross) EUR/GBP bergerak sempit di sekitar 0,8700, tetapi situasinya berubah. Per April 2026, pasangan ini diperdagangkan lebih dekat ke 0,8450, mencerminkan perbedaan arah kebijakan moneter (monetary policy, kebijakan suku bunga dan pasokan uang oleh bank sentral) yang makin jelas. Perbedaan yang berlanjut antara Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang cenderung berhati-hati dan Bank of England (BoE) yang lebih “hawkish” (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi) menjadi fokus utama.

Kebisingan politik di Inggris terkait penunjukan oleh perdana menteri tahun lalu pada akhirnya tidak berdampak lama pada pound. Pasar kembali fokus pada data ekonomi yang konsisten menunjukkan inflasi domestik masih sulit turun. Inflasi inti Inggris (core CPI, inflasi tanpa komponen yang paling bergejolak seperti energi dan makanan) bertahan di atas 3% selama enam bulan terakhir. Ini kontras dengan Zona Euro, di mana inflasi inti baru-baru ini turun ke 2,5%, sehingga ECB punya lebih banyak alasan untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga.

Prospek Perbedaan Kebijakan

Kekhawatiran awal 2025 soal lonjakan harga produsen Jerman ternyata hanya guncangan sementara akibat biaya energi. Sejak itu, inflasi di tingkat produsen di kawasan Euro cenderung rendah, sehingga mengurangi alasan bagi kubu “hawk” di ECB. Ini memperkuat pandangan bahwa ECB kemungkinan memangkas suku bunga setidaknya sekali sebelum BoE mempertimbangkan langkah serupa.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memanas tahun lalu kini menjadi risiko yang terus ada. Meski insiden penyitaan kapal AS-Iran sudah selesai, ketidakstabilan yang berlanjut membuat harga minyak punya “lantai” (floor, batas bawah yang sulit ditembus). Ini menjadi hambatan inflasi yang lebih besar bagi Zona Euro yang bergantung pada impor energi dibanding Inggris, sehingga semakin menyulitkan jalur kebijakan ECB.

Selain itu, pasar forward (forward markets, pasar kontrak untuk transaksi di masa depan) sudah memperhitungkan perbedaan arah ini, terlihat dari kurva forward EUR/GBP yang menurun. Bagi trader yang sangat yakin, menjual kontrak forward EUR/GBP memungkinkan menangkap potensi pelemahan harga spot (spot, harga saat ini) sekaligus memperoleh carry positif (carry, keuntungan dari selisih suku bunga) dengan posisi jual euro yang imbal hasilnya lebih rendah terhadap pound yang imbal hasilnya lebih tinggi. Secara historis, pada periode perbedaan kebijakan yang jelas dan bertahan lama, strategi “carry trade” (meminjam/menjual mata uang bersuku bunga rendah untuk membeli mata uang bersuku bunga tinggi) sering berkinerja baik.

Analis ING menyebut harga aluminium sempat melemah karena jaminan terkait Selat Hormuz, lalu berbalik menguat ketika kekhawatiran penutupan kembali memunculkan risiko pasokan baru

Harga aluminium LME turun lebih dari 5,5% pada Jumat setelah Iran mengatakan akan tetap membuka Selat Hormuz selama gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah. Selat itu ditutup sejak akhir Februari setelah serangan AS dan Israel ke Iran, dan harga sempat mencapai level tertinggi empat tahun pekan lalu karena pasokan terganggu.

Selat tersebut kemudian kembali ditutup pada akhir pekan, sehingga perhatian pasar kembali ke risiko pasokan dan gangguan transportasi. Timur Tengah menyumbang sekitar 9% produksi aluminium global dan menjadi sumber penting untuk Eropa.

Gangguan ini memukul produksi sekaligus pengapalan, dan aluminium kini disebut mengalami defisit struktural, yaitu kekurangan pasokan yang bersifat berkelanjutan, bukan hanya sementara. Jika gangguan berlanjut, risiko harga naik tetap besar.

Masalah di pabrik peleburan (smelter) Al Taweelah milik Emirates Global Aluminium, penurunan output di Alba, serta pembatasan produksi sebelumnya di Qatalum bisa memangkas hampir 3 mtpa kapasitas. Mtpa berarti juta ton per tahun. Jumlah ini hampir setengah produksi Timur Tengah dan dapat memperlebar defisit pasokan global menjadi 2 juta ton.

Smelter sulit dinyalakan kembali setelah berhenti, sehingga pasokan bisa tetap ketat. Harga berpotensi tetap kuat meski bergerak naik-turun dalam jangka pendek.

