Back

Pasar Bergerak Mengikuti Sentimen Risiko Usai Menteri Iran Nyatakan Jalur Pelayaran Selat Hormuz Tetap Terbuka Selama Masa Gencatan Senjata

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada Jumat bahwa setelah gencatan senjata di Lebanon, seluruh pengapalan komersial melalui Selat Hormuz akan dibuka penuh selama sisa masa gencatan senjata. Ia mengatakan kapal akan menggunakan rute terkoordinasi yang ditetapkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran (lembaga pemerintah yang mengatur pelabuhan dan jalur pelayaran).

Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa Selat Hormuz terbuka untuk “lintasan penuh” (kapal dapat melintas tanpa pembatasan). Ia mengatakan blokade laut (pembatasan pergerakan kapal oleh angkatan laut) tetap berlaku untuk Iran sampai transaksi AS-Iran “100% selesai”, dan menyebut prosesnya harus cepat karena sebagian besar poin sudah dinegosiasikan.

Reaksi Pasar Dan Harga Saat Ini

Setelah laporan tersebut, kontrak berjangka indeks saham AS (futures, yaitu kontrak untuk membeli/menjual indeks di harga tertentu pada waktu mendatang) naik antara 0,8% hingga 1,2% pada saat publikasi. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berada di bawah 97,70, level terendah sejak akhir Februari, dan turun lebih dari 0,5% pada hari itu.

Pembukaan Selat Hormuz, meski masih ada blokade khusus terhadap Iran, berpotensi menurunkan premi risiko geopolitik (tambahan harga karena kekhawatiran konflik) yang selama ini masuk ke harga minyak. Jalur laut ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak harian dunia, dan ketegangan terbaru membuat kontrak berjangka minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) bertahan di atas US$95 per barel hingga Maret 2026. Strategi yang bisa diuntungkan dari turunnya harga minyak antara lain membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual di harga tertentu) pada kontrak berjangka minyak yang jatuh tempo dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Kabar ini juga menjadi sinyal penurunan volatilitas pasar secara luas (besarnya naik-turun harga). Indeks Volatilitas CBOE (VIX, indikator ekspektasi volatilitas pasar saham AS) berpotensi turun dari kisaran saat ini di awal 20-an, seperti saat meredanya ketegangan pada musim semi 2025 ketika turun hampir 30% dalam dua minggu. Menjual call spread out-of-the-money pada VIX (strategi opsi: menjual opsi beli dan membeli opsi beli lain di harga lebih tinggi; out-of-the-money berarti harga kesepakatan tidak menguntungkan jika dieksekusi saat ini) atau pada ETF terkait VIX (ETF, reksa dana yang diperdagangkan di bursa) dapat dimanfaatkan untuk menangkap potensi pasar yang lebih tenang.

Implikasi Untuk Suku Bunga Dan Aset Berisiko

Biaya energi yang lebih rendah membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang membebani pasar tahun ini. Dengan laporan terbaru Indeks Harga Konsumen/CPI (Consumer Price Index, ukuran inflasi harga barang dan jasa) Maret 2026 menunjukkan inflasi masih tinggi di 3,1%, perkembangan ini dapat memberi Federal Reserve (bank sentral AS) alasan lebih kuat untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga pada musim panas ini. Ini memperbaiki prospek saham, sehingga opsi beli (call option, hak untuk membeli di harga tertentu) yang bersifat bullish pada indeks S&P 500 (indeks 500 saham besar AS) menjadi lebih menarik.

Pelemahan dolar AS terjadi karena sentimen risk-on (minat investor terhadap aset berisiko) meningkat, seiring arus dana berpindah dari aset aman seperti dolar ke aset dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi. DXY turun di bawah 97,70 untuk pertama kalinya sejak Februari 2026, yang merupakan penembusan teknikal penting (level harga kunci yang ditembus). Tren ini mendukung posisi bearish pada dolar (strategi mendapat untung saat dolar melemah) melalui opsi pada ETF mata uang.

Lagarde menyampaikan kepada komite IMF bahwa inflasi ECB dapat melampaui perkiraan yang tercantum dalam proyeksi dasar (baseline) bank sentral

Christine Lagarde, Presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), menyampaikan pernyataan pada pertemuan ke-53 Komite Moneter dan Keuangan Internasional (International Monetary and Financial Committee/IMFC) IMF pada Jumat. Ia mengatakan ketidakpastian terhadap prospek inflasi zona euro meningkat setelah pecahnya perang di Timur Tengah.

Ia mengatakan risiko terhadap prospek inflasi kini condong ke arah kenaikan (upside), terutama dalam jangka dekat. Ia menambahkan, inflasi bisa lebih tinggi daripada perkiraan dasar (baseline, yaitu proyeksi utama) bila ekspektasi inflasi (perkiraan publik dan pelaku usaha soal inflasi ke depan) dan pertumbuhan upah naik lebih besar dari perkiraan.

Risiko Inflasi Zona Euro

Ia mengatakan ECB memantau situasi dengan ketat.

Ketidakpastian inflasi zona euro meningkat tajam karena konflik di Timur Tengah. Risikonya kini mengarah ke inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, terutama dalam beberapa bulan ke depan. Pasar perlu bersiap bila inflasi melampaui perkiraan dasar (overshoot), jika pertumbuhan upah dan ekspektasi publik bereaksi lebih kuat dari perkiraan.