Ketatnya pasar bukan sekadar cerita; data menunjukkan persediaan aluminium terdaftar di LME turun di bawah 450.000 ton bulan ini, level yang tidak terlihat selama lebih dari 15 tahun. Persediaan terdaftar LME adalah stok fisik yang tercatat di gudang jaringan LME dan bisa dipakai untuk memenuhi transaksi. Kelangkaan fisik ini sempat mendorong harga ke puncak empat tahun pekan lalu, menyentuh di atas US$3.400 per ton. Faktor dasar ini mendukung pandangan bahwa penurunan harga belakangan menjadi peluang beli.

Dalam beberapa pekan ke depan, kami melihat nilai untuk membeli opsi call, yaitu kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) membeli pada harga tertentu, sehingga bisa untung jika harga melonjak. Situasi geopolitik tetap sangat tidak pasti, dan eskalasi lebih lanjut dapat memicu kenaikan cepat. Strategi ini memungkinkan potensi keuntungan besar, sambil membatasi risiko maksimum pada premi yang dibayar (biaya opsi di awal).

Kami juga mempertimbangkan bull call spread untuk menekan biaya masuk, karena volatilitas tersirat meningkat. Volatilitas tersirat adalah perkiraan besar-kecilnya pergerakan harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi. Bull call spread berarti membeli call pada harga tertentu dan menjual call lain pada harga lebih tinggi untuk mengurangi biaya, dengan konsekuensi potensi untung dibatasi. Strategi ini diuntungkan oleh kenaikan harga namun lebih murah daripada membeli call saja, sehingga lebih efisien dari sisi kebutuhan dana saat opsi mahal.

Lee Hardman dari MUFG mengatakan ketegangan di Timur Tengah mendorong dolar AS menguat, mengangkat indeks DXY menuju 98,500

Dolar AS menguat pada awal pekan, mendorong Dollar Index (DXY) kembali mendekati rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) di sekitar 98,500. Penguatan ini terjadi setelah DXY menyentuh titik terendah Jumat di 97,632, seiring kenaikan Brent dan tekanan pada mata uang komoditas yang sangat sensitif terhadap sentimen risiko (high beta).

Ketidakpastian baru soal situasi AS–Iran ikut mendorong pergerakan ini, setelah harapan sebelumnya soal meredanya ketegangan dan dibukanya kembali Selat Hormuz melemah. Laporan menyebut angkatan laut AS menembaki dan menaiki kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman, yang disebut sebagai penyitaan pertama sejak diberlakukan blokade AS di Selat tersebut.

Risiko Geopolitik Dan Penguatan Dolar

Laporan lain menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC—pasukan elite Iran) menembaki beberapa kapal komersial di Selat itu. Iran juga dilaporkan memberlakukan kembali “kontrol ketat” setelah sempat menyatakan pada Jumat bahwa mereka telah membuka kembali Selat.

Perkembangan ini meningkatkan ketidakpastian soal apakah pembicaraan lanjutan akan terjadi sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir besok. Artikel ini menyebut dibuat dengan bantuan alat AI dan ditinjau oleh editor.

Ide Lindung Nilai Berbasis Opsi

Mengingat harga minyak Brent bereaksi cepat terhadap aksi angkatan laut di Teluk Oman tahun lalu, perlu mempertimbangkan membeli opsi beli (call option—hak membeli pada harga tertentu) pada kontrak berjangka minyak (oil futures—kontrak jual beli untuk pengiriman di masa depan). Harga Brent saat ini stabil sekitar US$91 per barel, sehingga opsi beli jangka pendek menjadi cara yang relatif murah untuk bersiap jika risiko tiba-tiba melonjak. Ini menjadi lindung nilai langsung terhadap gangguan arus minyak melalui Selat.

Perlu juga mencermati pasangan mata uang yang melibatkan mata uang komoditas yang sensitif (high-beta commodity currencies—mata uang yang biasanya bergerak lebih besar saat sentimen pasar berubah), yang tertekan saat gejolak 2025. Mempertimbangkan opsi jual (put option—hak menjual pada harga tertentu) pada dolar Australia (AUD) atau dolar Selandia Baru (NZD) terhadap dolar AS bisa menjadi langkah yang lebih hati-hati. Strategi ini menjadi lindung nilai yang berpotensi menguntungkan jika terjadi arus pelarian ke aset aman (flight to safety—perpindahan dana ke aset yang dianggap aman) ke dolar dalam beberapa pekan ke depan.

Pelemahan Yen akibat lonjakan harga minyak dipicu ketegangan di Hormuz membuat sterling bertahan dekat puncak, menjaga kendali bullish

GBP/JPY naik pada Senin, mengakhiri penurunan dua hari, karena ketegangan di Selat Hormuz menjaga harga minyak tetap tinggi dan menekan yen. Yen tertekan karena Jepang sangat bergantung pada impor energi. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 214,78, setelah menyentuh 215,91 pekan lalu, level tertinggi sejak Juli 2008.

Selama akhir pekan, pembukaan singkat Selat Hormuz dibatalkan dan Iran kembali menegaskan kendali atas jalur tersebut. Iran menyebut blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhannya sebagai pelanggaran ketentuan gencatan senjata, sementara Angkatan Laut AS mencegat dan menaiki kapal kargo Iran di Teluk Oman.

Risiko Minyak Dan Kebijakan Bank Sentral

Harga minyak yang lebih tinggi menambah risiko inflasi (kenaikan harga umum yang mengurangi daya beli) dan menyulitkan perencanaan bank sentral (lembaga yang mengatur suku bunga dan pasokan uang). Kondisi ini dapat menunda pemangkasan suku bunga Bank of England (BoE), sementara di Jepang biaya impor yang lebih mahal bisa memperlambat normalisasi kebijakan Bank of Japan (BoJ), yaitu proses kembali ke kebijakan suku bunga yang lebih “biasa” setelah periode sangat longgar.

Reuters melaporkan pada Senin, mengutip lima sumber, bahwa BoJ kemungkinan menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga pada rapat mendatang. Laporan itu mengaitkannya dengan makin kecilnya peluang penyelesaian konflik Timur Tengah dalam waktu dekat.

Pekan ini, perhatian beralih ke data pasar tenaga kerja Inggris, angka inflasi, dan Penjualan Ritel, serta CPI Nasional Jepang (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi). Pada grafik, GBP/JPY berada di atas SMA 21 hari (Simple Moving Average/rata-rata pergerakan sederhana) di 212,98 dan SMA 100 hari di 211,21, dengan RSI 60,82 (Relative Strength Index/indikator momentum untuk melihat kuat-lemahnya pergerakan) dan ADX 18,90 (Average Directional Index/indikator kekuatan tren; angka rendah menandakan tren belum kuat).

Perbedaan arah kebijakan Inggris dan Jepang, yang membesar akibat harga minyak tinggi, mengindikasikan pound berpeluang tetap menguat terhadap yen. Dengan Brent baru-baru ini menyentuh level tertinggi 20 bulan di atas US$115 per barel, ketergantungan Jepang mengimpor lebih dari 99% kebutuhan minyaknya terus menekan mata uangnya. Kondisi ini membuat posisi derivatif (instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti aset acuan) yang bersifat bullish pada GBP/JPY semakin menarik.

Rencana Transaksi Dan Risiko Utama

Sebaliknya, BoJ terlihat berhati-hati menaikkan suku bunga terlalu cepat. BoJ baru keluar dari suku bunga negatif sekitar dua tahun lalu, pada Maret 2024. Kini, mahalnya impor energi berisiko menekan pertumbuhan ekonomi. Sikap menunggu ini menjadi faktor yang diperkirakan menjaga yen tetap lemah.

Dengan prospek ini, peluangnya adalah membeli opsi call (hak untuk membeli pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada GBP/JPY dengan jatuh tempo empat hingga enam minggu ke depan. Jika menembus puncak 215,91, potensi menarik lebih banyak pembeli meningkat, sehingga target ke area 218,00 menjadi masuk akal. Area penopang (support) dekat rata-rata 21 hari di sekitar 213,00 dapat dipakai sebagai level penting untuk mengevaluasi ulang posisi.

Namun, data ekonomi kunci pekan ini menjadi risiko utama strategi ini. Penurunan inflasi Inggris yang mengejutkan atau laporan tenaga kerja yang lemah bisa cepat menekan pound. Sebaliknya, inflasi Jepang yang lebih kuat dari perkiraan dapat mendorong BoJ bertindak lebih tegas, sehingga yen menguat.

Jane Foley dari Rabobank mengatakan kekhawatiran intervensi menahan USD/JPY di bawah 160 karena yen tetap menjadi mata uang terlemah di G10

Yen Jepang menjadi mata uang G10 yang paling lemah baik secara kinerja sejak awal bulan hingga sekarang maupun sejak awal tahun hingga sekarang. USD/JPY diperdagangkan sedikit di bawah 160 setelah sempat menembus 160 pada akhir bulan lalu, di tengah kekhawatiran pasar soal kemungkinan langkah dari Kementerian Keuangan Jepang jika pasangan ini naik lebih jauh.