Situasi ini makin rumit karena lonjakan harga energi. Kontrak berjangka (futures, yaitu kontrak jual-beli untuk tanggal mendatang) minyak Brent naik lebih dari 15% dalam sebulan terakhir dan diperdagangkan mendekati US$105 per barel. Ini menjadi tekanan inflasi langsung, mirip dengan pola saat krisis energi 2022. Data terbaru Eurostat menunjukkan inflasi HICP utama (headline HICP, indeks harga konsumen yang diselaraskan di Uni Eropa) naik ke 2,6% pada Maret, sehingga memperkuat sikap waspada.

ECB juga memantau efek putaran kedua (second-round effects, yaitu ketika kenaikan harga awal mendorong kenaikan upah dan biaya lain, lalu memicu kenaikan harga lanjutan). Pertumbuhan upah hasil perundingan (negotiated wage growth, kenaikan upah yang disepakati dalam perjanjian kerja) pada kuartal I 2026 tetap tinggi di 4,5%, dan inflasi inti (core inflation, inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan makanan) masih sulit turun di 2,9%. Angka-angka ini menunjukkan tekanan inflasi dasar belum mereda secepat yang diharapkan.

Implikasi Strategi Pasar

Bagi pelaku pasar suku bunga, ini berarti taruhan terhadap penurunan suku bunga yang besar perlu dikurangi. Pasar sudah menyesuaikan harga (repriced, yaitu merevisi perkiraan ke dalam harga aset), kini hanya memperkirakan penurunan 25 basis poin (basis poin/bps = 0,01%) tahun ini, turun dari 75 basis poin sebulan lalu. Posisi seperti membayar bunga tetap (paying fixed, strategi di swap untuk diuntungkan bila suku bunga naik) pada swap suku bunga euro berjangka pendek (interest rate swaps, kontrak tukar arus bunga) atau mengambil posisi jual (shorting, mencari untung saat harga turun) pada kontrak berjangka Bund Jerman (German Bund futures, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman) dapat menjadi lindung nilai (hedge, perlindungan risiko) bila suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Dengan ketidakpastian yang meningkat, membeli volatilitas (volatility, ukuran besar-kecilnya pergerakan harga) menjadi respons yang masuk akal. VSTOXX, indeks yang mengukur volatilitas pada indeks EURO STOXX 50, sudah naik ke level tertinggi sejak gejolak pasar akhir 2025. Masih ada peluang pada kepemilikan opsi (options, kontrak hak untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) yang diuntungkan dari pergerakan pasar yang makin besar.

Arah euro kini makin tidak jelas, terjepit antara dukungan dari ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan tekanan dari potensi stagflasi (stagflation, pertumbuhan lemah/mandek disertai inflasi tinggi). Karena itu, taruhan arah yang tegas menjadi berisiko. Strategi yang lebih baik adalah memperdagangkan volatilitas nilai tukar, menggunakan opsi untuk bersiap pada pergerakan besar EUR/USD tanpa bertaruh pada arah tertentu.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Analis Commerzbank: International Copper Study Group Memperkirakan Defisit Pasokan pada 2026 dan Pengetatan Berlanjut hingga 2027

International Copper Study Group (ICSG) mengubah proyeksi 2026 pada musim gugur lalu, dari perkiraan surplus menjadi perkiraan defisit. Perubahan ini mendukung ekspektasi pasar tembaga yang makin ketat.

Proyeksi pertama ICSG untuk 2027 diperkirakan menunjukkan pengetatan lanjutan, dengan kemungkinan kekurangan yang bertahan. Harga tembaga sudah pulih setelah sempat melemah pada Maret.

Produksi tembaga rafinasi (tembaga yang sudah dimurnikan hingga siap dipakai industri) di China masih diperkirakan naik. Namun, meski produksi China lebih tinggi, arah pasar tetap menyoroti keterbatasan pasokan hingga 2027.

Kami menilai prospek pasar tembaga makin ketat, dan defisit jelas terbentuk untuk sisa 2026. Pandangan ini sejalan dengan ICSG, yang juga diperkirakan memproyeksikan kekurangan lanjutan hingga 2027. Kondisi fundamental (faktor dasar seperti pasokan dan permintaan) ini menunjukkan pemulihan harga setelah koreksi (penurunan sementara) pada Maret punya dukungan yang kuat.

Untuk memperkuat pandangan ini, persediaan (stok) tembaga di LME (London Metal Exchange, bursa logam global) baru-baru ini turun ke level terendah 18 bulan sekitar 85.000 ton. Pada saat yang sama, Global Manufacturing PMI (indeks manajer pembelian manufaktur global; di atas 50 berarti aktivitas industri ekspansif/bertumbuh) bertahan di atas 50 selama tiga bulan berturut-turut. Kombinasi pasokan yang menipis dan permintaan industri yang naik mengarah pada potensi harga tetap kuat.

Bagi trader, prospek ini mengarah pada strategi untuk mengantisipasi kenaikan harga dalam beberapa pekan ke depan. Kami menilai ini saat yang tepat mempertimbangkan membeli opsi call (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli aset pada harga tertentu) atau membangun bull call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain pada harga yang lebih tinggi untuk menekan biaya dan membatasi risiko), dengan jatuh tempo kuartal III. Strategi ini memungkinkan ikut dalam reli (kenaikan) jangka menengah sambil mengelola risiko.

Melihat ke belakang, pergerakan harga hingga akhir 2025 menunjukkan pola serupa: konsolidasi (bergerak dalam kisaran sempit) lalu tren naik tajam. Rebound (pantulan naik) setelah penurunan pada Maret 2026 menegaskan minat beli masih kuat. Secara historis, ketika proyeksi pasokan mengetat sedalam ini, pergerakan harga berikutnya bisa terjadi cepat.

Permintaan dari sektor energi hijau dan teknologi terus melampaui perkiraan sebelumnya. Data penjualan EV (kendaraan listrik) global kuartal I 2026 menunjukkan kenaikan 15% secara tahunan (year-over-year, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya), dan pembangunan pusat data AI (fasilitas komputasi untuk kecerdasan buatan) menambah kebutuhan tembaga di luar perkiraan. Ini bukan tren jangka pendek, melainkan perubahan struktural (pergeseran mendasar yang cenderung bertahan lama) pada permintaan.

GBP/JPY Melemah Tipis saat Iran Mengisyaratkan Pembukaan Kembali Selat Hormuz, Harga Minyak Turun, dan Yen Mengungguli Pound Sterling

GBP/JPY melemah tipis pada Jumat dalam perdagangan yang tenang. Yen sedikit menguat karena harapan kemungkinan kesepakatan damai AS–Iran menekan harga minyak. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 215,05 setelah sempat menyentuh tertinggi harian 215,69.

Sebelumnya pekan ini, GBP/JPY mencapai 215,91, level tertinggi sejak Juli 2008, setelah kenaikan harga minyak menambah tekanan biaya impor Jepang. Pasangan ini masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan kedua.

Geopolitik Minyak dan Sensitivitas Yen

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” untuk semua kapal komersial selama gencatan senjata, sejalan dengan gencatan di Lebanon. WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak mentah AS) turun ke level terendah sejak 11 Maret dan diperdagangkan dekat US$81,50, turun hampir 9% dalam sehari.

Pada grafik harian, GBP/JPY tetap di atas SMA 20 hari (simple moving average, rata-rata pergerakan sederhana 20 hari) di 212,92 dan diperdagangkan di bawah Bollinger band atas (batas atas indikator volatilitas Bollinger Bands) di 216,39. RSI 14 hari (Relative Strength Index, indikator momentum untuk melihat kuat-lemahnya dorongan harga) berada di 63,83 dan histogram MACD (Moving Average Convergence Divergence, indikator momentum berbasis selisih rata-rata pergerakan) sekitar 0,33.

Area resistance (hambatan kenaikan) berada dekat 216,39, sedangkan level support (penopang penurunan) ada di 212,92 dan 209,45. Analisis teknikal ini dibuat dengan bantuan alat AI.

Kami mengingat pergerakan pasar pada periode serupa di 2025, ketika GBP/JPY cepat turun dari puncak beberapa tahun. Pemicu utamanya penurunan tajam harga minyak setelah Iran memberi sinyal pembukaan kembali Selat Hormuz. Ini segera menguatkan Yen karena Jepang sangat bergantung pada impor energi.

Saat ini, dengan minyak mentah WTI berada di sekitar US$85,75 per barel, kaitan geopolitik dan Yen tetap penting. Data terbaru menunjukkan Jepang masih mengimpor lebih dari 99% kebutuhan minyak mentah, dan hampir 95% berasal dari Timur Tengah. Kerentanan ini berarti gangguan atau perbaikan situasi di kawasan bisa langsung memengaruhi pasar mata uang.

Menyiapkan Posisi Menghadapi Volatilitas dengan Opsi

Bagi trader derivatif, kondisi ini membuka peluang untuk bersiap menghadapi potensi pergerakan mendadak. Meski tanpa ancaman langsung, pembicaraan diplomatik saja dapat membuat harga minyak berayun, sehingga Yen menjadi volatil (mudah berfluktuasi). Mengingat GBP/JPY belakangan bergerak dalam rentang sempit, pasar mungkin belum sepenuhnya memasukkan risiko pergerakan tajam.

Salah satu strategi adalah membeli opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk bersiap jika volatilitas pecah dari rentang. Misalnya, membeli put pada GBP/JPY (opsi jual yang nilainya naik saat harga turun) dapat memberi cara meraih peluang dengan risiko yang sudah dibatasi jika berita geopolitik positif membuat minyak turun dan Yen menguat. Ini mencerminkan pola 2025 ketika pasangan ini terkoreksi tajam.

Melihat kembali teknikal 2025, pasangan ini menemukan support kuat dekat moving average 20 harinya, bahkan saat terjadi penurunan. Ini menunjukkan trader yang menilai tren naik jangka panjang masih bertahan bisa mempertimbangkan menjual opsi put di bawah level support kunci saat ini. Strategi ini mengumpulkan premium (premi, uang yang diterima penjual opsi) sambil mengandalkan pola bahwa penurunan sering dianggap peluang beli.