Pertemuan kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan Federal Reserve (The Fed) AS dalam waktu dekat diperkirakan akan menentukan arah USD/JPY dalam jangka pendek. Jika BoJ tidak menaikkan suku bunga pekan depan, USD/JPY berpeluang naik di atas 160, yang bisa memicu respons dari Kementerian Keuangan.

Keputusan dan Arah Kebijakan Bank of Japan

Jika BoJ tidak mengumumkan kenaikan suku bunga pada 28 April, perhatian bisa beralih ke sinyal kebijakan (panduan arah kebijakan ke depan) bahwa kenaikan pada Juni kemungkinan besar terjadi. Tanpa kenaikan suku bunga atau sinyal yang tegas, peluang pasar untuk kembali menguji level 160 akan meningkat.

Arah pasar juga bergantung pada apakah Federal Open Market Committee (FOMC)—komite penentu suku bunga The Fed—masih memberi ruang untuk pemangkasan suku bunga tahun ini. Proyeksi utama Rabobank menempatkan USD/JPY di 158 dalam tiga bulan dan 152,00 dalam enam bulan, dengan asumsi BoJ bersikap “hawkish” (cenderung lebih ketat/menahan inflasi, biasanya lewat suku bunga lebih tinggi) dan The Fed condong ke “easing” (pelonggaran kebijakan, biasanya lewat penurunan suku bunga).

Yen kembali menjadi mata uang G10 terlemah tahun ini, sementara USD/JPY bertahan sedikit di bawah 160. Situasi ini memunculkan kembali kekhawatiran besar soal intervensi valas (aksi langsung pemerintah/otoritas di pasar valuta asing untuk menguatkan atau melemahkan mata uang) oleh Kementerian Keuangan Jepang. Pada April dan Mei 2024, otoritas menggelontorkan lebih dari ¥9 triliun untuk mendukung yen setelah menembus ambang ini.

Perhatian pasar kini tertuju pada rapat kebijakan BoJ pekan depan, yang dijadwalkan 27 April. Meski kenaikan suku bunga tidak banyak diharapkan, ketiadaan sinyal kuat untuk langkah pada Juni dapat mendorong USD/JPY menembus 160. Kenaikan seperti itu hampir pasti akan memicu reaksi dari otoritas keuangan.

Rapat Federal Reserve dan Posisi di Pasar Opsi

Rapat The Fed pada 3 Mei juga akan sangat memengaruhi arah USD/JPY. Data inflasi AS belakangan sulit turun, dengan pembacaan terakhir core PCE (inflasi inti belanja konsumsi pribadi, ukuran inflasi favorit The Fed yang mengecualikan harga pangan dan energi) di 2,8%, sehingga The Fed cenderung menahan diri untuk memberi sinyal pemangkasan suku bunga. Nada “hawkish” dari FOMC berpotensi menambah tekanan penguatan dolar terhadap yen.

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), memegang posisi long langsung (taruhan langsung bahwa USD/JPY naik, artinya beli dolar lawan yen) sangat berisiko karena ada peluang pembalikan tajam secara mendadak. Pendekatan yang dinilai lebih hati-hati adalah membeli opsi call JPY (hak untuk membeli yen pada harga tertentu) atau opsi put USD/JPY (hak untuk menjual USD/JPY pada harga tertentu), dengan jatuh tempo satu hingga tiga bulan. Strategi ini memungkinkan memperoleh keuntungan jika yen menguat, dengan batas kerugian maksimal yang jelas (premi opsi yang dibayar).

Ancaman intervensi yang terus ada membuat volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas ke depan yang tercermin dari harga opsi) tetap tinggi. Volatilitas satu bulan saat ini 11,2%, naik dari sekitar 8,5% di awal tahun. Kondisi ini membuat strategi opsi seperti straddle atau strangle (strategi membeli dua opsi untuk bertaruh pada pergerakan besar harga; straddle biasanya pada harga strike yang sama, strangle pada strike berbeda) menarik bagi pihak yang memperkirakan pergerakan besar setelah rapat bank sentral, tetapi belum yakin arahnya. Dengan begitu, pelaku dapat diuntungkan jika terjadi pergerakan besar, baik lonjakan melewati 160 maupun penurunan tajam akibat intervensi.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code