Penting memantau implied volatility (volatilitas tersirat, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi), yang naik ke 10,8% untuk opsi tenor satu bulan pada pasangan ini. Ini menandakan pasar mulai mengantisipasi ayunan harga lebih besar dalam beberapa pekan ke depan. Trader perlu memantau metrik ini karena kenaikan lanjutan bisa menjadi sinyal pergerakan besar sudah dekat.

Elias Haddad dari BBH mengatakan pasar sedang berkonsolidasi, seiring investor memantau apakah gencatan senjata AS-Iran bertahan

Pasar global bergerak terbatas karena perhatian masih tertuju pada apakah gencatan senjata AS-Iran akan bertahan. Minyak mentah Brent berada di bawah $100 per barel, sementara pasar saham dan obligasi berhenti sejenak setelah kenaikan belakangan ini.

Indeks saham dunia MSCI mencapai rekor tertinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah berjangka panjang (yield, yaitu tingkat hasil yang diminta investor) sedikit turun di berbagai ekonomi utama, dan dolar AS bergerak melemah setelah sempat pulih dari penurunan hari sebelumnya.

Pasar Fokus pada Gencatan Senjata dan Energi

BBH memperkirakan dolar dalam beberapa bulan ke depan terutama dipengaruhi perbedaan suku bunga antarnegara (rate differentials, yaitu selisih tingkat bunga yang membuat arus dana berpindah ke mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi). BBH memproyeksikan DXY (Dollar Index, indeks nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan di kisaran 96,00–100,00 dalam beberapa bulan ke depan.

Bank tersebut menilai guncangan energi (energy shock, gejolak besar pada harga/pasokan energi) mungkin belum selesai, tetapi fase terburuk diperkirakan sudah lewat, dengan akhir Maret disebut sebagai titik terendah sentimen risiko (risk sentiment, selera investor terhadap aset berisiko). BBH juga tetap berpandangan dolar akan melemah dalam jangka struktural, dengan alasan kekhawatiran atas kebijakan dagang dan keamanan AS, kredibilitas fiskal AS (kemampuan pemerintah menjaga kesehatan anggaran dan utang), serta politisasi The Fed (risiko kebijakan bank sentral dipengaruhi kepentingan politik).

Kami mengingat bagaimana pasar pada 2025 bergerak terbatas di sekitar isu gencatan senjata AS-Iran, yang membantu menjaga sentimen risiko stabil dan harga minyak Brent di bawah $100 per barel untuk sementara. Namun, masa relatif tenang itu bergeser menjadi ketidakpastian baru. Dengan citra satelit terbaru yang menunjukkan aktivitas kembali di lokasi nuklir Iran, Brent merangkak naik ke $104 bulan ini, menegaskan guncangan energi belum sepenuhnya berakhir.

Penembusan Kisaran Dolar dan Perubahan Strategi

Pandangan tahun lalu bahwa Indeks Dolar (DXY) akan tetap di kisaran 96,00–100,00 terbukti menguntungkan sepanjang 2025 bagi pelaku pasar yang menjual volatilitas (selling volatility, strategi mencari untung dari perkiraan pergerakan harga akan tenang, biasanya lewat opsi). Namun, kisaran itu ditembus tegas ke bawah saat memasuki 2026, dengan DXY baru-baru ini menyentuh 94,75. Penembusan ini mengindikasikan pasar tidak lagi hanya bergerak berdasarkan selisih suku bunga semata.

Karena kisaran lama gagal bertahan, volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) pada opsi dolar mulai naik dari level rendah tahun lalu, sehingga strategi seperti menjual strangle (strategi opsi menjual call dan put sekaligus di harga berbeda untuk mendapat premi, mengandalkan harga tetap bergerak sempit) menjadi kurang menarik. Kami menilai pelaku pasar kini dapat mempertimbangkan membeli put spread (strategi opsi membeli put dan menjual put lain untuk menekan biaya, sambil membatasi risiko) pada pasangan mata uang yang dipatok ke dolar (dollar-pegged, nilai mata uang dijaga agar mengikuti dolar). Strategi ini memungkinkan posisi untuk pelemahan dolar lebih lanjut dengan risiko yang lebih terukur di situasi yang berpotensi makin bergejolak.

Argumen pelemahan dolar yang sudah lama ada kini menjadi fokus utama pasar. Kekhawatiran atas kredibilitas fiskal AS meningkat, setelah laporan terbaru Congressional Budget Office menempatkan rasio utang terhadap PDB (debt-to-GDP ratio, ukuran besarnya utang dibanding ukuran ekonomi) AS di 110%, level yang tidak terlihat sejak Perang Dunia II. Tekanan fundamental ini berpotensi menahan dolar dalam waktu lama.

Selain itu, perubahan sikap The Fed yang lebih “dovish” (dovish pivot, cenderung mendukung suku bunga lebih rendah/pengetatan lebih lambat) pada kuartal I-2026 mengubah kondisi dibanding tahun lalu. Sementara Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga, pernyataan terbaru The Fed mengikis keunggulan imbal hasil dolar (yield advantage, daya tarik karena bunga/imbal hasil lebih tinggi). Perubahan ini menjadi alasan utama mengapa dolar berhenti menguat saat data ekonomi AS melampaui perkiraan (data surprises, selisih hasil data aktual versus ekspektasi pasar).

Strategis UOB menyebut GBP/USD berbalik arah di dekat 1,3600, dengan momentum yang melemah membatasi penurunan pada kisaran 1,3495–1,3555

GBP/USD berbalik turun setelah mendekati 1,3600. Perdagangan intrahari (pergerakan harga dalam satu hari) diperkirakan tetap di kisaran 1,3495 hingga 1,3555.

Pergerakan ini terjadi setelah naik ke 1,3595, dekat batas atas rentang 1,3545 hingga 1,3600. Setelah itu, pasangan ini turun ke 1,3518.

Momentum Jangka Pendek Melemah

Dalam pandangan 1 hingga 3 minggu, momentum naik melemah dan peluang penguatan Pound lebih lanjut menurun. Penurunan di bawah 1,3480 akan mengonfirmasi bahwa kenaikan terakhir sudah berhenti.

Kami melihat pola yang umum: momentum naik Pound memudar saat mendekati resistance (area hambatan kenaikan yang sering memicu aksi jual) yang penting. Pasangan mata uang ini kesulitan menembus level 1,2800 secara tegas setelah kenaikan kuat dari bawah 1,2600 bulan lalu. Ini mengindikasikan reli (kenaikan beruntun) saat ini mulai kehilangan tenaga.

Pada situasi serupa di awal 2025, Pound sempat berbalik turun tajam setelah mendekati 1,3600. Kenaikan tertahan dan dilanjutkan konsolidasi (bergerak naik-turun dalam rentang sempit), seiring berkurangnya keyakinan pasar untuk terus membeli. Contoh historis ini membuat kami lebih berhati-hati terhadap kemampuan pasangan ini untuk naik jauh lebih tinggi dari level saat ini.

Data inflasi Inggris terbaru untuk Maret 2026, yang berada di 2,5% dan cenderung “lengket” (turun lambat dan sulit kembali ke target), menjadi pendorong utama kekuatan Pound. Namun, kabar ini tampaknya sudah sepenuhnya “diprice-in” (sudah tercermin dalam harga pasar). Akibatnya, ruang kenaikan terbatas kecuali muncul pemicu baru yang mendukung Inggris.

Dukungan Dolar Membatasi Kenaikan

Dari sisi lain, data ekonomi AS yang kuat menjadi hambatan. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP, data bulanan tenaga kerja AS di luar sektor pertanian) menunjukkan kenaikan 280.000 pekerjaan, memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga. Kekuatan dolar ini kemungkinan membatasi kenaikan GBP/USD dalam waktu dekat.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), kondisi ini mengarah pada strategi menjual premium (menjual opsi untuk menerima premi/biaya di awal). Kami melihat peluang menjual call option (opsi beli, memberi hak membeli pada harga tertentu) dengan strike price (harga kesepakatan) di 1,2850 atau lebih tinggi. Strategi ini memanfaatkan pandangan bahwa reli akan tertahan dan pasangan bergerak dalam kisaran.

Selain itu, laporan Commitment of Traders (COT, laporan posisi pelaku pasar di kontrak berjangka) menunjukkan posisi spekulatif long (taruhan naik) pada Pound berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun. Posisi yang terlalu padat seperti ini sering mendahului koreksi (penurunan sementara), karena pelemahan kecil bisa memicu gelombang aksi jual. Karena itu, perlu memantau tanda-tanda pelemahan.

Level kunci yang perlu diperhatikan adalah 1,2680, yang bertindak sebagai support (area penahan penurunan) terbaru. Penembusan tegas di bawah level ini akan mengonfirmasi bahwa kenaikan terbaru telah berakhir. Ini menandakan perubahan momentum dan meningkatkan peluang penurunan yang lebih dalam.

Washington mempertimbangkan kesepakatan Iran senilai US$20 miliar, menyusun langkah-langkah untuk mengekang pengayaan uranium dan meredakan pembicaraan konflik

AS dan Iran sedang membahas draf nota kesepahaman (MoU) tiga halaman, menurut laporan Axios. Pembahasan berfokus pada langkah-langkah terkait program nuklir Iran serta rencana yang disebut bertujuan mengakhiri konflik yang masih berlangsung.

Washington mempertimbangkan pelepasan sekitar US$20 miliar aset Iran yang dibekukan (dana yang ditahan di luar negeri dan tidak bisa digunakan Iran) sebagai imbalan Iran melepaskan stok uranium yang diperkaya (uranium dengan kadar U-235 lebih tinggi dari normal untuk mendukung program nuklir) yang diperkirakan hampir 2.000 kilogram. Axios menyebut sebagian material bisa dipindahkan ke negara ketiga, sementara sisanya “diencerkan” kadarnya (down-blended: kadar pengayaan diturunkan dengan mencampur uranium agar tidak lagi setinggi sebelumnya) di Iran di bawah pemantauan internasional (pengawasan lembaga internasional seperti IAEA).

Poin Penting dari Laporan Axios

Pembahasan juga mencakup jeda sukarela pengayaan nuklir (penghentian sementara tanpa paksaan), dengan AS mengusulkan 20 tahun dan Iran mengusulkan lima tahun. Axios melaporkan kemungkinan pembicaraan lanjutan akhir pekan ini di Islamabad, dengan Pakistan sebagai mediator (pihak penengah) dan dukungan dari Mesir serta Turki, meski perbedaan pendapat masih ada.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Jumat bahwa, sejalan dengan gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembak-menembak) di Lebanon, semua kapal komersial dapat melintas di Selat Hormuz selama sisa periode gencatan senjata.

Di pasar, Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY: ukuran nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,37% ke 97,80. Minyak WTI AS (West Texas Intermediate: patokan harga minyak mentah AS) turun 7,70% ke US$82,70, terendah dalam lebih dari satu bulan.

Kita mengingat reaksi pasar pada 2025 ketika kabar pembicaraan kesepakatan AS-Iran membuat harga minyak merosot dan dolar melemah. Penurunan awal WTI ke sekitar US$82 didorong harapan bahwa jalur aman melalui Selat Hormuz akan menjadi permanen. Seperti terlihat hari ini, optimisme itu terlalu cepat.

Konteks Pasar dan Harga Risiko

Kesepakatan menyeluruh yang dibahas tahun lalu belum sepenuhnya terwujud, membuat pasar tetap berada dalam ketidakpastian berkepanjangan. Meski konflik langsung dihindari, ketegangan yang mendasari tetap menjadi faktor penting bagi rantai pasok global (alur pengadaan hingga distribusi barang). Hingga April 2026, kepatuhan terhadap kesepakatan parsial tidak konsisten, dan pernyataan kedua pihak terus memicu risiko berita utama (headline risk: harga pasar mudah bergejolak karena judul berita).

Untuk derivatif minyak (instrumen turunan seperti kontrak berjangka dan opsi yang nilainya mengikuti harga minyak), ini berarti premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik) kembali kuat, dengan WTI kini diperdagangkan sekitar US$94 per barel. Data terbaru dari EIA (Energy Information Administration: lembaga statistik energi AS) menunjukkan persediaan global telah mengetat lebih dari 1,5 juta barel per hari pada kuartal terakhir, sehingga potensi gangguan di Selat Hormuz menjadi makin krusial. Kami menilai membeli opsi beli (call option: hak membeli pada harga tertentu) berjangka panjang pada kontrak berjangka minyak (crude futures: kontrak beli/jual minyak di masa depan) adalah strategi yang masuk akal untuk mengantisipasi eskalasi mendadak dalam beberapa pekan ke depan.

Indeks Dolar AS (DXY), yang sempat menyentuh 97,80 saat meredanya ketegangan pada 2025, kini diperdagangkan di atas 105. Ini mencerminkan pergeseran fokus dari politik Timur Tengah ke inflasi domestik yang bertahan, yang tercatat 3,2% secara tahunan (year-over-year: dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya) dalam laporan CPI Maret 2026 terbaru (CPI: indeks harga konsumen, ukuran inflasi). Arah dolar kini lebih bergantung pada keputusan suku bunga The Federal Reserve (bank sentral AS) ketimbang berita geopolitik.

Pada akhirnya, volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan besarnya naik-turun harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi) adalah hal yang perlu dipantau. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX: indikator volatilitas berbasis harga opsi minyak), yang sempat turun di bawah 35 saat pembicaraan 2025, bertahan di atas 48 sepanjang sebagian besar 2026. Ini menunjukkan pasar memperkirakan peluang besar terjadinya lonjakan atau penurunan tajam, sehingga mahal untuk “menjual volatilitas” (short volatility: posisi yang untung jika pergerakan harga kecil) dan menguntungkan bagi pemegang opsi sebagai perlindungan (hedging: strategi mengurangi risiko).

ING Perkirakan USD/CAD Turun Menjelang Akhir Tahun Seiring Pemangkasan Suku Bunga The Fed Melemahkan Dolar; Kanada Hadapi Tekanan

ING memperkirakan USD/CAD bergerak turun tipis menjelang akhir tahun, terutama karena dugaan melemahnya Dolar AS jika Federal Reserve (bank sentral AS) kembali memangkas suku bunga pada kuartal III. Pandangan ini menganggap dukungan utama bagi dolar Kanada berasal dari kebijakan suku bunga AS, bukan dari kondisi ekonomi domestik Kanada.

Prospek Kanada dinilai kurang mendukung, dengan Bank of Canada (bank sentral Kanada) fokus pada negosiasi USMCA (perjanjian dagang AS–Meksiko–Kanada) yang akan datang dan dampaknya terhadap lapangan kerja. ING menyatakan tidak memperkirakan Bank of Canada menaikkan suku bunga, meski pasar memperkirakan sekitar 30bp (basis poin; 1bp = 0,01% atau 0,0001) pengetatan sampai akhir tahun.

Possible Path For Usdcad

ING memaparkan skenario ketika harga minyak bertahan di atas level sebelum perang, sementara meredanya ketegangan meningkatkan selera risiko global (minat pelaku pasar mengambil aset berisiko). Dalam kondisi itu, ING melihat USD/CAD kembali ke 1,36 sebelum risiko terkait USMCA meningkat.

Secara historis, pandangan tahun lalu bahwa dolar AS akan melemah setelah The Fed mulai menurunkan suku bunga terbukti, seperti yang terjadi pada kuartal III 2025. Pergerakan itu sempat menekan USD/CAD, namun setelahnya pasangan ini perlahan naik. Kini, dengan USD/CAD di sekitar 1,3750, situasinya lebih rumit.

Pendorong utama bergeser dari siklus pelonggaran The Fed yang jelas menjadi ketidakpastian kebijakan di kedua negara. Data inflasi AS terbaru, seperti CPI (indeks harga konsumen; ukuran inflasi) bulan Maret yang bertahan tinggi di 3,1%, membuat The Fed menahan langkah dan menegaskan pendekatan berbasis data (keputusan mengikuti data ekonomi terbaru). Sementara itu, Labour Force Survey Kanada (survei pasar tenaga kerja) menunjukkan pertumbuhan pekerjaan hanya 15.000, memicu spekulasi Bank of Canada mungkin perlu memangkas suku bunga lebih dulu daripada The Fed.

Trade Review Volatility Setup

Harga minyak memberi dukungan bagi loonie (julukan dolar Kanada), dengan WTI crude (minyak mentah acuan AS) bertahan di dekat US$88 per barel, jauh di atas level sebelum 2022. Secara teori, ini semestinya menekan USD/CAD. Namun dampak positif itu tertahan oleh kekhawatiran terhadap ekonomi domestik Kanada.

Tinjauan perjanjian dagang USMCA yang dijadwalkan Juli 2026 kini menjadi risiko terbesar. Suara politik dari Washington meningkat dan menambah ketidakpastian bagi ekspor serta investasi Kanada. Kondisi ini membuat pelaku pasar enggan menahan posisi beli dolar Kanada (taruhan dolar Kanada akan menguat).

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), kondisi ini mengarah pada strategi membeli opsi call USD/CAD (hak membeli di harga tertentu) dengan strike 1,3900 (harga patokan opsi), jatuh tempo dalam dua bulan. Strategi ini berpotensi untung jika USD/CAD melonjak akibat berita USMCA yang negatif atau data ekonomi Kanada yang lemah. Risikonya terbatas pada premi opsi (biaya yang dibayar untuk membeli opsi) bila USD/CAD justru turun.

Dengan sinyal yang saling bertentangan, volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga yang tercermin pada harga opsi) juga berpotensi naik menjelang tinjauan dagang. Strategi lain adalah membeli long straddle (membeli opsi call dan opsi put sekaligus pada strike yang sama; put adalah hak menjual). Posisi ini untung jika terjadi pergerakan harga besar ke salah satu arah, memanfaatkan meningkatnya ketidakpastian.

Sambil menanti perkembangan terbaru di Timur Tengah, Dolar Selandia Baru melemah terhadap Dolar AS, mendekati 0,5885 di bawah 0,5900

NZD/USD diperdagangkan di dekat 0,5885 pada Jumat setelah turun dari level tertinggi bulanan sekitar 0,5920 pada awal pekan. Pelemahan ini tetap bertahan di atas 0,5880, sehingga pasangan ini masih berada di bawah 0,5900.

Pasar tetap berhati-hati menjelang pembicaraan akhir pekan antara AS dan Iran. Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon dimulai pada Kamis.

Risiko Geopolitik Menjadi Sorotan

Reuters melaporkan, mengutip sumber Iran, bahwa negosiator AS dan Iran telah menurunkan target untuk kesepakatan jangka panjang. Kini mereka mengejar nota kesepahaman sementara (memorandum, yaitu dokumen kesepakatan awal yang tidak selalu mengikat seperti perjanjian resmi) untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Kalender data Jumat relatif sepi, dengan perhatian pada pernyataan Presiden The Fed San Francisco Mary Daly dan Gubernur The Fed Christopher Waller. CME FedWatch menunjukkan pasar kontrak berjangka (futures, yaitu kontrak keuangan untuk harga di masa depan) sepenuhnya memperkirakan suku bunga tidak berubah pada rapat 30 April.

Perkiraan peluang pemangkasan suku bunga AS lebih lanjut tahun ini turun ke sekitar 30% dari lebih dari 60% sebulan sebelumnya. Laporan tersebut mengaitkan perubahan ini dengan tekanan inflasi pada Maret yang terkait perang Iran.

NZD dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Selandia Baru, kebijakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), permintaan China, dan harga produk susu. RBNZ menargetkan inflasi 1%–3% dengan tujuan mendekati 2%, dan selisih suku bunga dibanding AS dapat memengaruhi NZD/USD.

Dorongan Berlawanan pada NZDUSD

Pasar kembali mengingat situasi menegangkan tahun lalu saat menunggu nota kesepahaman AS-Iran, yang sempat menenangkan pasar. Kini, ketegangan baru di jalur pelayaran utama mendorong lonjakan minyak 6% pekan lalu ke atas US$92 per barel, sehingga sikap menghindari risiko (risk aversion, yaitu investor cenderung menjauh dari aset berisiko) kembali muncul. Kondisi ini mirip dengan ketidakpastian pada 2025, sehingga peralihan dana ke aset aman seperti Dolar AS (flight to safety, yaitu perpindahan modal ke aset yang dianggap aman) berpeluang terjadi.

Sikap Federal Reserve (bank sentral AS) masih sama: ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali mundur, seperti saat konflik tahun lalu. Data CME FedWatch Tool saat ini menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga pada Juni 2026 hanya 25%, turun tajam dari 65% pada awal tahun setelah inflasi Maret lebih tinggi dari perkiraan. Ini memperkuat Dolar AS, sehingga menjadi mata uang dominan di banyak pasangan.

Dari sisi Selandia Baru, faktor dasar (fundamental, yaitu kondisi ekonomi yang mendasari pergerakan mata uang) terlihat lebih mendukung dibanding awal 2025. PDB China kuartal I 2026 tercatat 5,2% di atas perkiraan dan lelang Global Dairy Trade terbaru menunjukkan harga naik untuk keempat kalinya berturut-turut. Faktor ini memberi penopang bagi Dolar Selandia Baru (Kiwi), sehingga tidak jatuh dalam terhadap penguatan Dolar AS secara luas.

Kondisi ini menciptakan tarik-menarik untuk NZD/USD, saat penguatan Dolar AS berhadapan dengan fundamental Selandia Baru yang cukup tahan banting. Terlihat volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan pasar atas besar kecilnya pergerakan harga ke depan) untuk opsi NZD/USD tenor satu bulan naik, menandakan pelaku pasar memperkirakan pergerakan lebih besar tanpa arah yang jelas. Karena itu, strategi yang diuntungkan dari pergerakan dalam kisaran tetapi berpotensi berayun tajam, seperti membeli strangle option (strategi opsi membeli call dan put pada harga dan jatuh tempo yang sama, untuk mengambil peluang lonjakan naik atau turun), dapat dipertimbangkan.

Strategis UOB menyatakan GBP/USD kehilangan momentum setelah 1,3600, dengan penurunan kemungkinan terbatas pada kisaran 1,3495–1,3555

GBP/USD berbalik arah setelah mendekati 1,3600 lalu turun kembali. Pergerakan hari ini diperkirakan tetap di kisaran 1,3495 hingga 1,3555. Kisaran yang diproyeksikan sebelumnya, 1,3545 hingga 1,3600, terbukti bertahan, dengan harga tertinggi 1,3595 dan terendah 1,3518.

Momentum turun sedikit menguat, tetapi belum cukup kuat untuk mengarah pada penurunan yang berkelanjutan. Jika ada pelemahan lanjutan, diperkirakan masih menjadi bagian dari kisaran 1,3495 hingga 1,3555, dan penembusan yang jelas di bawah 1,3495 dinilai kecil kemungkinannya.

Prospek Kisaran Perdagangan Jangka Pendek

Dalam 1 hingga 3 minggu ke depan, momentum naik disebut melemah dan peluang penguatan lanjutan Pound berkurang. Pergerakan di bawah 1,3480 akan menandakan kenaikan sebelumnya mulai tertahan.

Laporan tersebut mencatat artikel dibuat menggunakan alat AI (kecerdasan buatan, yaitu perangkat lunak yang menghasilkan teks otomatis berdasarkan data) dan diperiksa oleh editor.

Kenaikan kuat Pound terhadap Dolar tampak kehilangan tenaga setelah nyaris menyentuh 1,3600. Terjadi koreksi tajam, menunjukkan pasangan ini lebih berpeluang bergerak mendatar. Dalam waktu dekat, penurunan tambahan diperkirakan tertahan di sekitar 1,3495 (level “lantai”, yakni area yang sering menahan penurunan).

Dengan perkiraan pasar bergerak dalam rentang 1,3495–1,3555 (range-bound, artinya harga cenderung bolak-balik dalam batas tertentu), strategi menjual opsi bisa dipertimbangkan. Salah satu pendekatan adalah menjual strangle jangka pendek (strategi opsi dengan menjual opsi beli/call dan opsi jual/put sekaligus pada harga kesepakatan berbeda). Contohnya, menjual call dengan strike (harga kesepakatan) di atas 1,3600 dan menjual put dengan strike di bawah 1,3480. Strategi ini biasanya diuntungkan oleh berjalannya waktu (time decay, nilai opsi menyusut seiring mendekati jatuh tempo) dan volatilitas yang menurun (volatilitas adalah besar-kecilnya fluktuasi harga), selama GBP/USD tetap berada dalam saluran yang lebih lebar tersebut.

Faktor Latar Makro Utama

Prospek ini didukung data ekonomi terbaru yang dirilis April 2026, yang menunjukkan inflasi Inggris turun ke 2,8%, sedikit di bawah perkiraan, sehingga mengurangi urgensi bagi Bank of England (bank sentral Inggris) untuk bertindak. Sementara itu, data ketenagakerjaan AS yang kuat pekan lalu terus menopang Dolar, menjadi hambatan (headwind, faktor penekan) bagi Pound. Lingkungan ini berbeda dari tren yang lebih jelas dan didorong inflasi seperti yang terjadi pada 2024.

Level penting untuk dipantau dalam 1–3 minggu ke depan adalah 1,3480. Penembusan tegas (decisive break, penurunan yang jelas dan bertahan, bukan sekadar menyentuh sesaat) di bawah level ini akan menandakan kenaikan terbaru sudah berakhir dan tren turun baru mungkin mulai terbentuk. Jika itu terjadi, posisi strategi berbasis kisaran perlu ditutup dan bisa mempertimbangkan membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) untuk mengambil posisi atas pelemahan Sterling lebih lanjut.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code